
Kata 'baiklah' memunculkan tanda tanya, tapi seketika terjawab akibat
Xing'er yang melesat ke area hitam lagi.
Dia menganggap semua kata di belakangnya hanya angin lalu. Lin qili mendecak dan berakhir mengikuti. Dan akhirnya semuanya juga mengikuti.
Memang setia kawan. Bodoh satu, bodoh seribu.
Warna hitam yang terbelah tidak menghasilkan apa-apa. Hanya membuang tenaga saja. Warna hitam itu seolah buta, dan tuli saat pedang mengarah kepadanya, dan terus melayang maju mendekati Lu wei.
Beberapa menit berlalu dan kata bodoh masih menjadi penggambarannya. Lu wei membuka mata, dan mengeluarkan kata. "Apakah otak kalian menguap? Pergi, Bodoh."
Semua teman-temannya membentuk perisai di setiap sisi, membuatnya ingin erosi.
Xing'er hendak menyahut tapi berganti melotot saat netranya tidak menangkap wajah Lu wei.
__ADS_1
Dia terhenyak dan mengumpat. Semua yang mendengar juga ikut terkesiap. Waktu untuk menyelidiki dan mencari terhambat karna warna hitam.
"Sialan!"
Rasanya umpatan saja tidak cukup. Lu wei masih berusaha berdiri. Dia mencebik dengan urat nadi tercetak di pepilisnya. Mengibaskan lengan dan sesuatu berwarna merah terciprat kemana-mana. Memeras kain baju, dan warna yang mengalir juga warna merah.
Lu wei melotot karna semua yang melekat pada dirinya telah basah dengan warna merah, dirinya berbau besi sekarang. Hanfu berwarna hitam yang dikenakannya membuat warna merah menjadi tua.
Astaga, rasanya air surgawi saja tidak cukup untuk membersihkannya.
Dia mendongak berakhir memicing. Menatap ke bawah, dia mendapati genangan darah dan warna merah yang terus menetes dari bajunya. "Apa-apaan ini? Kemana para anak nakal itu?"
Anak nakal, Anak kecil, ya. Saat dia tengah menumpahkan kekesalnnya tadi, tanpa di sadari pihak ketiga telah ada.
Kakinya ditangkap dan ditarik. Yang lebih tidak elit lagi, tubuhnya di bawa terbang dengan posisi sungsang. Dia masih merasakan pusing dan mual karna itu.
__ADS_1
Li na bahkan masih mengumpat karna itu.
Lu wei mengangkat alis dan bergumam, "Haruskah?"
Haruskah, haruskah apa? Awalnya emosi mendominasi dalam perkataan Li na, tapi entah mengapa dia seolah tunduk akan sesuatu. Rasa tenang membanjiri meridian. Lu Wei masih berdiri, tapi matanya terpejam.
Rasa penasaran Li na di jawab saat Lu wei membuka mata.
B-bayangan ... B-bayanganmu, apa yang t-terjadi? Tak ayal, dia kembali merasa dungu.
Lu wei tersenyum tipis dan beralih berbalik mencari tempat sembunyi. Bayangannya, di sana, masih tak bergoyang sedikitpun tapi itu tak berlaku dua menit pun!
Puluhan bayangan menyerbu dari seluruh arah, menerjang bagai harimau, menggerumuti dengan rakus bagai semut.
Bayangan-bayangan itu mendorong dan melesat, membuat Lu wei ikut membelah angin.
__ADS_1
Suasananya begitu heboh, dengan banyak hal yang tumpang tindih, bersliweran. Sementara ketakutan dibenak setiap orang tidak bisa disembunyikan meski mereka menimpanya dengan daging atau menyembunyikannya ke tulang. Mereka hanya daun-daun muda, akan menakjubkan jika mereka akan bersifat biasa saja, tangkis saja, lawan saja, tetapi ada keraguan mengenai kemampuan dalam melawan, dan ketidak tahuan beberapa hal. Namun, apa yang mereka ketahui tentang hasil akhir? Bukankah mereka belum mencoba---ralat, sedang mencoba. Oleh karena itu, apakah mereka mendapatkan hasil yang baik dengan semua keraguan, ketakutan, dan ketidakmampuan mereka?