Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
28


__ADS_3

26


Suaranya dihaluskan sedemikian rupa untuk menyembunyikan rasa kesalnya. "Tidak ada kembalian, totalnya duabelas koin emas."


Tuan muda qing sontak membeku. Rasa panas menggelitik pipinya, pigmen merah akhirnya muncul. Dia tersipu.


Sedangkan li na sudah tertawa di hati sampai seolah dia akan mati. Astaga! Mampus! Makan rasa malu itu! Aduh! Perutku sakit! Aaahh! Hahahahahaha!!!


Setelah berdehem untuk melonggarkan tenggorokan. Tuan muda qing bersusah payah menjaga wibawanya lewat perkataannya. "Kalau begitu aku akan membayarnya dengan limabelas koin emas, bagaimana?."


Penjual tadi memang pandai. Ya, pandai menjaga wajah. Awalnya, kilasan tidak suka relatif menyombongkan diri mampir ke wajahnya. Namun, dengan cepat dia mengalihkan opsi, mengganti wajah penuh binar kesukaan yang memualkan.


"Tuan muda memang murah hati! Karna anda sudah membeli semuanya akan tidak sopan bagi saya jika saya tidak memberikan hadiah kecil."

__ADS_1


Detik berikutnya, satu remaja perempuan yang sedari tadi bertengger di sisi pedagang tadi ambruk dengan posisi kepala yang mencium tanah. Bisa dilihat seberapa mengerikan hidup remaja itu dari penampilannya.


"Ini, kuberikan bonus. Dia pandai 'melayani' dalam bidang apapun. Kuharap anda mau memberi saya muka dengan menerimanya." Penjual tadi membungkuk rendah setelahnya. Senyum yang dia buat biasa saja sangat menggugah hasrat mencincang orang milik li na.


Perempuan pelayan itu mencoba bangun, dia mendongak saat telapak tangan dengan kulit sehalus keramik terjulur tepat di depan wajahnya. Senyuman tanpa niat lain selain senyuman, menyapa penglihatannya untuk pertama kali. Sangat tulus. Matanya sedikit merasa tidak pantas menerima senyuman itu.


Senyuman masih tersungging dengan baik. Li na berkata, "Butuh bantuan?"


Gemetar, dia gemetar. Tanpa menunda, gadis tadi bersujud. Membenturkan keningnya sekeras mungkin pada tanah seraya menyunggingkan kata 'maaf'.


Agaknya otak lu naa sedang lelah saat ini. Dia tidak ambil pusing dengan balasan berlebihan gadis itu. Dia menghela nafas sebelum berucap, "Jika kau ingin mendapatkan maaf, maka bangunlah."


Seolah dirinya baru saja membangkitkan robot, gadis pelayan itu sontak berdiri tegak. Setegak tiang listrik, li na agak khawatir mengenai keadaan tulang gadis tersebut. Pasalnya saat dia bersujud, getaran yang menyelimuti tubuhnya seolah meremukan tulang remaja itu.

__ADS_1


Gelegar tawa mengguncang senja. Pedagang tadi masih tertawa saat dirinya mulai membersihkan kios dadakannya itu. Memaksakan koin emas yang memberontak menolak masuk karung. Karung penuh dengan emas, perak, tembaga itu membuat li na iri. Sampai rasanya diafragma miliknya sesak.


"Benar-benar hari yang beruntung," lirih pedagang itu.


Setelah badan penuh lemak itu berdiri seutuhnya, penjual tadi berkata, "Terimakasih, yang rendah ini sangat berterima kasih pada Tuan muda yang terhormat. Semoga anda diberkahi dewa." Dia membungkuk setelahnya.


"Tidak perlu merendah, karna kau memang sudah rendah. Apa kau tidak takut jatuh ketanah?"


Wooahh, apa aku baru saja ungkapan kepedulian sekaligus cercaan? Tidak kusangka pria butuh cinta itu pandai bersilat lidah. Li na menyeringai pendek saat mendengar deru nafas yang berat dibebani oleh amarah di sekitarnya.


Pedagang tadi masih menunduk. Orang itu berusaha sekuat tenaga menetralkan nadanya saat berbicara. "Anda memang baik. Saya izin pergi."


Dan dia akhirnya pergi

__ADS_1


__ADS_2