Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
119


__ADS_3

Lu wei menghela nafas, dan Li na berakhir rileks.


Suara tawa memikat semua kepala. Itu si Shidi. "Bahahahahahaha kau takut cacing? Ya ampun! Ini akan menjadi sihir ajaib! Wahahahah! Senior takut cacing, senior takut cacing, senior takut cacing! Yahahahahah! Takut cacing!"


Ucapan---ledekan itu membuat urat persegi muncul di pelipis Lu wei. Api imajiner menyala di matanya.


Ledekan itu semakin menjadi-jadi.


"Lu wei takut cacing, Lu wei takut cacing."


"Si wanita busuk takut cacing, takut cacing."


"Senior takut cacing."


"Senior takut cacing."


"Senior takut cacing."


"Hahahhahahaha."


Meledak sudah gunung api imajiner yang menjadi latar belakang Lu wei. Lu wei menyentak, "DIAM!"


Namun, apa itu berguna? Mereka itu tuman.

__ADS_1


"Senior takut cacing."


"Lu wei takut cacing."


"Seniot takut----"


"Aku tidak takut, aku hanya jijik! Diamlah! Suara kalian memuakkan."


Sudah kuberitahukan, mereka tuman. Kenapa kau masih bersikeras?


"Lu wei takut cacing."


"Senior takut cacing."


Namun, saat matanya bergulir menatap seseorang yang difavoritkan, senyum sinis itu membeku. Digantikan mata yang melotot.


Sudut mulut yang terangkat di wajah lin Qingxuan adalah impiannya! Sesuatu yang selalu coba ia raih! Dia hampir pingsan karna terkejut, marah, juga terpesona dalam waktu yang sama. Walau sudut mulut itu menaik tak seberapa, tapi pesonanya tak terhingga!


Pinggul bergoyang juga tarian acak yang dilakukan beberapa murid membuat seseorang tidak tahan. "Ahaha, aiyo teman-teman semuanya, bisa hentikan dulu dan ingat tempat juga waktu. Tutup mulutmu, luruskan pinggang dan pinggulmu, karna ini bukan panggung sirkus. Dan ingat, kalian seharusnya jaga sikap." Aaaa, A-Li lope lope ummuach! Bisakah orang tua ini dikaruniai teman sebaik dia? Kenapa semua temanku tidak sepersis dia?


Lin Qili merangkul pundak Lu wei dan menepuknya pelan, seraya bergumam. "Aku akan membantumu mengumpulkan Air Surgawi."


Lu wei menjawab, "Kau memang harus, dan pastikan banyak. Aku butuh beberapa ember untuk mandi."

__ADS_1


Lin qili tiba-tiba terkesiap, dia melepaskan rangkulan itu membuat Lu wei sontak bertanya. "Kau kenapa?"


"A–aku, aku harus jaga sikap!"


Lu wei mengernyit dan menjawab, "Kau aneh, seperti kau tidak pernah melakukan yang lebih saja."


Lin qili mendelik, dia tergagap. "H–hei----"


Awalnya lin qili yang terancam nasibnya, tapi sesuatu yang memotong interaksi itu membuat hal yang lebih buruk, kini semua nasib murid dipertaruhkan lagi.


Cahaya datang tiba-tiba menyiksa netra lagi, ditemani teriakan yang menyiksa telinga juga batin.


"BERHENTI! KAU MENCURI HATIKU!"


Lu weu terhenyak, menoleh patah-patah dan meneguk ludah susah payah saat melihat sesuatu itu.


Dia terkekeh pendek, "Aiyo, kenapa pelit sekali?"


"KEMBALIKAN JUGA GINJALKU!"


Satu hantu saja sudah merepotkan, ini malah dua. Cahaya yang membingkai dua hantu itu hampir retak membuat pedang teracung tegak.


Lu wei menampilkan dua kantong berisi organ-organ itu dan membuat keduanya melompat berakhir menghapainya lagi. Dia mengambil kesimpulan. "Dengar, aku adalah pencuri yang berpendirian. Jika aku tidak dapat, maka yang lain juga tidak berhak dapat."

__ADS_1


Sejurus kemudian dua kantong itu dilesatkan. Begitu cepat, dan tepat. Hantu-hantu yang utuh harus menyopot gelar utuh. Mereka hancur menjadi serpihan


__ADS_2