
Aksi mengeluarkan emosi belum ingin diakhiri, tapi sebuah kejadian memaksanya berakhir. Murid-murid yang mulutnya terisi penuh dengan cabai tadi berubah berisi teriakan juga umpatan. Sama seperti tadi, di kocok, dan berakhir jatuh.
"Nomer urut 13. Silahkan menikmati dan berterimakasih padaku."
Murid itu memiliki dua perbedaan dengan murid sebelumnya. Gender, juga kesempatan untuk mengumpat. "POHON LAKNAT! SIALAN!"
Baiklah mari fokuskan pada yang seharusnya dijadikan fokus utama. Orang tua ini tidak setia pada sang MC, terlalu banyak kata yang dipersembahkan untuk orang lain. Oke, maaf.
Satu selesai, satu dimulai, satu selesai, satu dimulai. Hal yang Lu wei petik dari semua pengujianbitu adalah ....
- Rata-rata anak laki-laki lebih mementingkan mata, sedangkan perempuan lebih mementingkan lambung
- Kebanyakan murid perempuan juga menyukai fisik tapi tidak sampai seburuk laki-laki, karna mereka lebih suka uang
- Kata tampan tidaklah berguna jika tidak kaya (Bagi perempuan). Cantik akan membuat mata melirik (Bagi laki-laki)
Lu wei mengelus janggut dan mengangguk. "Baik, Baik, Baik, semuanya hanya berputar di kata tidak tulus dan kurang tulus, aku berharap ada seseorang yang tulus. Aku akan memberinya Piagam atau membuat Prasasti untuknya?" Diakhir kata, dia tergelak sampai rasanya paru-parunya merosot ke perut. Oh, bukan hanya dia saja, Li na juga sama.
Pengujian gratis, yang berminat silahkan merapar. Hanya perlu meminjam pintu kemana saja milik doraemon. Syarat untuk masuk adalah:
__ADS_1
Membuat masalah.
Baca poin kesatu
__ADS_1
Sekian, terima cuan.
"Selanjutnya, nomor urut 3."
Satu tubuh terlempar bagai upil yang terslentik dari jari. Tanpa dia mendongak pun, semua orang telah mengetahui siapa yang diberi gambaran upil oleh orang tua ini.
Tubuhnya naik, dan hasil pengujian mulai diperlihatkan.
Apel, lagi. Tidak perlu berpikir keras apa yang akan tercermin di apel itu. Apel emas, sama seperti seseorang yang terpantul di dalamnya.
Dia sering dijuluki anak emas, kekuatan emas, keturunan emas, darah emas, serba emas. Seolah dewa ingin memperlihatkan toko emas berjalan lewat dirinya.
Kilau giok hanya menyilakukan mata, lain dengan si dia yang menyilaukan jiwa. Di bawah alis jernih nan indah, tertanam mata rubah yang berkilat bagai Phoenix api, bulu mata menawan membingkai bagai tirai. Melihat matanya saja mungkin sudah bisa memiringkan otak, tapi sifatnya bisa menghancurkan otak.
Apa gunanya penggambaran di atas? Bagi Lu wei orang itu tidaklah lebih dari orang-orangan sawah, atau orang yang tidak punya aliran darah. Si sialan yang terus membuatnya emosian, si bangsat yang membuatnya meningkat pesat, sumber emosi yang selalu membuatnya terdistorsi. Emas, giok, phei!
Lu wei bahkan pernah membuat ini untuknya, 'Yang mulia Pangeran Pertama, Lin Qingxuan, dia adalah Emas yang sangat berkilau, berwarna kuning yang mengagumkan. Sangat mencolok di perairan' saat itu hadiah yang di dapat adalah nyinyiran, tapi bukan itu yang menjadi kepuasan. Kepuasannya didapat dari tawa lepas kakaknya, uh mengenang memori itu rasanya nano nano. Setelah sebal, berganti senang. Jangan tanya reaksi Li na apa, dia tentu saja ingin banting diri saking tidak kuatnya tawa yang menyiksanya.
Ya, orang yang tercermin di apel itu tidak lain dan tidak bukan adalah Lin Qingxuan. Si emas yang mencolok di perairan.
__ADS_1