Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
108


__ADS_3

Suara Pohon Cinta kembali mengudara. "Hasil pengujian kedua telah tiba, menurut analisis, anda adalah orang yang selalu berpikir semuanya harus begini, semuanya harus begitu, terlalu memikirkan kesempurnaan sampai lupa orang lain. Anda dianjurkan memudarkan kebiasaan itu. Oh, benar, anda juga terkesan terobsesi."


Lu wei bersorak tanpa suara, semakin kesini semakin banyak bukti. Tidak sia-sia dia membawa kantong data. Dengan semua ini ditangannya, jika suatu keaadaan kakaknya dipermalukan lagi oleh para anjing yang baik hati, dia hanya tinggal membuka tali kantong itu dan semuanya akan berbalik. Dia akhirnya menerbitkan smirk.


Pengujian ketiga, huh, akhirnya ada yang sampai sini. Lu wei benar-benar kagum dengan kesopanan tersembunyi para murid yang dikiranya berbudi luhur. Bisa-bisanya mereka memilih tidak menjawab ini, padahal jika mereka menjawab, hiburan bagi Lu wei akan bertambah. Ck, sayang sekali, tapi jangan bersedih hati, setidaknya masih ada Jin Huang.


Pemandangan yang ada sungguh menyilaukan mata, pemandangan yang seolah dilukis para dewa. Dua insan menunggangi kuda yang berbeda ditemani tawa, tapi hanya satu, yang satunya lagi bahkan tidak ada emosi di mukanya.


Itu Lin Qingxuandan Jin Huang. Awalnya pemandangan itu membuat orang silau karna gigi Jin Huang yang berulang kali memantulkan cahaya matahari, tapi hal berikutnya yang dilakukan Jin Xiang benar-benar bisa menjatuhkan rahang.


Coba tebak?

__ADS_1


Hey, hey, otakmu pergi kemana? AkuĀ  menyuruhmu berpikir cepat kenapa jadi luas sekali, belum saatnya traveling, Kawan. Yang kalian duga salah semua.


Biar Orang Tua ini terangkan.


Jari kelingking yang tampaknya seindah giok putih terangkat dan menelusuri sebuah gua. Yang di dalamnya dihiasi rerumputan berwarna hitam, gua itu tidak terlalu luas, semakin ke atas semakin memmbuat susah bernafas. Iya, itu hidung.


Sudah mengerti?


Kuberi waktu. Sepuluh detik. Sepuluh----satu!


Ohhh bukan itu saja! Astaga! Upil itu dislentik dan mendarat sopan di bahu Jin Huang. Kejadian itu terproses lama di otak Jin Huang yang mengakibatkan dia tanpa sadar bertanya, "Ini apa?"

__ADS_1


Lin Qingxuan menjawab, "Upil."


Omo! Ahahahah aku tidak tahu harus mengumpat atau bersyukur diberi pemandangan ini.


Semua kepala yang menangkap pemandangan itu tidak mampu untuk menolak bahwa mereka terkejut, dibuktikan dari mata yang seolah mencoba lepas dari saraf mata, mulut yang menganga dan tersedak tak henti-henti.


Ekspresi muka Lin Qingxuan? Jangan ditanya, tentu saja masih datar. Namun, datar atau tidaknya wajahnya, Lu wei pastikan separuh rohnya sudah menguap.


Jin Huanh loading cukup lama sampai akhirnya dia memekik kaget. Jangan tanya seberapa besar tawa Lu Wei saat melihat wajah terkejut Jin Huang. Aduh, jika begini terus dia terancam mati karna terlalu banyak tertawa.


Jin Huang meloncat dari kudanya, dan berakhir pergi dengan sejuta keterkejutan. Meninggalkan Lin Qingxuan yang masih belum menanggalkan raut datarnya.

__ADS_1


Raut datar itu adalah pemandangan terakhir sebelum layar menampilkan gambar lainnya.


Sebuah hutan terpapar di susul teriakan yang mengguncang angin. Terungkap sudah siapa yang memiliki teriakan membahana itu. Jin Huang lari tergopoh-gopoh, wajahnya dilumuri keringat, rambutnya acak-acakan seperti gembel tapi tetap cantik. Sesuatu di belakangnya sungguh mengerikan. Bukan karna wujudnya tapi adalah karna dia adalah siapa. Sebuah gumpalan seperti permen kapas terlihat indah dengan warna merah tua hampir hitam atau malah hitam yang memikat, tapi apa yang bisa dilakukannya sungguh membuat orang tercekik.


__ADS_2