Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
58


__ADS_3

56


"Akan lebih baik rasanya memberantas dengan membunuh diganti menjadi mencegah atau memulihkan, dan jika sudah terlanjur petiklah sesuatu dari pengalaman itu. Memangnya dalam hidup ini siapa yang tidak mengalami melakukan tindakan tidak benar? Jika putih ada, hitam juga pasti ada! Mereka jelas-jelas saling melengkapi dan menyeimbangkan. Kadang juga sering berkamuflase, dikira putih ternyata hitam, siapa yang tahu apa yang sebenarnya. Jadi, siapa yang berbicara tanpa otak di sana tadi?"


Kerikil yang menghiasi tanah ia tendang seiring berjalan. Dia akhirnya hanya bisa sabar. Rasa kantuk kembali menyerangnya, ini karna semalam.


Semalaman penuh dia meneliti suatu hal, dan tentu saja sesuatu yang penting.


Waktu bebas ini tentu saja digunakan untuk kebahagiaan. Entah itu mencari bahan umpan ikan, memetik buah-buahan untuk diberikan kakaknya, atau hanya sekedar tidur dipohon juga sudah cukup membuatnya bahagia. Beginikah definisi bahagia itu sederhana? Kenapa deskripsinya begitu indah, bukankah dia itu dihukum? Ingatkan dia untuk menyalin isi buku apalah itu namanya.


Hatinya yang sedari tadi diselimuti rasa senang berganti tegang saat melihat suatu pemandangan.

__ADS_1


Semalaman penuh dia meneliti suatu hal, dan tentu saja sesuatu yang penting.


Waktu bebas ini tentu saja digunakan untuk kebahagiaan. Entah itu mencari bahan umpan ikan, memetik buah-buahan untuk diberikan kakaknya, atau hanya sekedar tidur dipohon juga sudah cukup membuatnya bahagia. Beginikah definisi bahagia itu sederhana? Kenapa deskripsinya begitu indah, bukankah dia itu dihukum? Ingatkan dia untuk menyalin isi buku apalah itu namanya.


"Akan lebih baik rasanya memberantas dengan membunuh diganti menjadi mencegah atau memulihkan, dan jika sudah terlanjur petiklah sesuatu dari pengalaman itu. Memangnya dalam hidup ini siapa yang tidak mengalami melakukan tindakan tidak benar? Jika putih ada, hitam juga pasti ada! Mereka jelas-jelas saling melengkapi dan menyeimbangkan. Kadang juga sering berkamuflase, dikira putih ternyata hitam, siapa yang tahu apa yang sebenarnya. Jadi, siapa yang berbicara tanpa otak di sana tadi?"


Kerikil yang menghiasi tanah ia tendang seiring berjalan. Dia akhirnya hanya bisa sabar. Rasa kantuk kembali menyerangnya, ini karna semalam.


Lu wei kembali tertawa saat melihat semua itu runtuh. Sebuah kuas yang dilempar kepadanya membuat rasa puas menghinggapi sanubari. Sayangnya itu tak menyerempet sedikitipun, oleng ke satu sisi mengenai jidat lin qili


Aduh, aduh, malang sekali si A-li.

__ADS_1


Rasa geram memburamkan mata, membuat otak menjadi buta. Pak tua, agaknya anda harus segera peka!


"Kau! Salin dan catatlah aturan yang ada dalam buku putih di hatimu! Kau benar-benar meresahkan! Anak muda jaman sekarang sudah sangat berani, tidak bisa dibiarkan! Tidak bisa dibiarkan! Ini tidak baik! Tidak baik! Tidak baik." Semakin kesini semakin melirih. Memperjelas bahwa rasa marah telah membuatnya lelah.


Tidak baik, tidak baik, tidak baik. Hello, calon abu, sampai kapan mulutmuĀ  menggumamkan kata itu? Sampai liurmu hilang?


"Baiklah."


Oh, satu lagi! Pak tua itu tersadar akan sesuatu. "Jangan hanya disalin! Renungkan! Amalkan! Dan lestarikan! Dasar meresahkan!" Tangan itu dengan tegang mengacungkan jari telunjuknya, nafas yang terhempas juga semakin berat serta keras.


Lu Wei sudah hendak melangkah pergi, tapi terhenti saat kalimat dengan nada tinggi menusuk telinganya. Huh, apa-apaan meresahkan? Dia itu mengesankan oke! Mengesankan, bukan meresahkan!

__ADS_1


__ADS_2