Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
133


__ADS_3

Angin dingin membuat Lu wei yakin orang itu juga diperlakukan agak serupa, bedanya hanya tendangan saja.


Lu wei berpikir mungkin dia akan berakhir. Detik demi detik diisi sunyi. Prasangka-prasangka bertebaran kembali. Dia bahkan sudah merencanakan untuk balas dendam.


Namun, hal berikutnya membuat otaknya ingin digaruk. Dia didudukkan kembali, tangannya digaet, bersamaan dengan itu gejolak untuk membersihkan diri kembali unjuk diri. Tubuhnya didorong---tidak, bukan hanya dia. Suaranya lebih banyak, itu artinya orang itu juga mengalami hal yang sama.


Jantungnya entah kenapa berdegub lebih cepat, keringat dingin membelai lehernya. Rasa penasaran condong ke takut membuatnya tanpa sadar memilin kain lengan.


Satu objek menyapa mata. Cahaya lembut terlampir dari kutikula kuku, jemari indah lengkap dengan kulit seputih salju. Pucat, seolah tak punya aliran darah.


Lu wei ragu sejenak mengenai identitas makhluk ini. Apakah dia manusia atau hantu?


Dia menunggu dengan serius apa yang akan terjadi, Lu wei berpikir makhluk di depanya sedang memberi kode. Dia menunggu tapi khayalannya hanya semu. Malah, hal tak terduga yang menjadi nyata.

__ADS_1


Risih seketika terusir kala udara yang di sekitarnya tidak lagi berbau amis. Karung itu tersingkap membuat makhluk itu juga terungkap.


Lu wei menjengit, ekspresinya hampir seolah ingin memuntahkan darah kuning. Ususnya mengejang dan bola matanya menggambarkan itu, dia melotot. Tak terhitung banyak makian, umpatan, dan pertanyaan yang bergumul di benaknya, bibirnya bahkan sampai tidak bisa mengeluarkannya sehingga berakhir berkedut.


Lu wei benar-benar membenci takdir yang begitu menjengkelkan. Apa-apaan dewa?!


Aku tidak tahu harus tertawa atau terjengkang.


Jika bukan karna wajah tampan dan sedikit warna putih menghiasi rambut sosok itu, Lu wei pasti menyangka sosok di depannya adalah orang gila yang tergila-gila pada orang yang dia anggap gila. Itu Lin Qingxuan!---tidak! Itu terlalu bagus! Ganti! Itu si Lin---AnjingQingxuan!!!


Entah kesalahan apa yang menyerang mata Lu wei. Bagaimana bisa dia menangkap rasa senang di netra Lin Qingxuan?!


Jangan bilang yang akan menyembelih ada di belakangku?! Itu sebabnya dia terlihat senang? Bangsat! Untuk memastikannya, Lu wei menengok ke belakang. Dan hasilnya ....

__ADS_1


Kosong.


Hanya ada angin yang membawa suara burung gagak. Menoleh kesamping, juga tak ada hasil. Hening, tak berjejak membuat otak Lu wei gatal. Kemana semua bayangan tadiii???!


Ya mana aku tahu, aku tidak tahu. Kok bertanya kepadaku? Kenapa orang ini diberi kepercayaan diri setinggi ini?


Menyadari melongo tidak berguna, Lu wei mengakhirinya. Dia kembali menatap ke depan. Hasilnya hampir sama, kosong. Wajah Lin Qingxuan terlalu kosong untuk dikatakan ada. Datar, tak beremosi.


Namun, kali ini sepertinya lebih kosong. Dia melamun? Jarinya melambai mencoba menyadarkan. Hanya saja itu sia-sia, Lin qingxuan bereaksi tidak sesuai ekspektasi. Dia mendekatkan wajah. Lu wei mendengkus dan membuat wajah


Lin qingxuan membeku dengan menunjuk dahinya. Sebuah tanda merah meninggalkan jejak. Lu wei  belum berhenti. "Apa yang kau lakukan, Sialan, sadarlah!"


Air mukanya sedikit membaik. Lin qingxuan menjauhkan wajah, beralih menunduk dengan semu merah yang menjajah telinga.

__ADS_1


Lu wei memilih fokus pada hal lain. Mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Utara, selatan, barat, timur, huh.


__ADS_2