
122
"Ahahahahaha hahahahahahah! Bah! Aku tidak tahaaaannn!!!"
Ledakan cahaya mengaburkan semua mata, berlangsung beberapa detik dan itu sangat menyiksa netra.
Suara Pohon LaknatCinta menggelegar menggetarkan telinga, sedetik sebelum cahaya itu padam. Dan, saat membuka netra tempat baru sudah menyapa.
Namun, jangan mementingkan tempat dulu, pentingkan dulu badan-badan yang tertindih!
Posisi-posisi itu sunguh tidak elit. Bokong di duduki, punggung ditindihi, kepala menghantam perut, yang paling elit hanya dua orang ini. Siapa sangka kesialan begitu mencintai Lu wei.
Tidak hanya jatuh, sekarang dia juga tertimpa tangga. Tangga yang saangat bukan tangga, tangga hidup, materialnya dari es.
Tertebak?
Untung saja tangannya bergerak selincah kelopak mata, saat mendapati sesuatu yang mengancam secara otomatis tangan akan menepis. Namun, karna objek ini terlalu besar, jadilah hanya bisa di tahan bukan ditangkis.
__ADS_1
Satu tangan Lu wei menekan dada Lin Qingxuan, mencoba melawan gravitasi yang tampaknya ikut berkontribusi membuatnya tertindih.
Alisnya saling mendekat, ditemani tangan yang semakin berjuang ketat. Dia berkata sinis, "Berdirilah, bajuku kotor!"
Sekian detik telah berlalu, membuat Lu wei mengangkat alis. Terpaksa, dia membuang kata lagi. "Apa yang kau lakukan hah? Telingamu tersumpel cincangan tubuh hantu? Kubilang berdiri!"
Akhirnya, beban yang paling beban--- menurutnya--- berakhir. Lu wei bernafas lega sebelum menepuk-nepuk bagian belakang tubuhnya, rambut juga ikut diperiksa. Dia melotot saat mendapati sesuatu.
Kenyal dan menggeliat.
Mie hidup.
Li na turut berteriak. OH MY GOSH!!!
Meski batin dibombardir, dalam kenyataan Lu wei hanya bisa melotot sekuat tenaga seraya membungkam mulut dengan segenap hati dan reputasi yang ia jaga. Getaran di tangan hampir semu, tapi mata Lin Qingxuan tetap bisa menangkapnya.
Kilatan sesuatu mampir, membuat pupil Lin Qingxuan terisi walau hanya sempat dan singkat. Tangannya terangkat, jari jemari panjang tanpa terselip kejijikan memungut mie hidup itu.
__ADS_1
Menyisakan mata Lu Wei yang berkedip cepat dan mulut yang melongo bulat. Lin Qingxuan masih tanpa eksrpresi, tapi itu hanya 'kelihatannya'. Hanya orang-orang seperti paranormal yang bisa membaca wajahnya.
Lin Qingxuan membalik badan dan mulai berjalan dengan langkah terkesan berat (?)---oho---
Lu wei masih tidak percaya, dia gelagapan. Setetes keringat membasahi lehernya, tenggorokannya juga dibasahi liur yang akhirnya bisa ditelan. Dia terkesiap dan berakhir mengibaskan tangannya, mencoba menghapus sisa-sisa cacing laknat yang dengan sopan menjelajahi tubuhnya dan tangannya. Matanya memerah hampir menangis, dia bergumam tanpa sadar. "Air Surgawi! Air Surgawi! Berikan! Berikan!"
Gemetar yang tersembunyi tak mampu disembunyikan lagi. Xing'er yang melihat itu hanya mau memutar bola matanya, tapi karna dia baik, dia menjalankan peran sebagai teman.
Air mengguyur telapak tangan Lu wei. membuat Lu wei. tampak rileks sesaat. Dia mengibaskan tangan lagi, kali ini untuk menyingkirkan sisa-sisa air. Seraya melakukan itu, dia bertanya, "Ini Air Surgawi?"
"Air sisa---"
Meski perkataan itu belum selesai, itu tetap saja memancing mata yang sudah rileks untuk mengejang kembali, menyerangkan pelototan pada sasaran.
Xing'er segera membelokkan perkataannya. "Air murni, ya! Itu air biasa!"
Lu wei berdecak. "Ambil botol di pinggangku dan guyurkan!"
__ADS_1
Malas menolak, Xing'er hanya bisa menurut. Dia memutar bola mata lagi saat mendapati wajah Lu wei yang rileks kembali.