Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
191


__ADS_3

Terkekeh kilat, dan akhirnya Paman itu menghasilkan kata. "Sesuai dugaanku."


Tiga orang berkulit kencang menjawab bersamaan. "Apa?"


"Apa kalian mencium sesuatu?"


Lin qili: "Pada rumah pertama, aku mencium bau mie pedas."


Jin Huang: "Rumah kelima, aku mencium bau sesuatu yang segar, seperti wangi apel."


Baiklah, Li na memang bernasib buruk. "Pada rumah kesembilan, aku mencium bau kentut."


Celetukan membawa tuduhan dari Paman itu semakin menyesakkan li na. "Ha, kau kentut?"


Tidak terlalu bagaimana, Li na punya jawaban yang cukup kuat. "Bunyi kentutku tidak sesopan itu."

__ADS_1


Sudut mata Li na menangkap sikap tidak biasa Jin Huang.


Oh.


"Kenapa, Paman? Aku pikir, itu adalah masakan yang di masak ibu muda untuk makan malam."


Lagi-lagi kekehan singkat mendahului. "Sumpit yang ada di tangannya tidak berbau, lagipula kau yakin dia makan pedas?"


Lin qili lantas meringis. Mengingat orang-orang klannya atau orang-orang yang tinggal di naungan klannya sebagian besar tidak suka pedas. Dia terkekeh singkat setelahnya. "Benar juga."


Li na tidak tahan. Namanya sungguh indah.


"Aiyaa, bubuk cinta? Bukankah ada beberapa jenis. Ada yang digunakan untuk menarik seseorang dan melakukan ..., " Demi kesucian mulutnya, Jin Huang memilih berdehem, "Kalian tahu. Dan ada juga yang berfungsi sebagai pelet."


Paman itu: "Ahh, pelajarannya belum sampai situ rupanya, maaf, maaf. Bubuk cinta ada tiga jenis, dua yang lain sudah dijelaskan Nona Jin. Sedang yang satu, fungsinya agak lain dari dua pendahulunya. Ini hanya akan membuatmu mengingat seseorang yang kau cintai, bisa singkat dan sangat lama. Tergantung ada atau tidaknya orang yang menyadarkanmu. Kau akan termenung, menatap ruang dengan kosong, sedang dalam pikiran memutar semua hal yang kau lakukan dengan orang yang kau cintai."

__ADS_1


Lin qili dan Jin Huang bergumam paham bersamaan. Di sisi lain, Li na merasa buruk karna meremehkan orang-orang di zaman ini. Jadi benar sudah ada hipnotis?


"Karna itu bubuk, maka itu akan sangat mudah memasuki tubuh. Entah itu dengan air, udara, atau bahkan ditaburkan dimakanan." Paman itu berkata seraya menunduk, menatap kuku yang saling bertarung. "Air, dan makanan, aku tahu ini bertepatan dengan makan malam, tapi ada beberapa faktor yang membuatnya memiliki selisih. Seperti seberapa cepat masakan matang, ada atau tidaknya nafsu makan, kita tidak tahu. Jadi, sudah tentu penyebaran bubuk ini adalah dari udara."


Paman itu menegakkan tubuh dan berkata dengan wajah sedikit maju. "Pertanyaannya, benda apa yang menjadi wadah bubuknya sebelum bergabung dengan udara?"


Jin Huang: "Wadah ini seharusnya tidak tertutup seluruhnya, harus ada celah."


Lin qili mengangguk. "Seharusnya wadahnya memiliki lubang-lubang kecil."


Sontak, celetukan terlempar dari bibir Li na. "Seperti saringan atau pengayak maksudmu?" Membayangkan wadah bundar dengan jaring-jaring tipis di bagian bawahnya, bergoyang ditemani bubuk yang berjatuhan, dia jadi teringat saat dirinya pertama kali membuat kue. Menurutnya itu menyenangkan, jadinya dia mengulangi tahap itu berkali-kali sampai ibunya membalikkan meja. Dia berakhir tertawa.


"Uh, saringan, saringan air dari kain yang biasanya dipasang di pancuran air? Yang untuk menyaring kotoran dan membuat air bersih? Sepertinya kurang tepat jika itu saringan."


Sepertinya benar

__ADS_1


__ADS_2