
Kilatan energi biru semakin banyak, tak teratur, dan meresahkan.
lin qili yang maha peka tentu saja mengerti. Dia melesat mendekati Lu wei, dan sesuatu juga melesat kearahnya. Xing'er sontak menepis serangan itu, tatapan Lin qili menyorotkan kata terimakasih.
Li na mengeluh, Hey, aku butuh kipas. Tapi jangan kipas meresahkan itu. Aduh, Lu wei ini tercipta dari lumpur neraka, ya? Astaga panas.
Gemersik daun ditemani gagak yang tiba-tiba bersuara, semakin menenggilakan jiwa. Angin meliuk seolah ingin melepaskan kulit. Rambut yang tadinya terikat tinggi dan rapi sudah tidak lagi menyandang predikat rapi. Tinta hitam Lu wei mengalir sesuai keinginan angin, lengan lebar yang bergoyang menghasilkan suara khusus.
Pekikan salah satu murid semakin memperparah. "Aaa! Tidak! J-jangan!"
Bola asap hitam membentuk tangan, membingkai bahu murid itu. Pekikkan kembali melengking saat dagunya diraba warna hitam.
Xing'er melotot, refleks serangan sudah bergumul di jari jemarinya, tapi sebuah sentuhan membuatnya terhenyak. Pinggangnya diapit sebuah lengan, telapak tangan menyusuri pipi. Jika itu adalah manusia laki-laki, sudah pasti dia akan dilenyapkan detik ini.
__ADS_1
Namun, keadaannya berbeda. Keringat dingin membasahi anak-anak rambutnya, disusul pelipis yang dijelajahi. Ludah sukar tertelan. Warna hitam itu mengelilinginya.
Nasib para murid yang mengelilinginya tidak jauh berbeda, pekikan dari para murid pemberani membuat murid-murid yang masih aman di dalam array dan menunggangi naga terhenyak hatinya.
Sibuk dengan urusannya masing-masing, hal yang seharusnya dijadikan atensi malah tidak dipedulikan.
Lu wei menjadi kepompong karna warna hitam yang membalutnya, untung saja celah-celah masih ada. Mata biru kehijauan Lu wei berkilat. "Fu Cheng."
Api seolah membakar netra Fu Cheng. Warna merah itu berkilau memikat dengan kesan menakutkan. Ekornya ia gerakan, dan semua tubuh yang menjadi beban dihempaskan.
Naga Lin qingxuan menegur, "Tidak sopan."
Tak terdengar satu huruf pun. Tentu saja, karna fu Cheng sudah tidak dalam pandangan.
__ADS_1
Naga itu meliuk liar menghancurkan semua hambatan, berakhir membelit energi hitam yang membelit Lu wei. Suara pecah dan patah tulang menggetarkan tenggorokan.
Pemandangan itu menarik semua warna hitam yang sedari tadi mengganggu objek lainnya. Api di mata Fu Cheng seolah menari, senada dengan tubuhnya yang meliuk cepat tapi tepat menghancurkan semua yang mendekat.
Angin beriak membawa teriakan-teriakan. Murid-murid yang mendapati itu sontak mundur, bahkan para anggota Kejujuran takdir memilih menyerah dengan menghilang. Semua hambatan yang meresahkan sudah tidak ada, sayangnya itu bukan kabar baik. Pasalnya yang lebih buruk menggantikannya!!!
Dewa, oh ya ampun. Ini buruk!
Lin qingxuan mengeluarkan kata untuk naganya. "Ru Si, pergi."
Lin qingxuan memfokuskan atensi dan beralih mendekati. Pedangnya meliuk membawa angin beku, membelah energi hitam dan itu membuatnya terlihat dungu. Matanya memicing memandang sesuatu di sana. Warna hitam berwujud telapak tangan menjelajahi tubuh Lu wei. Tangan, kaki, leher, pipi, perut, pinggang. Dia mendengus dan melirih, "Masih kupandang, belum kutendang."
Sedangkan di belakang sana, Xing'er baru saja menyikut Lim Qili, dia lanjut bergumam, "Hentikan kakakmu, dia terlihat bodoh."
__ADS_1
"Kau salah jika berharap pada diriku."
Xing'er menghela nafas. "Baiklah!"