Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
179


__ADS_3

Makanan dan minuman sudah datang. Li na melahap Bakpao dan minum satu teguk sebelum melanjutkan, "Aku langsung menghampiri rumah itu---aku akan memotong ini. Singkatnya, pemimpin dari mereka dan aku mulai saling bertukar pertanyaan."


"Aku berbasa-basi lumayan banyak, dan pada akhirnya aku tidak jadi jujur. Aku membelokkan lidahku dan menggantinya menjadi 'Saingan yang ingin mengotori nama baik rumah kalian'. Tentu saja aku salah, karna hanya ada satu 'yang seperti itu' di sini."


Beberapa dari mereka terkekeh dan itu membuat lu na mencebik. "Aku berakhir meminta mereka semua untuk keluar, nona pemimpin itu tidak keberatan. Semuanya sudah hampir lengkap, tapi ... Aku sedang membesarkan api dewa lalu, l-lalu, aku, dipeluk seseorang."


Li na menunduk menahan kesal, bukan malu.


Lihat dan dengar itu. Gumaman menggoda, bisikan, siulan, dan kekehan. Benar-benar menjengkelkan.


Tunggu, bukankah katanya "kata siapa masih ada besok?' lalu kenapa mereka seolah hilang ingatan?!


"Hahaha, Nona, kupikir mungkin seseorang itu ingin mengenal lebih dekat secara cepat."


Perkataan itu menyulut kekehen untuk lebih jelas.


Li na mengeluarkan "Phei!" Mendengus, kemudian membalas. "Dengarkan dulu, kujamin kau akan terjengkang."


"Tinggi tubuh yang memelukku hanya mencapai bahuku."

__ADS_1


"Ohhh, laki-laki kerdil?"


"Kakek-kakek bungkuk tua, ya?"


"Aduh, aku sudah mendapat gambaran."


Penekanan di setiap kata. "Dengan jari halus, panjang, dan kuku berwarna merah."


Orang-orang itu sontak melotot dan tersedak, dan orang yang tadi benar-benar terjengkang.


"Wanita! Kalian mendengarnya?!"


"Ahh, benar saja."


"Tubuh---tinggimu sedikit kurang pas bagi perempuan."


"Yaaa, tidak salah sih."


"Skip!" Li na mengutuk dalam batin dan bersegera mengeluarkan pengalihan. "Maksudku, lewati! Orang itu tidak hanya memelukku, tapi juga meremas tanganku yang berdarah dan berkata manis. Aku suka sakit gigi, jadi kadang tidak suka manis, aku membimbingnya untuk mengenaliku. Dengan ... Ah, wanita itu terkejut dan bersegera meminta maaf, berakhir bergabung ke dalam barisan."

__ADS_1


Merasa tenggorokannya butuh dibasahi, satu teguk, dan tatas. "Aku mulai menjelaskan, belum selesai saat tiba-tiba sebuah pisau berwujud teriakan menghentikanku."


Kepala orang-orang itu semakin condong ke arahnya. "Teriakan itu berasal dari orang-orang yang berada di dalam array. Ya, arraynya pecah."


"Ahh! Aku mengerti! Aku mengerti!"


"Astaga, ternyataa begitu?! Pintar juga!"


"Wanita yang memelukmu, dia ...."


"Array yang kau gunakan adalah ' perisai kanan? Benar?!"


'Perisai Kanan' adalah nama array yang hanya bisa dihancurkan dengan darah penciptanya, ibaratnya itu adalah seseorang yang sangat penurut kepada tuannya, sehingga disebut "Perisai Kanan"


Tidak ada gelengan, karna itu benar. Yang ada adalah kebalikan gelengan. "Tentu, karna itu yang paling menjamin. Karna teriakan itulah rasa takut, gelisah, muncul, dan tentu saja para hantu akan tertarik dengan itu."


"Kau bertarung lagi?"


"Tidak, aku tidur."

__ADS_1


Anak muda tadi mencebik kecut dan berakhir kicep. Dia seperti baru saja dijejali satu ember, atau mungkin satu sungai---tidak, itu satu laut, baiklah jujur saja... Dia terlihat seperti baru saja dijejali air es yang jumlahnya sebanyak laut atlantik. Rautnya benar-benar tenang, tetapi seperti terpukul. Intinya seperti itu, aduh kasihan sekali.


__ADS_2