Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
45


__ADS_3

42


Dua pihak saling melambaikan tangan, disertai lengkungan sudut mulut yang naik dengan cantik.


Li na mulai menikmati rasa hangat yang menghinggapi hatinya akibat pertunjukan ini. Andai saja ada kasur dan bantal, pasti akan sangat nyaman.


Suara pemukul gong kembali terdengar. Kini dengan kalimat yang berbeda. Beberapa nama klan sudah terkemukakan. Hingga akhirnya tiba klan itu.


"Klan jin, di sebelah sini."


Rombongan dengan keindahan wajah yang sulit ditandingi menyedot sebagian lirikan. Bisik-bisik mulai beranak.


Beberapa pujian, ada juga wujud rasa iri.


"Mereka sangat cantik!"


"Aku tidak melihat kejelekan di wajah-wajah mereka."


"Pemudanya juga tampan-tampan!"


"Wajah giok itu membuatku iri."


Tak heran dengan pujian itu. Pada dasarnya, klan peri laut khususnya Klan-Klan tinggi seperti Klan jin, kebanyakan dari mereka melahirkan keturunan dengan wajah-wajah rupawan.

__ADS_1


Jadi, Lu wei  hanya memandang dengan apatis pemandangan itu.


"Klan An, di sebelah sana."


Bisik-bisik masih tersiar, tapi jumlah yang berbisik turun beberapa persen.


Tiba saatnya bagi klan Lu.


Lu wei berada tepat di belakang barisan laki-laki, karna dia memang memimpin barisan perempuan.


Seketika riuh-riuh menggelegar. Shena sedikit sakit mendengat suara seperti suara lebah itu. Lu wei mpaknya juga sama terusiknya. Diketahui dari decakannya.


"Astaga perempuan yang paling depan itu sangat cantik! Aku bertaruh, dia lebih cantik daripada semua perempuan dari klan peri laut tadi."


"Benar! Benar! Mukanya memang jutek tapi manis! Awww menggemaskan!"


"Kau tidak tahu? Dia Lu wei."


"Apa?! Lu wei?! Bunga untuk seribu pria itu?!"


"Iya benar! Itu dia! Aku tidak heran kenapa dia mendapatkan laki-laki semudah bernafas!"


"Ya ampun! Aku baru tau!"

__ADS_1


"Salah siapa kau menjadi ayam terus? Sudah berapa telur yang kau hasilkan dari mengurung diri di kamar asrama? Siapa Ayah-nya? Buku-buku?"


"Enak saja!"


Orang yang dipuji hanya terkekeh pendek dan menyunggingkan senyum miring, sebelum kembali menutup telinga lagi.


Lain halnya dengan li na. Karna dia orang yang berbudi luhur, dia menjawab walau ia tahu itu tidak bisa didengar. Terimakasih, terimakasih!! Kalian juga cantik!


Mungkin sebagian dari kalian para pembaca mempertanyakan keberadaan li na itu di sebelah mana. Dia? Sedang berada di pohon. Duduk di dahan dengan kaki yang menjuntai, menggantung menggoda untuk ditarik. Menonton dengan penuh minat.


Apa gambaran yang kalian dapat? Jika itu si kunt--- ekhem sensor, kalian tidak salah. Memang mirip sih, tapi bedanya, jubahnya tidak putih melainkan biru gelap.


Tanpa sadar sesi absen (?) mungkin ... Telah selesai. Sesi selanjutnya lebih membangkitkan minat li na.


Pengecekan tingkatan kultivasi.


Beberapa waktu berlalu. Pendar berbeda warna mewarnai langit beberapa kali. Sejauh ini masih dalam lingkaran kelompok kelas rendah dan sedang. Belum ada yang mencapai kelas tinggi.


Oranye, kuning, hijau, kuning, hijau, oranye. Berputar-putar di sekitar itu saja. Dan hanya do ranah bumi.


Lumayan memenatkan mata dan mulai mengikis rasa minat li na. Tapi matanya kembali dicekoki rasa minat, saat sebuah nama menyusup ke telinganya.


Giliran si sampah busuk Lu wei*

__ADS_1


Ketukan dari sepatu berdentang, memecah sunyi. Tidak ada kepala yang mampu mengalihkan mata.


Mari kita lihat, apa yang dihasilkan oleh sampai itu


__ADS_2