
Cairan bening itu luruh, menjelejahi pipi. Di sana, dia tengah menangis. Membuat lu wei jatuh dari dahan pohon yang ia tunggangi dengan miris. Namun tentu saja hatinya mengalami yang lebih parah.
Sejurus kemudian, Lu wei bersicepat menghampiri sosok itu. Menghempas lembut air asin yang menjalari pipi putih seraya mulai mengintrogasi. "Jiejie, kenapa menangis?" Gumaman dengan nada tanya terlampir sesudah kata terlontar.
Karna perbedaan tinggi yang cukup banyak, mengakibatkan Lu shi mendongak. Mata itu berair, berkaca di sana mungkin sedikit jelas. Pigmen merah sedikit mencampuri kecemerlangannya.
Lu shi menggenggam balik tangan Lu wei yang masih setia menangkup wajahnya. Seulas senyum tersungging. "Tidak apa, hanya kelilipan."
"Kelilipan rasa sedih maksudmu?"
Yo, bosan rasanya. Kenapa player yang satu ini sangat tidak menyukai basa-basi sama sekali? Langsung, jleb.
Tidak menunggu respon apa selanjutnya, Lu wei beralih opsi. Dia menuntun lembut Li Hua ke arah kerumunan laki-laki.
__ADS_1
Saat sudah dekat, dia mengedipkan sebelah matanya. Dan, yap ditangkap sempurna. Mengerti! Mereka konek, tenang saja.
Secepat deburan ombak dia mundur dan berakhir memeluk kakaknya, lalu berputar. Mengangkat tangan sang kakak membuatnya bergerak, menciptakan pose yang mempesona. Beberapa anak rambut tersampir lembut kebelakang telinga. Dan, piuuu! Serangan pesona!
Para pemuda bereaksi sesuai ekspektasi. Mundur secara berlebihan seraya memegang dada dan memasang muka yang menyenangkan hati.
Lu shi sontak menunduk. Mencoba menyembunyikan pendar warna merah pada pipinya. Udara ia perangkap dalam pipi, nada yang digunakan saat dia bicara membuat Lu shi gemas sendiri. "Kau! Jangan melakukan itu lagi!"
Suara Lu wei sedikit bergetar akibat tawa yang menyelip. "Memangnya kenapa? Bukankah itu bagus?" Matanya membentuk bulan sabit, membuat Lu shi menyerangkan tamparan pelan pada lengannya.
Mencoba mengendalikan diri---- lebih estetik menahan diri---- Lu wei menghela nafas. Setelah gejolak diperutnya reda dia akhirnya berucap, kini serius. "Lihatlah, Kak. Mereka sebegitu terpesona dengan dirimu, jangan merendah, meninggilah jika perlu."
"Mereka terpesona karna kau!"
__ADS_1
Raut galak tapi lucu itu mengundang kembali gelitikan di perut, tapi kali ini yang keluar hanya cekikikan.
Atmosfer indah itu runtuh karna beberapa bisikan gaib dari para penggosip.
Salah satu berdecih. "Dasar tukang tebar pesona!"
"Kau benar, menjijikan. Kurasa dia masuk kelas giok bukan karna kemampuannya itu melainkan karna hal lain."
Apakah panas? Tentu tidak, Kawan. Untuk apa mempedulikan gonggongan?
Lu wei masih belum menyurutkan raut jahil miliknya, lain cerita dengan Lu shi. Dia berganti geram, tapi masih terpendam. Hanya saja itu tetap tidak bisa disembunyikan. Memunculkan senyum manis di wajah si adik.
Sesuatu yang hangat mengalir deras memenuhi meridiannya. Li n sedikit apatis dengan itu, karna dia sudah tidak aneh lagi dengan ini! Sudah beberapa bulan dia hinggap dalam raga ini. Tentu saja dia sudah mengerti beberapa hal.
__ADS_1
Dari yang li na amati selama ini, lu shi adalah tipikal seseorang yang sabar. Sabar jika dirinya yang dijadikan acuan, beda halnya apabila yang dijadikan acuan adalah orang yang tersayang.
Sayang sekali, dia tidak punya nyali sebesar adiknya. Namun setidaknya dia sudah punya prestasi, hanya saja tidak bisa dijadikan prasasti.