Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
40


__ADS_3

Tangan satunya lagi yang mengangggur tapi masih menyangking pedang ia dekatkan ke leher menggoda Tuan Muda feng.


Dalam jarak sedekat ini, dan seintim ini. Li na bisa memprediksi apa saja yang akan terjadi kedepannya. Dengan cepat lengan Tuan muda feng yang tadi ia putar dia buat seolah menjadi sabuk, hanya saja membelit area dada bukannya pinggang. Juga, dikarenakan keterbatasan panjang pedang, pedang itu hanya bisa membelit kurang dari separuh dada.


Ujung pedang yang lancip berada tepat di samping jantung, menekan kulit. Siap menusuk jantung apabila Tuan Muda feng berniat membalik posisi


Bilah pedang ramping yang mengkilat itu terlihat menawan. Ini belum sepenuhnya selesai pemirsa. Tuan Muda feng masih memiliki satu tangan. Dia berniat menyemburkan serangan lewat lengan kirinya yang dianggurkan. Tapi siapa sangka si lawan lebih cekatan.


Li na sudah menduga hal ini akan menghampirinya. Jadi saat dia melihat picingan mata dan gerakan kecil, dia buru-buru menarik pangkal pedang mundur sedikit, menarik beberapa centimeter kebawah.


Pernah melihat hewan kambing atau sejenisnya disembelih dan kulitnya diambil, lalu kulit itu diseretkan pada pisau besar? Pisaunya di balik, bagian yang ramping di atas sehingga memudahkan prosesnya. Begitulah gambaran posisi pedang Tuan Muda feng di keteknya.


Mengakibatkan tekanan yang menangkal adanya pergerakan lebih jauh dari Tuan Muda feng.

__ADS_1


Keadaan Tuan Muda feng kini kurang menguntungkan. Satu tangannya ditahan dibelakang dan dibuat sebagai senjata untuk menahan tangan lainnya. Keteknya terancam tersayat, dan lengannya berkemungkinan tidak bisa lagi bertengger gagah jika seperti ini terus.


Eh, bukankah masih ada satu lagi yang bisa digerakan? Telapak tangannya, masih berdiri diudara kosong.


Bola asap berpusat, dan akhirnya melesat. Sial sekali, lawannya selicin ikan yang sering dimandikan.


Tak kena, meleset sepenuhnya. Li na tersenyum meremehakan. Dia melirih, "Bagaimana apa ini tetap tidak berpengaruh padamu errr ...."


"Feng Xu." Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, dia kembali membalas, "Tentu tidak."


Li na masih loading, mendapati itu ming mei bersegera berseru. "Awas! Di belakangmu!"


Entah material apa yang menjadi komposisi tubuh Lu wei ini. Segesit kilat li na berkelit minggir.

__ADS_1


Belum berada sepenuhnya pada zona aman, beberapa serangan sudah lebih dulu diluncurkan dari pihak lawan.


Sementara li na berusaha berkelit, teman-temanya yang sudah agak baikan mulai berusaha membantu.


Satu melawan lima, tidak imbang secara jumlah memang, tapi dengan satu orang ini bisa meungguli keempat kandidat. Hanya li na yang mampu menyamai dia sejauh ini.


Sebenarnya rasa bingung sedari tadi mengusik otaknya. Bukankah, lin qingxuan ini satu tingkat dengannya? L-lalu kenapa dia tampak seperti jauh di bawahnya? Bahkan dengan satu serangan saja yang tadi dia terima dari feng xu, lin qingxuan sudah tak bisa mengendalikan diri lagi. Sangat kacau.


Agak ambigu.


Memang jika hanya dipandang sekilas ini tidak adil, tapi pihak yang terlihat terpojokkan justru malah yang paling unggul!


Pertarungan berganti menjadi duel. Kini tinggal mereka berdua, li na dan feng xu yang saling memberikan serangan cinta.

__ADS_1


Waktu diisi oleh suara dentang, gesekan, dan dengung pedang yang terus beranak. Langit diwarnai dengan asap yang kelamnya hampir sama dengan warna hitam.


__ADS_2