
Pupil murid itu membesar, dia membalas dengan nada kesal. "Enak saja! Tidak! Aku itu irit bukan pelit!"
Jawaban berupa lambaian tangan dan pengulangan kata 'Ya' selama beberapa kali, didampingi raut acuh tak acuh itu membuat murid tadi terpaksa menghela nafas.
Xing'er berdiri, matanya menyapu sekitar. Untuk sejenak semuanya terkontrol, tapi saat matanya bergulir ke arah lain, dia mendapati satu kejanggalan.
Pemandangan itu membuat lipatan pada kening tercipta. Rasa penasaran yang mendominasi membuat kaki melangkah dengan pasti. Dia bertanya, "Hey, kau. Ada apa dengamu?"
"Tidak ada."
Jawaban berbalut nada lirih itu membuat satu alis terangkat. Dia maju perlahan, dan bertanya kembali. "Apa benar tidak ada."
"Tidak ada!"
Kali ini menggunakan nada anonim dari kata lirih. Sungguh, Xing'er bahkan sampai menjengit.
"Apa yang tidak ada?"
__ADS_1
Awalnya, Lu weu masih setia pada sikap apatisnya itu. Namun, mengingat xing'er bukanlah seseorang yang tidak mudah mengamati, dan bukan orang yang bertanya sesuka hati, juga tanpa alasan pada orang yang tidak dekat, memaksa rasa ingin tahu mengalahkan sikap apatis.
Hendikan bahu terlaksanakan sebelum jawaban terkemukakan. "Tidak tahu, jawabannya tidak sesuai muka."
Pandangan Lu wei berganti objek. Dia memandang orang itu. "Hey, Calon madu kakakku ... Kau kenapa?"
Jin Huang kembali menjawab dengan kalimat yang sama. Membuat Lu wei semakin penasaran.
"Kau ... Kau Ingin buang air?" Tampang watados terpasang dengan aesthetic.
Namun, agaknya dia salah tindakan. Akibat dari reaksi spontan itu sungguh membuatnya menyesali perbuatannya. Dia mengerang, sontak tangannya turun memegang area perut. Suara rintihan dengan banyak sekali penyaringan, dengan jarang tersiar.
Lu wei terkekeh mendapati itu. Bah, ingin membohongi tukang tipu? Dia mulai maju, sedikit menunduk dengan tangan terjulur ke arah jin Huang. Namun, tentu saja dia tidak berharap dibalas sesuatu yang baik. Dan hasilnya memang sesuai dugaan. Ya, tangannya di tepis lengkap dengan raut sinis, membuatnya dengan sengaja memasang raut miris yang palsu.
"Jujur itu indah. Tidak perlu menutupi karna kau tidak bisa menutupinya."
Perkataan itu dipastikan memancing adanya bahan gosip baru. Rasakan saja, bukan kata tapi mata. Mata yang mulai jelalatan mencari kawan, dengan ajakan berbicara di ruang komunikasi pribadi. Murid yang melalukan itu tentu saja adalah yang mengerti.
__ADS_1
Membuat gejolak api semakin membara di dada. Seraya gemetaran, jin Huang menjawab, "Menutupi apa?"
Lu wei hanya tersenyum dibarengi dengkusan. Tangan kanannya terangkat, jari telunjuk berdiri tegak sendirian. Gerakan berikutnya terlihat sepele dan sederhana, tapi bagi beberapa orang yang mengerti itu tidak sesederhana itu.
Xing'er melotot saat netranya mencerminkan tindakan meresahkan itu. Dia sontak menyergah, "Kau! Kau mau apa?!"
"Kenapa kau bertanya? Kau tahu itu tidak berguna."
Murid lainnya mulai mengerti, dia buru-buru mengeluarkan kata. "Berhenti! Berhenti! Jika kau menipiskan array, bukankah kau juga akan membuang sia-sia energi spiritualmu? Juga, proses penebalannya sedikit boros energi spiritual, j---"
Bagaikan angin yang bertiupan di pantai. Sellow, santai. Sungguh membuat resah. "Aku yang melakukannya kenapa kau yang resah?"
"B-bukan begitu ...."
"J-jangan, hentikan."
Bravo, akhirnya. Huh, Lu wei sejujurnya merasa ini adalah pemborosan yang benar-benar pemborosan. Untuk apa dia melakukan hal ini?
__ADS_1