
Mereka sama-sama bekerja dari ini, mendapatkan uang dari ini. Mempermainkan laki-laki dan dibayar oleh para wanita yang disakiti. Jadi dia---mereka ini bermanfaat atau tidak? Itulah yang seringkali berputar di otak Li na saat ada sesuatu yang memicunya.
"Begitu, aduh maaf membuatmu berpikir keras hanya untuk mengujiku. Benar, aku hanya butuh uang bukan ucapan sayang."
Awalnya Lu na sedikit ngelag. Tadi bukankah katanya 'Dunia ini penuh janji palsu, cinta yang hanya di mulut saja, tipu-tipu, ucapan manis yang memualkan, rasa manis yang hanya ilusi. Jadi demi meminimalisir sakit hati ....' bukankah Lu Wei mempunyai semua syarat untuk diuji?
Mulutnya manis penuh janji palsu, cinta hanya sekedar kata, bersikap manis dan menciptakan akhir miris, iyakan?
Tetapi jika dipikir lagi, semua mantan Lu wei ada begitu banyak sulit menebak apa yang sesungguhnya ia mau. Jelasnya, apa yang bisa dijadikan pengujian bagi Lu wei K-karna itu terlalu banyak, Bung. Pohon lope itu bahkan tidak bisa mengatasinya, uhh prestasi yang pantas dijadikan prasasti. Awww sesat!
"Kata-katanya cukup indah. Ak---"
Hening membuat Lu wei tanpa sadar berkedip cepat, menggulir pandangan dia juga mendapati rasa yang sama diraut di sampingnya. Tatapan dijawab tangan yang terangkat beserta hendikan bahu. Aduh, rada susah menjabarkannya.
Lu wei bertanya, "K-kenapa diam?"
"Aku tidak akan menjawab lagi
jika tidak ada bayaran."
__ADS_1
Jawaban itu membuat Lu wei terkekeh pendek. Dia membatin, Tapi kau menjawabnya, baru saja.
"Aiiyaa, baiklah bayarannya apa omong-omong?" Mari berkompromi sejenak. Lu weu sedikit lega karna apa yang menjadi bayaran kali ini bukan uang. Jika uang bayarannya dia akan memilih bertarung melawan semua hantu di sini, sungguh. Pacarnya seringkali dicuri kebutuhan, aih rasanya dia ingin bergelut saja dengan kebutuhan.
"Kau harus menjawab beberapa pertanyaan ini."
"Baik, ayo."
"Jika ada seorang pria tua kaya menyukaimu apa yang akan kau lakukan?"
Lu Wei tanpa membuang detik menjawab, "Rezeki tidak boleh ditolak, tapi orangnya bisa ditolak."
Sebuah jawaban yang indah, menghasilkan seseorang yang kesulitan meredakan tersedak. Shidi yang malang.
"Aku akan melapor pada istrinya, memberi beberapa tips padanya supaya suaminya tidak bisa berpaling lagi."
Shidi itu bergumam, "Sungguh mulia sekali."
"Jika obsesinya menggiringmu kekasur apa yang kau lakukan?"
__ADS_1
"Sopan saja, aku akan menendang pilar surganya, memotongnya lalu kuberikan pada anjing jalanan, hitung-hitung sedekah."
Li na berkomentar, Aku bertaruh, dia akan melakukan hal yang lebih buruk.
Mendapati itu, sontak rasa takut membuat kaki menutupi bagian paling bermanfaat miliknya. Harus ditutupi, ditutupi atau dipotong. Shidi itu merasa jika dia terus berada didekat 'orang kaya' itu mentalnya bisa-bisa terganggu.
"Kau kenapa?"
"K-kenapa, kenapa, tanya saja pada lidahmu, kenapa semenyeramkan itu." Nada yang digunakan dibalut rasa takut ditandai oleh gugup.
Gelak tawa tak lagi terelak. Lu wei tertawa sampai rasanya ginjalnya akan jatuh. Lihatlah, sebuah reaksi alami tentu saja akan terjadi. Bahu si Shidi itu dihujam tabokan kecil. Meski kecil tapi tetap membuat si empu meringis.
"Hentikan ...."
"Hey ...."
" .... "
"Hentikan, Sialan!"
__ADS_1
Oke, bersyukurlah karna Shidi itu bukan tanah yang jika marah akan erosi.
"Jawaban yang memuaskan. Aku kagum padamu, sungguh. Ilmu mu ini bisa saja berguna, tapi jika kau membuat perguruan yang mengulas hal seperti ini, itu hanya sebuah ilusi. Terimakasih, terimakasih atas jawabannya."