
"Tidak perlu."
Lagi-lagi kata mencegat li na, kali ini dia tidak jadi memiringkan kepala.
"Cukup antarkan aku."
"B-baik."
Li na sontak mendekat dan menangkap lengan lin qingxuan, mencoba menopang tubuh itu supaya tidak jatuh. Syukurlah tidak ada hal buruk yang terjadi.
Posisinya sekarang memapah.
Li na tersadar akan sesuatu dan membatin, Tunggu, dia menggunakan kata 'aku' haruskah aku memanggilnya 'kamu'? Ahahahha jika Lu wei mendengarnya, dia pasti akan menjatuhkan ginjal. Tanpa sadar ternyata pfttt lolos, Li na merutuk terlebih dahulu sebelum mengalihkan atensi. "Ini agak lambat, apa perlu saya gendong?"
"Itu tidak .... "
__ADS_1
"Ohh! Aku mengerti! Maafkan aku!" Namun, menyadari dia menggunakan nada tinggi tadi, Li na ingin menepuk mulut, tetapi tangannya masih harus memegang kedua sisi Lin qingxuan lengan dan pundak. li na memilih menggigit bibir dan berakhir mencicit, "Maaf, sudah tidak sopan."
Tidak ada jawaban, hanya hening yang terus menambah canggung, dan canggung mengisi tiap langkah.
Gesekan pintu dan lantai membuat Shena terpaksa menegakkan kepala. Dia tidak bisa menahan gejolak untuk mengeluarkan 'woahhh'.
Agaknya mulutnya butuh solatip.
Inovasi yang membuatku tidak percaya jika ini jaman kuno. Bak mandi kayu mengelilingi penghasil kata kayu. Namun, melihat bentukannya itu tidak patut disebut penghasil kayu.
Murah muda adalah bunga begonia---atau apa, sih? Itu tidak terlalu jelas--- Merah adalah mawar, dan ungu adalah bunga ungu. Salahkan li na yang sering tidur di kelas sehingga tidak tahu apa nama bunga yang berwarna ungu.
Beginilah jadinya jika mementingkan nilai estetika tanpa memperhatikan nilai realistik, bagaimana bisa mawar tumbuh di pohon? Bukankah biasanya itu hanya bertangkai? Aku yang dungu atau memang di sini konsepnya begitu? Memilih untuk tidak bertindak macam-macam, li na menggeleng untuk menghempas semua pemikiran itu.
Nilai estetika dari pemandangan di depan sangatlah menyilaukan mata. Kristal es yang berkilau disetiap ujung ranting dan daun bagaikan embun. Es yang menutupi setiap inci pohon tidak bisa menyembunyikan identitas si pohon, warna batang dan daun masih terlihat, dan itu terlihat indah.
__ADS_1
Namun, tingkat realistik tidak banyak yang diketahui.
Setidaknya, ada nilai lain yang ada. Yaitu nilai ... Kegunaan? Sepertinya iya. Selain bak mandi yang mengelilingi pohon, sebuah sekat kayu dipastikan digunakan untuk menutupi diri saat berganti atau melepas baju. Jembatan kayu yang memotong bak mandi dipastikan untuk mempermudah prosesi ganti baju.
Dia kembali dibuat melongo oleh lin qingxuan Hujan es seketika memenuhi bak mandi kayu yang mengelilingi pohon itu. Shena sedikit takut jika kayu-kayu itu berakhir pecah.
Kali ini dia mengeluarkan kata bukan untuk mengusuir canggung, melainkan murni bertanya. "Jika menunggu es-es ini mencair, bukankah butuh banyak waktu? Makanannya bisa dingin."
Bayangkan, dengan es sebanyak itu, sekeras ini, betapa banyak waktu yang terbuang sia-sia? Tidakkah itu mubazir? Bukankah seharusnya detik menghasilkan uang?
"Kau bisa mencairkan ini."
"H-huh?"
Meski bingung mendera tapi apa itu berguna---tunggu! Apa seseorang sempat berpikir bingung itu berguna?--- Li na memilih bereaksi spontan dengan menjulurkan tangan ke arah tumpukan es. Dia akan mencoba
__ADS_1