
"Ling'er, apakah kau melihat paman Ming?" Yu Shan tiba-tiba teringat kepada Shen Ming.
"Paman Ming?"
Di tempat lain ....
Matahari kian memancarkan bias cahaya terang. Sinarnya menyinari jutaan embun dingin yang luruh dan bergelayut manja di atas dedaunan. Hawa sejuk pagi nan murni telah tercecah oleh seruakan bau anyir darah. Tak ada air mata mengiringi kepergian mereka semua yang tewas di medan laga. Bahkan, tiada yang menanyakan sebab musabab pemicu terjadinya pada peperangan sepanjang malam itu.
Sekelebat bayangan bergerak, menerobos semak belukar di tengah hutan dengan sangat tergesa-gesa. Sosok itu melesat menuju ke perkemahan yang sengaja didirikan pada suatu tempat cukup tersembunyi dengan sebuah sumber air menyerupai telaga kecil. Meskipun mata air yang mereka temukan tidak terlalu besar, akan tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan pasukan dari Hutan Seribu Malam.
Rupanya saat itu pun, Yang Shui, Qing Wei dan Shen Ji serta yang lainnya tengah gelisah menunggu kepulangan Yang Yuan. Mereka semua berkumpul di depan tenda masing-masing sembari menghangatkan badan di hadapan nyala api unggun. Sebagian orang lainnya juga terlihat sibuk menyiapkan menu sarapan pagi. Mereka bekerja dalam diam tanpa berani berani bersuara.
Sementara itu, Yang Hua lebih Secara diam-diam memutuskan untuk menyusul anak lelakinya dengan dikawal oleh salah seorang murid Sekte Lembah Kegelapan bernama Yang Lin. Pria muda itu memang masih berkerabat dengan Yang Hua dan menjadi pengikut setia saudara lelakinya sejak kedua orang tuanya tiada.
"Ah Lin, ikut aku menyusul bocah nakal itu!" Yang Hua berucap dengan nada tegas.
"Tapi, kondisi tubuhmu masih belum terlalu baik, Kakak!" Yang Lin memang sangat memikirkan kesehatan kakak sepupunya ini.
"Ah Lin, aku tahu kondisiku. Tetapi aku tidak bisa terus berdiam diri seperti ini! Seandainya Ah Shui tidak mencurangiku, mungkin aku sudah menyusulnya semenjak malam tadi!" Yang Hua bekata dengan sedikit marah. Dia merasa kesal kepada Yang Shui yang memberinya obat penidur tak seberapa lama setelah Shen Ji membawa Shen Ming.
"Itu karena Ah Shui tidak ingin Kakak terlibat langsung dengan pertempuran itu. Ah Shui mengetahui dengan jelas, kalau Ah Yuan sampai mengeluarkan roh pedangnya. Itu berarti dia mendapat lawan yang tangguh dan kuat." Yang Lin berkata sembari membungkukan sedikit badannya. Dia tidak ingin membuat saudara sebuyutnya ini salah paham.
"Tapi Ah Yuanku dalam bahaya besar! Tentu saja aku harus membantunya secara langsung!" Yang Hua mengepalkan telapak tangannya kuat-kuat. "Sebagai ayah dan juga gurunya, aku tak bisa terus berdiam diri seperti katak dalam tempurung yang hanya bisa mengintip langit dari celah retakan dan berharap hujan segera turun!"
"Dan jika terjadi sesuatu hal yang buruk terjadi pada bocah bengal itu. Bukan saja Fuyu yang akan menyalahkanku, tapi aku juga tak bisa memaafkan diriku sendiri!"
"Kakak, bersabarlah dan tolong jaga emosimu!" Yang Lin mulai mencemaskan keadaan Yang Hua. Tahap penyembuhan masih belum sepenuhnya berhasil, meskipun terapi sudah dijalankan oleh Yang Hua sejak sepuluh tahun yang lalu.
__ADS_1
"Aku mengerti dengan perasaan Kakak. Kami semua juga mencemaskannya." Yang Lin memilih untuk tidak lagi berdebat dengan kakaknya ini.
"Baiklah, kita berangkat sekarang!"
Sepertinya, ketenangan tak bisa hinggap dalam pikiran pria itu meski barang sekejap saja. Raut wajah Yang Hua memang tak menampakan sedikit pun kegelisahan. Namun, jauh di lubuk hati terdalam pria itu telah berkecamuk kecemasan yang luar biasa. Mata tajam pria itu menatap langit luas sembari melangkah menjauh dari perkemahan tanpa seorang pun menyadari kepergian Yang Hua dan Yang Lin.
Shen Ji terlihat mondar mandir selayaknya setrika arang yang sedang digunakan untuk menghaluskan pakaian. Wajah cantik gadis itu menyiratkan kegelisahan tiada tara. Sesekali mulut kecil semerah kelopak meihua miliknya terdengar mendesis dan menggerutu dengan suara tidak jelas. Gadis itu memang memiliki kebiasaan tidak bisa diam saat hatinya gelisah.
"Aiyaaaaa! Mengapa shifu tidak kunjung kembali?" Shen Ji bertanya-tanya sendiri sembari berjalan hilir mudik tanpa henti. Tentu saja, hal itu berhasil membuat Yang Shui merasa sedikit pening melihat tingkah gadis yang tak bisa diam setiap memiliki keinginan.
"Hua'er, tidak bisakah kau diam barang sejenak?" bertanya Yang Shui sambil memasukan potongan kayu-kayu kering ke dalam bara api. "Beristirahatlah meski hanya sejenak! Bukankah semalaman kau tidak tidur barang sekejap mata pun? Kalau shifu-mu tahu kau menyiksa diri untuknya, dia tidak akan senang!"
"Pamaaan! Shifu belum juga kembali. Bagaimana aku tenang?" sahut gadis bernama lain Ji Mei Hua dan bergelar Kecantikan Seribu Malam. Dia teramat mencemaskan sang guru yang ditinggal sendirian di penginapan malam tadi. "Seharusnya aku tidak meninggalkannya! Alangkah bodohnya aku ini!"
Qing Wei yang tak jauh dari tempat di mana Shen Ji berada, hanya bisa terdiam dan bersandar di bawah sebatang pohon sembari menyedekapkan kedua tangan di depan dada. Walaupun gadis itu tampak tenang, tetapi hatinya tidak kalah gelisahnya. Pimpinan pengawal bayangan itu berkata dalam hati. "Seharusnya aku tidak juga,meninggalkannya! Tapi, aturan ketua tidak bisa untuk tidak aku patuhi Apakah ketua mengalami hal yang sulit?"
"Nanti saja, Paman. Aku akan makan kalau shifu sudah kembali." Tentu saja Ji Mei Hua akan menolaknya. Dia lebih memilih kelaparan demi sang guru.
"Heeeeh, kau ini. Ya sudah, kalau tak mau." ujar Yang Shui seraya mengupas beberapa umbi untuk dirinya sendiri. Sesekali mulut pria itu meniup-niup tangannya sendiri. Yang Shui lalu menoleh ke arah Qing Wei yang sejak tadi tetap diam, pria itu mengulurkan umbi bakar pada gadis itu. "Ah Wei!"
Qing Wei pun hanya menggeleng kecil, bagaimana dia bisa dengan tenang mengisi perutnya tanpa Yang Yuan. "Terima kasih, Kakak Shui. Tapi aku juga akan menunggu ketua kembali. Ataaaau ... Kakak Shui, bagaimana, kalau aku menyusul ketua sekarang?"
"Bukankah itu sama saja kau melanggar aturannya? Ingatlah dengan darah itu!" jawab Yang Shui mengingatkan.
Qing Wei kembali merasa kesal dan menyesal kala teringat tentang perjanjian darah dengan Yang Yuan. Karena, hal itu membuat dia dan pasukan bayangan tidak bisa berbuat sesuatu tanpa seijin tuan pemilik darah sejati. "Kakak Shui benar, kami tak bisa berbuat sesuatu dengan bebas seperti yang lainnya."
Shen Ji tiba-tiba merasa mendapat kesempatan. "Kalau begitu ... bukankah sebaiknya aku yang pergi? Aku tidak memiliki perjanjian darah seperti Kakak Wei dan pasukan bayangan."
__ADS_1
"Bagus juga, tapi kau harus minta ijin terlebih dahulu dengan kakek gurumu." Yang Shui menyahut. Bagaimanapun juga, dia tetap tidak akan berani membiarkan gadis cantik murid kesayangan saudaranya tanpa persetujuan dari orang yang sangat dihormati oleh Yang Yuan.
"Baiklah, aku akan meminta ijin pada kakek guru!" Tanpa pikir panjang lagi, Shen Ji bergegas menuju ke tenda yang ditempati oleh Yang Hua.
"Dasar bocah itu!" Yang Shui dan Qing Wei hanya bisa menggelengkan kepala menatap kepergian Shen Ji.
"Dia memang gadis yang sangat beruntung. Adik Yuan sengaja tidak menanamkan darah pada tubuhnya, itu karena dia tidak ingin mengikatnya dalam suatu perjanjian yang menyakitkan itu," ujar Yang Shui sambil kembali menambahkan kayu pada api unggun.
Mendengar hal itu, Qing Wei diam-diam menjadi sedikit merasa iri pada Ji Mei Hua. "Kakak Shui benar, itu artinya ketua sangat mempercayainya dan tidak meragukan kesetiaannya sama sekali."
"Dan tentunya kau juga tahu, apa yang paling penting dari tanpa perjanjian darah itu." Yang Shui berkata sembari memasukan dengan tergesa-gesa sepotong umbi panas yang membuat lidahnya tersengat dan hampir menjadi mati rasa. "Aaawww!"
"Kakak Shui, hati-hati!" Qing Wei sangat ingin tertawa saat melihat Yang Shui memuntahkan umbi yang masih panas itu dengan raut wajah menahan penderitaan. "Bahkan tabib hebat kami pun masih tidak begitu sabaran saat kelaparan."
"Apa kau bilang?"
"Tabib hebat Sekte Lembah Kegelapan kami ternyata juga seseorang yang menjadi bodoh saat kelaparan." Qing Wei akhirnya membuncahkan tawanya hingga para pengawal yang ada di sekitar mereka saling berpandangan sambil mengangkat bahu masing-masing.
Walaupun dikatakan sebagai tabib bodoh, tetapi Yang Shui samas sekali tidak merasa sakit hati. Pria muda itu hanya tersenyum masam saat mengingat kecerobohannya sendiri. "Tabib bodoh karena kelaparan. Kurasa, itu memang tepat."
"Pamaaaaaan!"
"Kakak Weeeeei!"
"Hua'er?" seru Yang Shui dan Qing Wei hampir serentak.
...Bersambung...
__ADS_1