Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
Pemaksaan


__ADS_3

"Dan jika kami tidak membawanya sebagai bentuk pertanggung jawaban, bukankah kami akan kehilangan muka?"


"Lagu pula, dia juga yatim piatu jadi tidak ada seseorang yang akan memberatkan," lanjutnya.


"Begituu ... aduh, malang sekal i...."


Ekspresi marah samar-samar terpapar di wajahnya, tapi entah bagaimana dia terlihat seperti tidak sedang marah. "... Kalian!" Jari telunjuk An chi bergantian menandai muka dua orang tersangka. "Lain kali hati-hati! Apa bermain membuat kalian lupa akan keselamatan? Apa kamu ingin ibu ikut setiap kamu bermain supaya kejadian ini tidak terulang lagi, A-Li"


Pupil lin qili membesar pesat setelah kata-kata itu tersaimpaikan padanya. Dengan cemberut dia berkata, "Maaf, lain kali A-Li akan lebih berhati-hati lagi, Ibu. Ibu tidak perlu melakukan hal itu."


Dia sudah tahu apa hal yang menantinya jika sang ibu mengikutinya keluar atau bermain, hanya ada semu merah yang menghantui dirinya jika itu terjadi!.


"Jadi dia belum punya nama, ya?"


"Benar, apa bibi mau memberinya nama?." Ming mei tersenyum. Entah kenapa Li Na menangkap sesuatu dari senyuman itu. Seperti ...


"Apa boleh?"

__ADS_1


Li Na terkekeh. Raut An chi saat ini tidak seperti seorang ibu yang harus dihormati melainkan malah seperti teman yang bisa dikatakan menyenangkan. "Tentu, suatu kehormatan bagi saya."


An chi menggaruk dagu, berpikir keras mencari nama yang cocok. Dan akhirnya satu nama terlintas di otaknya. Binar lembut dimatanya berpendar saat berkata, "Bagaimana kalau ... Meili?"


"Itu bagus." Lin QiLi menunjukan kepuasan. Ming mei terkekeh pendek.


Li na melotot, dia mengerti maksud kekehan itu. Apa itu? Cantik, Anggun? Woaahh.


Sebelah mana, dari sudut mana, berapa titik kordinat yang menunjukan keanggunan li na


Jika cantik, itu tidak perlu diragukan lagi.


"Bagaimana dengan Ming bi?"


Dia berbalik dan meninju telapak tanganya sendiri, seolah seperti palu penghakiman. Dengan tekad bulat dia memutuskan. "Ah, MingXia saja!"


Li Na akhirnya menelan kembali suatu emosi. Dia hanya bisa berpasrah. "Baginda terlalu memeras otak hanya untuk sesuatu yang sekecil ini. Tidak apa, tidak pakai nama juga tidak apa-apa."

__ADS_1


An chi memberangut. "Tidak tidak! Kau harus punya nama! Namamu sekarang adalah MingXia! Titik tidak pakai koma!"


Hanya senyum patuh yang bisa li na dorongkan. Tak apa, itu tidak lebih buruk dari 'Meili'.


"Baiklah, sekarang namaku adalah MingXia. Xia’er sangat berterima kasih untuk ini ...." Untuk sejenak dia agak bingung harus memanggil apa."


"Bibi! Atau Kakak saja tidak apa-apa!"


Heh ... Bagaimana bisa dia begitu terbuka?


Dia seorang selir dari Kaisar yang memimpin seluruh klan yang berpijak di benua Qin ini. Bagaimana bisa dia ... Terlalu ramah. Bukankah dia setidaknya mengangkat dagunya setidaknya seinci lebih tinggi dari orang biasa?


Melihat sikapnya yang merentangkan tangan dengan mudahnya pada orang asing, li na agak khawatir tentang hidupnya.


"Saya rasa untuk memanggil baginda dengan 'Kakak', perlu banyak penyaringan lagi. Baiklah saya akan memanggilmu Bibi saja."


Pipi yang tidak terlalu tirus itu menggembung, memerangkap udara. An chi berdecak. "Hmppphh! Padahal aku berharap ada yang akan memanggilku kakak, setidaknya dengan itu aku merasa aku seperti muda kembali."

__ADS_1


Gila! dia gila! Tolong dia kumohon!.


__ADS_2