
Juga, jika memilih terbang sudah dipastikan tangan-tangan pucat itu akan menggapai dan menjatuhkannya, ya sudahlah pasrah. Eitt, kenapa sependek itu pemikirannya?
"Aku harus apa?" gumam Lu wei Otaknya ia putar mencoba menggapai ide yang tak kunjung didapat.
Shidi itu mengernyit saat mendapati sesuatu yang aneh. "Kau jangan menggelitikku, ginjalku bisa saja bergetar."
Getaran menyelimuti tangan membuat pedang hampir beberapa kali merosot. Alis Xing'er mengejang saat sebuah tangan menggerayangi pinggang, tak sudi diperlakukan seperti itu sesuatu yang sedari tadi ia tahan akhirnya terlaksanakan. Tangan yang dengan beraninya menggrepe dirinya harus berpamitan pada lengan.
Tangan itu terhempas dan tanpa sengaja menabok 'bagian belakang' salah satu murid. Pekikan kaget berganti menjadi umpatan.
Xing'er bersegera meminta maaf, setelahnya matanya bergulir menatap dua orang yang masih setia dengan posisi mereka. Yang satunya menonton dengan estetik, sedangkan yang satu melongo dungu.
Lu wei peka akan itu, dia menjawab, "Bodoh, kenapa tidak terbang saja?"
__ADS_1
Xing'ermemberang. "Kau yang bodoh!"
Jawaban itu rupanya membuat Lu wei tercerahkan, dia terkesiap dan berakhir bergumam, "Eh astaga ...." Shidi itu turut berpartisipasi---mengejek maksudnya, dengan mengeluarkan 'huuu'
Saat ini posisinya susah. Mau membuat array juga tidak bisa--- k-karna jika mereka membuat array itu malah semakin menguntungkan para hantu. Itu sama saja melakukan pertempuran tertutup, oke? Juga, jika memilih terbang sudah dipastikan tangan-tangan pucat itu akan menggapai dan menjatuhkannya, ya sudahlah pasrah. Eitt, kenapa sependek itu pemikirannya?
"Aku harus apa?" gumam Lu wei Otaknya ia putar mencoba menggapai ide yang tak kunjung didapat.
Shidi itu mengernyit saat mendapati sesuatu yang aneh. "Kau jangan menggelitikku, ginjalku bisa saja bergetar."
"A-apa apa apa?! Kau jangan menakuti!" Kepala bergerak patah-patah, dengan hati yang seolah tak ingin melihat sesuatu yang tertoreh. Benar saja, sudah diduga. Dugaan berganti kenyataan, membuat mulut melahirkan jeritan.
Sialnya, jantung Lu wei terkena imbasnya. Pedang yang tadinya terbang stabil karna keterkejutan kini mengakibatkan dua makhluk yang menaikinya direbut gravitasi. Umpatan tak lagi ditahan. Lu wei masih mengeluh ditandai elusan dibagian pantat seraya mulut yang terus bergumam mengumpat.
__ADS_1
Shidi itu tak punya waktu melakukan hal serupa, rasa takut masih menyelimuti hatinya. Namun tiba-ti---
"Lepaskan, lepaskan! Dasar anjing lepaskan! Kau anjing! Najis! Lepaskan bangsattt!!!" Hal tersebut membuat Lu wei diserang rasa terkejut kembali. Dia menoleh, pemandangan yang tersaji benar-benar menggetarkan ginjal.
Posisi bersila Shidi itu memudahkan hantu yang bergelayut di sekitarnya. Awalnya hanya menggelitiki bagian tubuh tertentu, tapi kini sudah lebih berani. Duduk dengan cantik di antara betis yang saling tindih. Sementara tangan mencoba membuka telapak tangan yang menutupi wajah si Shidi.
Teriakan bertambah histeris membuat Lu wei tidak tahu harus tertawa atau tersenyum miris. Dia masih murah hati makanya dia mengambil tindakan.
Dia mengelilingi dua makhluk yang masih dalam posisi itu. Ditemani tangan yang bergoyang seperti tidak ada yang terjadi, tapi jangan berbaik sangka dulu. "Maaf nona, tapi dari tindakanmu kau masih belum berpengalaman. Tidak berpengalaman dipasangkan dengan tidak berpengalaman, tidak akan bagus. Jadi, kau tidak pantas." Hantu itu seketika kaku, jimat yang menempel di tengkuknya yang menjadi penyebab.
Memanfaatkan itu Lu wei bersegera melakukan tindakan lanjutan. Telapak tangannya menyelip di antara ketek si Shidi, berakhir menggenggam dan mengangkat tubuh itu. Raut si Shidi menunjukan keberatan yang terlalu berat, tapi situasi memaksanya untuk menahan protes erat-erat. Namun, rasa kesal tidak bisa ditangani, kakinya mencari pelampiasan. Tendangan menyerang kening hantu itu, membuatnya oleng ke belakang.
Lu wei memuji. "Tendangan yang bagus, Shidi."
__ADS_1
"Diam!"