
Penantian Jin Huang akhirnya mendapat akhir bahagia. Sosok di depan sana baru Lin Qingxuan, tak perlu menatap muka, dari belakang saja dia sudah tahu itu Lin Qingxuan. Dia berteriak, "Yang mulia tolong aku!"
Lin Qingxuanbelum menoleh. Jin Huang melingkarkan tangan di sepanjang pinggang Lin Qingxuanmencoba membuat kepala itu berputar mengahadapnya. Hal yang menyegarkan hati Jin Huang dari ini adalah, Lin Qingxuan tidak melepaskan pelukannya.
Hal berikutnya bahkan lebih mengejutkan. Lin Qingxuan bertanya, "Kau kenapa?"
Gugup mendera, Jin Huang menjawab sebisanya. "I-itu! Itu ada hantu yang mencoba menirumu!"
"Benarkah?"
Jin Huang mengangguk sembari terus mengusapkan kepalanya pada punggung Lin Qingxuan.
Lin Qingxuan yang dia katai hantu, berkata datar. Namun, meski datar angin membawanya ke telinganya dengan lancar dan jernih. "Kau bodoh. Aku yang asli."
Bodoh? Nice Lin Qingxuan! Wahahahah.
"Wahh inilah definisi keindahan, hahahahahaha!" Hanya Lu wei yang berani tertawa, semua murid yang menyaksikan hanya bisa menampung tawa di mulut. Ada yang berakhir mengeluarkan kentut.
__ADS_1
Jin Huang memberang. "Kau yang bodoh! Dasar hantu laknat! Berani-beraninya meniru wajah calon suamiku! Aku mengerti dia! Dia tidak mungkin berkata kasar dan buruk rupa sepertimu!"
Namun, hadiah yang didapat dari perkataanya itu sungguh tidak lucu. Bukan, bukan Lin Qingxuan di belakang yang menjawab, melainkan Lin Qingxuan yang ia peluk. Lin Qingxuan yang ia peluk berkata, "Kau yang tolol."
Jin Huang sontak melepaskan tangan, dia baru menyadari tangannya menyentuh sesuatu.
Terpaksa, itulah yang mendorongnya melakukan sesuatu. Benar, sesuai dugaannya, Lu wei berdecih akan itu.
Dia menaiki pedang, mengayunkan tangan memunculkan hujan serangan. Sontak tubuh-tubuh yang terjalin rapi itu terpecah kembali. Lu wei menaikan ketinggian sedikit demi mengindari kotoran menempel di bajunya. Dia melesat mendekati Pohon Laknat, dengan latar belakang yang sangat epic. Darah, kulit, daging, tulang, tungkai, dada, kepala betapa indah mahakaryanya.
Xing'er mendapati itu sontak bertanya dengan suara keras. "Kau akan apa?!"
"Haaahhh???!" Sungguh, Xing'er ingin tahu, sebenarnya Lu wei ini niat menjawab atau tidak? Dia pikir keadaan setenang itu sampai-sampai gumamannya bisa tersampaikan. Xing'er hanya bisa lanjut menebas tubuh-tubuh yang mendekat.
Lu wei berjalan pelan tanpa beban, seolah pemandangan di sana tidak ada, bahkan cara jalannya sedikit kekanak-kanakan. Dia mengenakan cangkang transaparan, itu sebabnya para hantu tidak bisa melihatnya lagi, jadi bukan karna hantunya dungu. Tolong jangan lecehkan mereka lagi.
Jika sihir cangkang hanya melindungi tapi tidak menyembunyikan, lain halnya dengan sihir cangkang transparan. Sudah melindungi, membuatnya tak terlihat lagi, uhh paket komplit. Hal seperti itu sangat dibutuhkan oleh para pencuri.
__ADS_1
Hal di depan Lu wei saat ini tentu saja Pohon Cinta, dia berjalan mengitari seraya tangan menggaruk dagu. Lu wei berkata, "Dia tumbuh terlalu cepat."
Berputar sekali lagi, dan mengeluarkan kata lagi. "Dia makan terlalu banyak, aku takut dia akan meledak. Jadi, apa yang kulakukan nanti, tidaklah pantas disebut kejahatan."
Seusai terkekeh manis, dia meliuk berakhir terbang tanpa pedang. Tangannya bergerak membuat suatu pola, mulutnya bergerak acak tak menghasilkan suara. Mata yang membuka langsung di sapa cahaya biru gelap yang mengagumkan bercampur kelamnya warna hitam.
Sejurus kemudian, suara lengguhan yang besar, keras, juga memilukan memunculkan diri disertai sesuatu berwarna gelap yang keluar bagai ditendang dari tubuh Pohon Cinta. Dua pihak sama-sama melengguh, hanya berbeda volumenya saja.
Debu tanah menjadi penghalang apa yang terjadi, membuat mata tidak memiliki kemungkinan untuk mendeteksi apa yang terjadi.
Kini sesuatu yang besar, banyak, juga panas mendesak masuk mencoba memenuhi tubuh Lu wei. Rasa panas yang ditimbulkan bagaikan gambaran menelan api mentah-mentah.
Alis Lu wei mengejang, peluh tak terhitung jumlahnya menetes bak mata air. Sesuatu yang naik ke tenggorokan membuat alis Lu wei hampir bertaut. Semakin naik, naik, naik, itu keluar, didahului dengan bibir yang berkontraksi
Merah hitam, kental, sudah dipastikan apa itu. Darah yang terkeluarkan cukup banyak, cukup sepadan dengan apa yang akan dia terima.
Itu hanya pendapat dari salah satu sisi, bagaimana dengan sisi lainnya? Li na, bagaimana dia? Dia bahkan hampir merasa dia sudah di neraka! Rasa panas itu seolah ingin menghanguskan semua yang dilaluinya! Li na ingin rasanya keluar saja dari tubuh ini. Dia tidak kuat sungguh, dia lebih suka dendeng rusa super pedas sungguh!
__ADS_1
Erangan beberapa kali terlepas, peluh yang menganak mulai melambat, alis mendapatkan ketenangannya. Rasa panas juga semakin bersahabat, itu disebabkan dengan berakhirnya sesi panas ini. Semua itu telah terserap, membuat smirk tak lagi tertahan. Darah berperan sebagai pewarna bibir, sayangnya itu terlalu gelap, hanya angin yang membuat kadar estetik sedikit lebih banyak.
Hanya sedikit saja, benar benar sedikit