Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
175


__ADS_3

Semua hantu yang mengelilingi bangunan itu berakhir menjadi onggokan daging busuk. Li na menaik beberapa puluh centimeter, berdiri dengan ujung atap sebagai tumpuan. Matanya bergulir dilanjut kepala yang menoleh ke belakang. Hanya ada jalan yang dipenuhi hantu-hantu dan rumah-rumah yang masih setenang teratai.


Bagaimana bisa?


Gempa seolah berhati mulia. Menyerang yang bukan tempat bersarang.


Jangan bercanda.


Biarkan li na mengetuk pintu salah satu rumah, jika ada yang keluar li na akan tidak percaya ada yang keluar.


Bagaimana bisa?!


Air juga tidak akan menggenang tenang saat buaya berenang mengguncang.


L-lalu ini?!


Bagaimana bisa?!


Lolongan yang ada menarik kening li na yang terlipat, menyadarkan untuk dihancurkan kembali.


Diantara lautan kotoran berupa gumpalan daging dan kencing berupa genangan merah, benang merah terlihat dengan mudah, tapi memecahkannya adalah susah.


Tentu saja, karna itu benang.

__ADS_1


Bertarung.


Otak orang-orang yang masih berdiri tegak tidaklah hilang. Hanya saja keadaan memaksa mereka menjadi tidak berguna.


Selain melemparkan jimat, mengibaskan tangan, menendang, menggerakkan pedang, menghabisi mayat, penggabungan,  apalagi yang akan menjadi jalan?


Orang-orang yang berdiri tegak di sini hanya sekumpulan bocah bau kencur yang tidak sanggup mengguncang tanah karna kehebatannya.


Apa-apaan dalang dibalik ini!


Pengecut, memilih bermain dengan anak-anak!


Jalan-jalan diisi hantu-hantu, tapi mereka seolah buta dengan hanya mendekat ke arah kerumunan daripada menghancurkan yang ada dijangakuan. Terlalu rajin memang.


Ah, lengkapnya seperti ini, Bude ditambah Buta ditambah Cringe.


Cih, dipikir ini latihan khusus begitu? Membiarkan orang-orang tidak datang dan membiarkan hanya diselesaikan orang-orang yang terlanjur datang?


Kekesalan bergumul dalam dada, minta dikeluarkan. Baguslah, ada yang akan menjadi pelampiasan.


Satu tebasan, satu tumpuk kotoran dan kencing.


Namun, dari sekian tubuh pucat yang datang, kekesalan belum sepenuhnya reda. Li na berteriak sampai rasanya kepalanya terdorong ke belakang. "Sampai kapan ini berakhir? Sampai kapan mereka makan malam?! Sialan! Aku juga ingin makan malam!"

__ADS_1


"AP---" Sesuatu dijejalkan. Lembut, sudah hangat-hangat kuku, setelah satu gigitan dan rasa terdeteksi lidah,  li na menyadari, roti daging.


Berkedip cepat, dia lantas menggapai roti di mulutnya. Mulutnya sudah terbuka lagi, tapi lin qili buru-buru menyela.


"Itu! Makan dulu! Aku takut kau tidak bisa makan malam hari ini!"


Kulit kepala li na rasanya terpelantir. "BODOH KAU BENAR-BENAR PINTAR, A-LIIII!!!"


Melesat turun dengan sebongkah daging yang tersisip di antara jari-jari. Hendak di lempar, tapi mengingat cacing budiman diperutnya sudah protes, dia berhenti sejenak. Menatapnya dan berkedip, sungguh rasanya tadi tidak enak karna sangat enak!


Namun, melihat kotoran dan kencing itu rasanya Li na tidak bisa makan dengan mata terbuka. Setelah menusuk hantu di belakang, dia pada akhirnya tetap menelan roti itu.


"Apa benar orang-orang itu sedang makan malam?!"


Lin qingxuan dan Lin qili menjawab bersamaan. "Tentu saja tidak!"


"LALU INI APA?!"


Kali ini yang menjawab bukan hanya dua mulut. Melainkan puluhan mulut. "AKU TIDAK TAHU!!!"


"AAHHHH!!!"


"Yang Mulia, kekacauan di luar kendali kita. Hantu dari daerah kita sudah sangat banyak, di tambah hantu-hantu yang ada di jalan kosong, ini benar-benar kacau. Semuanya terasa kosong! Bisakah saya mengirim sinyal pada setiap daerah?!"

__ADS_1


__ADS_2