
Li na berbaring telungkup layaknya ular kobra. Kepalanya menghadap Lin qili. Ini waktu yang tepat. "Sebenarnya, dia sakit apa?"
"Aku tidak tahu."
Mulut Li na berkontraksi. "Huh?!"
"Aku tidak tahu apa namanya."
Li na benar-benar kehilangan otaknya. Otaknya hanya menyisakan beberapa kata. "Bagaimana bisa?"
"Aku tidak punya kata yang pas untuk menggambarkan penyakit ini."
Lin qili ini memang kadang menggemaskan. Suka membuat penasaran. Li na memilih sabar dan tetap mempertahankan nada bicaranya. "Memangnya penyakit ini seperti apa?"
"Sudah kubilang aku tidak punya kata yang pas untuk menggambarkan ini."
Gunung api di dada li na meledak. Mengakibatkan betis lin qili mendapat tabokan. Li na menedesis. "Menyebalkan!"
"Kakakku dia ...."
"Tidak lucu jika yang tadi terulang lagi."
__ADS_1
Seharusnya, jika tidak terkekeh masih ada senyum yang kemungkinan akan diterbitkan. Namun, wajah lin qili tetap tak berubah, terlalu biasa sampai tidak biasa. Terlihat sedikit murung dari bulu matanya yang seperti dedaunan yang tak diberi pupuk.
"A-wei, sakit."
Sungguh, entah apa yang merasukimu, kenapa dia jadi tidak jelas seperti ini? Selain memutar bola mata, li na tidak tahu lagi apa tanggapan fisik yang cocok dan lebih sopan. "Kau sakit?"
Lin qili menggeleng, satu tangannya menggantung dengan telapak tangan seperti mencoba meraih sesuatu. "Kau sakit."
"Lin qili, jika kau menjadi semakin tidak jelas, aku benar-benar akan membantingmu."
Perkataan itu bagaikan bola baseball yang memecahkan kaca, lin qili akhirnya menjadi jelas. Tawanya jernih disusul tubuh yang menjadi duduk. "Aku hanya merasa tidak sopan. Aku hanya menanyakan kakakku daritadi, aku, aku malu karna tidak adil."
Lin qili yang meringis terlihat lebih dari manis. Sayang sekali, orang yang menyaksikannya lebih dari lebih dari manis.
Li na memilih memandang bulan saja.
Hening dengan sontak menjajah, berakhir terusir saat li na membuka mulut. "Jadi, Shijie, dan dia juga belum kembali?"
Kepada si dia, tersenyumlah.
"Mereka mungkin malah sedang melindur."
__ADS_1
Mengingat betapa antengnya Ming mei saat tidur, li na benar-benar bisa merasakan bagaimana wajahnya di tabok, perutnya ditindihi paha, dan lehernya yang diberi pelukan tangan bagaikan tali gantung diri. Dia bergidik.
"Kau tidak bertanya yang lain?"
"Kenyataannya aku tidak bertanya ... Aihh ada apa?!!!"
Lin qili menjadi tidak jelas lagi. Dia menggeleng dan memilih beranjak. Dedaunan kering menjadi ekornya. Menoleh sejenak dan berkata, "Ayo kembali saja, jalan-jalan apaan."
Surga tahu betapa penasarannya li na. Dia tersenyum kecut dan ikut berdiri. Seraya berjalan dia memikirkan segala kemungkinan kenapa lin qili menjadi semenggemaskan ini. Memandang punggung lin qili sedetik, kemudian menunduk lagi.
Beberapa langkah lagi, gerobak bobrok itu akan terlihat.
Lima langkah, empat langkah, tiga langkah.
"Ayah, aku ingin bertanya tentang ini, siapa yang menggunakan komunikasi darurat saat tadi?"
Tuan jin terkekeh, giginya yang kecil-kecil terpampang. Terdengar bunyi benturan cangkir dengan tanah, disusul jawaban. "Orangnya sedang tidak di sini."
Orang yang tidak di sini ada banyak, itu membuat Jin Huang bertanya lagi. Kali ini bahkan ditambah kepalanya yang miring. "Siapa?"
Siapa? Kenapa kamu bertanya? Apa itu perlu?
__ADS_1