
"Aku tahu, mungkin sebagian dari kalian heran di mana letak yang bisa menyilaukan mata, tapi saat kalian menghadapinya nanti kalian akan tahu ada beberapa perbedaan."
"T-tunggu, menghadapi?"
"Apa?"
"Telingaku tidak menerima hal-hal mengerikan."
"Apa apa apa?"
"Iya, iya, iya, iya, apa?!"
" .... "
Sebuah kekehan manis tetapi mengerikan pada saat yang sama, An chu terlihat seperti sedang apa sih? Santai sekali. "Ya, anggap ini pengalaman yang bisa dijadikan bahan obrolan saat senja nanti."
Salah seorang murid lantas menjawab, "L-lalu apakah kami sendirian? Guru tidak ikut?"
"Tentu."
"Ahhhh!"
__ADS_1
"Tidak!"
"Aku ingin kembali jadi bayi saja."
"Sabar, orang sabar jidatnya lebar."
"Bagaimana bisa?!"
Lin qili memang pengertian. Mendapati banyak orang yang sekaum dengannya, dia dengan sedikit ragu mengeluarkan kata. "I-ibu, apakah ini tidak terlalu ekstrem untuk kami?"
"Kenapa? Takut? Dengan keyakinan, kau akan kuat. Lagipula ... A-Xuan, Nona Muda Kedua Lu, A-li, Nona Muda jin, lu xing, kalian yang rasanya meyakinkan di sini, jadi dimohon untuk bisa membimbing yang sekiranya butuh bantuan. Mungkin ada yang belum kusebutkan, tapi intinya jangan takut, semakin kalian takut semakin kuat ketakutan kalian."
Oke, mungkin hal di atas terdengar berlebihan. Namun, jika sudah terjun langsung kurasa pikiran kalian akan berubah.
Ada banyak yang menunggumu didalam kelamnya gelap. Mata merah, senyum miring, cekikikan. Hohooo.
An chi kembali berkata. "Oh, satu lagi ..."
" ... Meski rohnya belum lengkap, tapi saat sudah menjadi bayangan, mereka tetap dibekali otak dan tentu otak anak kecil. Jadi, sudah pasti kalian tahu bagaimana perangainya bukan? Eh, tapi faktor keturunan juga mempengaruhi. Anak Kecil ini sedikit meresahkan. Kebanyakan mereka akan menculik bayangan manusia, entah itu mau diapakan---baiklah anggap
saja mereka butuh hiburan. Kalian tahu apa fungsi bayangan, kan? Jika Bayangan ini hilang, sesuatu bisa masuk dan keluar. Tentu bukan sesuatu yang baik. Iblis Pengganggu Jiwa bisa saja masuk, dan inti roh bisa keluar perlahan. Jika inti roh keluar, yang terjadi sudah pas---"
__ADS_1
"Mati!" Pupil para murid membesar beberapa persen, kini tak ada pengecualian. Mereka kompak!
"Yap! Tepat." Jari telunjuk teracung di sandingi raut yang mendukung.
"Raut yang menakjubkan tapi sayang sekali tidak sesuai kondisi." Setelah bergumam, keningnya sedikit terlipat. Dia menyadari sesuatu. Bodoh.
Hei, apa gunanya bergumam. Ingat siapa An chi? Selir kaisar, guru, senior, sudah pasti kultivasinya tinggi pendengaranya juga jernih, lalu apa gunanya bergumam? Tidakkah itu sia-sia? Oke, anggap saja bentuk kesopanan---heh, membicarakan tanpa sepengetahuan, sopankah begitu?
Ungkapan kegelisahan, ketakutan, kekhawatiran, penyesalan hingga rencana melarikan diri terlontarkan. Saling tumpang tindih.
"Astaga, astaga, astagaaaa! Tahu begini lebih baik tadi aku tidak ikut. Bagaimana j-jika bayanganku diculik dan aku mati?!"
"I-ini sepertinya ujian dadakan lebih baik."
"Dia benar-benar menjadi beban kali ini, untung saja aku tidak bangga lebih dulu."
"Heh, ayo kabur."
"Dasar sesat! Kabur sama saja melemparkan dirimu pada masalah yang menggiringmu kekematian!"
"Hei, hei, hei. Sudah berapa lama kita berjalan tapi kenapa sunyi semakin menghiasi? Tidak ada tanda-tanda yang dicari ada, kau yakin ini jalan yang benar?"
__ADS_1