
Murid perempuan kembali bergidik karna itu.
Cekikikan manis tapi sinis tersiar disetiap penjuru, sayang sekali itu tidak memancing para Penagih Harta untuk bertindak tidak bijaksana.
Suara Penagih Harta masih tak tersisipi emosi. "Kata adil adalah persamaan dari kata seimbang. Bisakah kau jelaskan arti adil yang kau katakan itu?"
Pohon Cinta terkekeh sebelum menjawab, "Adil, tentu saja. Salah satu anak manusia tadi bertindak sangat-sangat sopan dengan mengambil tanpa izin salah satu organ teman-teman, ah! Jangan lupakan dia yang mencuri apel dan memakannya! Bagaimana apa ini tidak adil?"
"Tentu saja ... Tidak. Jumlahnya tidak seimbang! Klien kami berjumlah sekitar sepuluh, dan murid itu hanya mencuri tiga! Itu tentu saja tidak adil!"
Tanah menyembur entah dari mana Pohon Cinta mengeluarkannya, yang pasti para Penagih Harta bergetar menahan bersin.
Seusai mendengus, Pohon Cinta menanggapi, yang kata-katanya yaa ... Adil sih. "Kalau begitu akan kukembalikan tujuh, bagaimana?"
"Tentu ... Tidak!"
Seketika hujaman warna hitam memaksa semua hantu untuk berkelahi lagi. Pertarungan awalnya tidak seimbang. Namun, itu hanya kelihatannya, karna Penagih Harta yang berjumlah hanya sekitar tiga lusin mampu menghasilkan gundukan daging dan tulang hanya dalam sekali tebasan.
Lu weu sedikit was-was saat hantu yang ia hinggapi matanya sedang bertarung jarak dekat dengan salah satu penagih Harta. Namun, dia sedikit rileks karna hantu ini akalnya masih sedikit berfungsi.
Semburan darah hitam dari hantu ini menerjang bagian dada penagih Harta, sejurus kemudian pemandangan yang keren menyapa Lu wei. Lubang-lubang kecil terbentuk, semakin melebar dan meluas hingga akhirnya bundaran yang tembus pandang tercipta.
Lu wei berdecak. "Sungguh beruntung akal hantu ini bekerja sekarang, jika tadi saat kami bertarung bukankah masa depan para calon dewasa sepertiku tidak akan cerah." Kali ini tidak ada pekikan, mungkin para murid tengah merenungi perkataannya.
__ADS_1
Semangat merenung, ya!
Semua halangan dilewati dengan hati-hati, akhirnya mereka sampai di turet---Pohon Cinta. Lu wei berdecak saat menyadari jika jarak ranting pohon milik Pohon Cinta dengan tanah cukup sempit untuk tiga orang. Dia berbisik, "Aku sebenarnya malas berbicara dengan kalian tapi aku akan profesional. Bisakah salah satu dari kalian memasang sihir cangkang transaparan? Aku ingin turun untuk mengambil mereka."
Jin Huang menjawab, "Kau pikir aku akan mau?"
Sedangkan Lin Qingxuan masih tak membuka mulut. Raut Lu wei seketika mengecut.
Dia akhirnya hanya bisa pasrah. Dengan hati- hati dia---mereka mendekati Pohon Cinta. Sehalus mungkin Lu wei mengambil tubuh-tubuh itu. Berjalan lancar, sekarang hanya tinggal memikirkan tempat penampungannya.
Satu tubuh sudah ia pondong, dan satu tubuh lagi ia cangking. Lu wei berbisik lagi. "Bisakah jangan menjadi beban? Ambil ini." Tubuh yang ia cangkik ia gunakan untuk menepuk kepala Lin Qingxuan. Lin Qingxuan hanya bereaksi sesuai ekspektasi sedangkan Jin Huang melotot marah.
Jin Huang mengeluh saat beban dipaksakan untuk dicangking tangannya. "Berat."
Dia berteriak, "Fu Cheng tersayang ... muncullah!"
Sinar keemasan membentuk sesuatu yang panjang. Sisik emas berkilauan membuat sedikit cahaya. Ular terbang seketika tercermin dalam netra. Warna merah keemasan itu begitu mencolok sama seperti teriakannya. "Aku benci sandi ituuu!!!"
Lu wei tertawa. "Bukankah itu sesuatu yang indah?!"
"Indah pantatmu!--- aduh! Pelan-pelan! Punggungku bisa encok!" Naga itu menyemburkan api saat mendapati begitu banyak beban ditimpakan pada punggungnya. Sedangkan kaki diberatkan oleh beban juga. Dia menatap tajam pada Lu wei yang tengah tertawa tanpa dosa.
Lu wei melemper tiga tubuh---Lin Qingxuandan Jin Huang--- yang masih menjadi beban di tangannya dan satu lagi di pundaknya. Tiga tubuh itu mendarat dengan pasti. Lu wei terbang dan berakhir berpegangan pada leher Fu Cheng. Fu Cheng seketika tersedak api.
__ADS_1
Lu Wei masih tenang. Untungnya semua teriakan baik dari dirinya dan naga tersayangnya tidak menghancurkan riuh pertarungan itu.
Namun itu tidak benar! Objek yang berada tidak jauh darinya jelas-jelas mendengar! Dan menyaksikan semuanya! Pohon Cinta!
Fu Cheng yang mengerti adanya serangan sontak mengelak. Dipikirnya sudah aman tapi hujan serangan sontak membombardir dari segala arah!
Lu Wei sontak menyinyir. "Bodoh kita ketahuan!"
Fu Cheng tidak terima. "Memangnya siapa yang akan pintar jika ada di situasi ini?!"
Benar juga. Pasalnya menghindar atau tidak menghindar sama saja mengundang masalah. Jika tidak menghindar, sihir cangkang transparan akan hancur dan mereka ketahuan. Dan jika mereka menghindar itu sama saja mengekspos dimana letak mereka!
"Salahmu sendiri tadi berteriak!"
Lu wei melotot. "Aku beteriak karna memanggilmu bodoh! Salahkan kupingmu yang terlalu lebar bolongannya sampai-sampai tidak mendengar bisikanku!"
Saat sibuk saling menyalahkan diri, mereka melupakan sesuatu. Bukankah serangan itu masih menuju ke arah mereka???!!!
Namun, fu cheng dan Lu wei berakhir lega saat hujan serangan itu membeku.
Hawa dingin seketika menusuk, di temani kilap es yang menyakiti mata.
Jika fu Cheng bagai naga neraka, maka yang ini adalah kebalikannya. Warna putih itu begitu jernih, kilau es semakin membuat Lu wei terpukau. Tanduk biru tua yang mengkilap bagai berlian semakin menambah kata indah.
__ADS_1