Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
136


__ADS_3

"Kau! Kau! Kau! Ya! AKU MEMBENCIMU! KAU MENDENGARNYA, SIALAN?!"


Percikan api menyala, menari menghiasi netra Lu wei. Gerakannya semakin menusuk, temponya dipercepat. Karna tali yang membatasi ruang bergerak membuat perkelahian kali ini lebih menantang.


Kain lengan bergoyang tanpa tahu kapan tenang, pinggang berkelit dan meliuk seolah tidak takut patah. Masih sama, kebenciannya akan tetap bertambah.


Tidak peduli waktu, itu akan tetap sama. Ya.


Akan tetap sama.


Ya, tetap sama. Kebencian membawa energi secara tidak langsung. Menyeruak disetiap tebasan, meski tak kasat mata, Lu wei bisa menebaknya.


Benar, kebencian ini ada.


Ambil sisi baiknya---tunggu, memangnya ada?!


Ada.


Lesatan pedang Lu wei bertujuan leher ternyata membelok, membelah udara kosong. Lu wei tidak tahu harus bersyukur atau mengeluh.

__ADS_1


Kebencian ini belum tersalurkan sepenuhnya tapi tali itu lenyap terlebih dahulu. Tidak bisakah tali itu lenyap lengkap dengan Lin qingxuan


Masih mengatur nafas, pedang kembali memasuki sarung. Tentunya dengan paksaan. Hening untuk sesaat mengisi.


Angin membelai rambut juga kain lengan yang menggantung, gemersik daun tercipta dan getaran kebencian masih belum reda.


Lu wei menghela nafas dengan mata tertutup. Mulutnya terbuka membawa kata, "Dengar, aku terpaksa mengakhirinya, jika boleh aku ingin membunuhmu sekalian."


Lu wei berbalik dengan lengan yang mengibas tegas, langkahnya membawa degub jantung yang memburu demikian juga nafas.


Suara pedang memasuki sarung terdengar, di susul langkah kaki. Lu wei menaikkan satu alis, saat mendapati keganjalan. "Siapa bilang kau boleh mengikutiku? Berhenti atau pergi, itu pilihanmu." Ketukan itu bukannya lenyap atau melambat malah bertambah cepat dalam mendekat.


Tak ada detik untuk mengambil pedang. Satu dengan sayatan dan satunya dengan lebam. Cukup indah sebagai bukti jika mereka saling membunuh.


Namun, hal tak terduga justru yang menyapa mata.


Lesatan pedang melewati telinga, angin menggoyangkan anak-anak rambut. Kilat bilah yang memikat menyilaukan sudut mata. Terus melesat membuat Lu wei melotot.


Bukan hanya karna dia tidak jadi kehilangan kepala, tapi juga karna apa yang terjadi dipinggangnya. Sebuah lengan membelit pinggang berakhir menariknya mendekat.

__ADS_1


Sarung, lengkap dengan pedang masih bertengger di samping kepala Lin qingxuan, jika bukan karna hal lain, kepala Lin qingxuan pasti sudah melesat menjauh beberapa meter.


Hal yang menahan Lu wei adalah sesuatu yang benar-benar Lu wei lupakan.


Tali hantu hanya bisa dihancurkan oleh energi Yin, bukan Yang.


Awalnya Lu wei  diuntungkan. Selain bisa melepaskan tali, dia juga bisa berkelahi atau bisa saja membunuh Lin qingxuan. Itulah kenapa dia harus menghayati perkelahian tadi---sesungguhnya, tidak perlu dipaksa dia bahkan akan senang hati saat membunuh Lin Qingxuan Namun, dia melupakan akibat lainnya.


Lu wei berpikir 'akibat lainnya' itu tidak di sini---seharusnya tidak di sini!


Bagaimana bisa warna hitam itu muncul?! Oh, benar! Mereka terpancing.


Ya!


Ayo tebak! Jangan bodoh, ayo, ayo tebak. Waktunya hanya sampai tiga puluh detik.


Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas, tiga belas, delapan belas, sembilan belas, duapuluh. Hey, kenapa malah membaca? Bukankah kamu harus menebak?


Apa perlu menebak? Bukankah ini seperti melihat hitam di atas putih?

__ADS_1


__ADS_2