Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
147


__ADS_3

Selain banyaknya belokan dan licin disetiap inci, hal yang membebani juga terdapat dari panjangnya perjalanan.


Tepat setelah berbelok enam kali, dan menaiki tangga beberapa kali, akhirnya penantian ini terbayarkan.


Suara batu menabrak air menciptakan kedamaian murni, wangi berbagai bunga membuat hidung ingin berlama-lama menghirupnya. Jangan lupakan angin yang agaknya meniup dengan tulus sehingga rasanya sangat sejuk.


Daerah ini sedikit terpencil. Tidak banyak warna putih di sini. Pilar kayu menambah kesan elegan, bunga-bunga yang menjalari semakin melengkapi.


Rupanya, penantian ini belum terbayarkan sepenuhnya. Sebuah pintu yang mungkin bisa muat satu gajah dewasa dan satu gajah kecil, menyapa mata. Begitu juga dengan telinga yang di sapa kata.


Salah satu penjaga pintu berkata, "Nona, bisakah kau memberi alasan bagi kami untuk membukakan pintu untukmu?"


"Oh, A-Lu belum memberitahu kalian?"


Seketika raut datar terkesan waspada itu meleleh, digantikan raut yang menggambarkan kata maaf. "Maaf jika ini bukan nama umummu, anda Nona MingYu? Perawat pengganti yang dipilih khusus oleh Pangeran kedua?"

__ADS_1


Bukan! Aku bukan MingYu! Tapi Li na! Seseorang yang bisa meremukan hati tanpa unjuk diri! Camkan itu! Meski rasanya akan indah jika dia menjawab seperti itu, tapi dia memilih opsi lain. Senyum ramah mengawali jawaban. "Tentu saja."


Pintu terbuka lebar setelahnya. Tanpa membuang detik, Li na melanjutkan melangkah. Sedikit terkejut karna dia ternyata langsung masuk ke kamar.


Nampan sudah diletakkan, sekarang hanya perlu menyingkap seseorang dibalik pelukan selimut itu.


Namun, saat mendapati warna putih di rambutnya membuat Li na sedikit curiga. Jangan-jangan ....


Selimut tertangkap berakhir diangkat membuat orang itu terungkap.


Pupil Li na menyusut dibarengi tangan yang membungkan mulut. What the fuckkk!!! Aku akan gila jika mengurusnya!


Itu Lin qingxuan!


Tubuhnya terhenyak mundur dan menghasilkan dia ketahuan tentu saja. Entah dari langkah mundur spontan miliknya, atau dari angin yang menandakan dia ada.

__ADS_1


Kipas yang menggantung bergetar sejenak sebelum menampakan yang ada di dalamnya. Netra coklat terang bagaikan mata elang, menusuk membawa es di setiap lirikan. Namun, tatapan kali ini sepertinya tingkat kedinginannya masih bisa ditoleransi.


Li na tidak tahu harus apa. Haruskah ia kayang? Melompat keluar? Atau memilih menusuk nadi dengan jepit rambutnya? Karna, percuma saja nanti juga Lin qingxuan akan membunuhnya? Iyakan.


Aih, bisakah seseorang membersihkan otaknya.


Tawa canggung tentu saja harus dikeluarkan. Untuk melengkapi, tangan tentu saja akan menggaruk tengkuk meski tidak ada rasa gatal. "Errr ... Anu, s-selamat pagi."


Hening yang menjadi jawaban semakin membuat ludah susah ditelan. Li na memilih untuk tetap melanjutkan. "Sarapannya sudah siap, mandi dulu atau makan dulu?"


Sebisa mungkin dia menghindari mengucapkan kata panggilan untuklin qingxuan. Li na masih bingung, haruskah dia memanggil 'tuan'? Atau memanggilnya 'kau' saja? Atau malah bertingkah seperti Lu wei yang memanggilnya 'sialan'?


Lamunannya dipadamkan karna kata yang keluar dari mulut li qingxuan.


"Mandi."

__ADS_1


Astaga, bagaimana ini? Aku tidak pernah menjadi kru film kolosal. Apa aku harus memanaskan air? Peluh imajiner sudah menggantung di pelipisnya, ringisan tipis masih tetap terlihat. "Uh, kalau begitu saya akan meminta para pelayan membawakan air."


Tubuhnya yang sudah hendak berputar arah, terpaksa tetap ditempat karna kata yang mencegat.


__ADS_2