Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
153


__ADS_3

"Ratu, kue beras ini manis, cocok untuk menghilangkan pedas."


"Terimakasih."


Ratuuu???! Astaga aku bahkan belum beranak kenapa otakku setua ini? Aku bahkan melupakannya? Atau aku bertambah bodoh?! Jika dia bukan ibunya, siapa lagi yang punya hak memperlakukan Lin qingxuan seperti anak kucing?!


Ratu berkata, "Ini enak."


Tidak tahu apakah itu tamparan, tendangan, atau keduanya. Yang pasti, otak Li na kembali tidak ada. Dia menjawab dengan berani. "Tentu saja!"


" .... "


" .... "


" .... "


"Uhh ...." Peluh sudah menggantung dipelipis Li na. Posisinya bahkan menguntungkan untuk dipenggal saat ini.


Suara gagak diusir An Chi yang bertutur, "Ah, iya, A-Xuan, keadaanmu sepertinya sudah tidak buruk."

__ADS_1


Lin qingxuan yang ditanya hanya mengangguk dan bergumam. Sedangkan Jin Huang yang tidak dilempari malah memunculkan diri. "Tentu saja, bubur salmon mengandung banyak nutrisi untuk pemulihan. Aku harus berterimakasih pada tuan koki di rumahku karna sudah membagikan resepnya."


An Chi menjawab, "Itu bagus, kau harus berterimakasih dengan sungguh-sungguh."


"Tentu saja, Ibu Selir." Senyuman tersungging selebar yang JinHuang bisa.


Li na hanya bisa menyinyir dalam batin, Bubur salmon apaan?! Bukankah buburmu kemarin tumpah?


Obrolan manis mengisi detik adalah pendapat para serangga atau bahkan udara. Lain halnya dengan Li na, setiap detik diisi tanda tanya. Apakah tidak ada yang berniat mengusirku? Aku lelah seperti ini terus. Posisi sujud itu membuat punggungnya sedikit meregang, peluh yang merambat area leher semakin membuatnya tidak nyaman. Dan semua yang tidak mengusirnya membuatnya bertambah tidak nyaman.


"Kenapa kau masih di sini?"


Angin membawa apapun yang bisa di bawa, bulan berenang saat siang dan muncul kepermukaan saat langit berwarna laut. Beberapa hari terlewati, setidaknya tidak terlalu mencekik hati.


Li na sudah mencatat hal yang sangat penting ini:


-Lin qingxuan benci atau malah dibenci cabai, kata An Chi, dia ingin bisa makan pedas tapi lambungnya tidak merestui


-Sakitnya terlalu parah sampai-sampai melibatkan pengurus

__ADS_1


-Jika mandi hangatnya tidak boleh kurang dari hangat-hangat kuku


-Suka gula


Sejujurnya, sepertinya banyak, tapi itu seolah tersapu angin menemani debu.


Dentang pedang beradu, meramaikan siang yang seolah terpanggang. Matahari begitu terik, terkesan sangat bersemangat memanggang semua yang ada di bawahnya.


Liukan badan menghasilkan angin, tapi tidak terlalu menghempaskan rasa panas, justru malah bersekongkol dengan rasa panas.


Li na terkekeh manis dan menarik pedang lancang miliknya dariĀ  perpotongan leher Lin qingxuan. Menyarungkannya dengan suara khas, menegakkan kepala dan tersenyum. "Yang mulia sudah semakin baik."


Bara api rasanya tidak lagi melelehkan kulit, melainkan sebongkah daging yang seringkali bermusuhan dengan otak. Mencoba menghindari semu merah disadari, Lin Qingxuan berbalik dan menjawab tak acuh. "Tentu saja."


"Apa saya akan diberi hadiah karna berhasil membuat Yang mulia semakin baik? Haha .... " Tangannya mencomot sebongkah warna merah beralaskan kulit keras berwarna hijau, dia melepehkan biji dan melepehkan kata juga. "Terimakasih."


Pelayan itu mengangguk dan meletakkan nampan berisi potongan semangka di bawah pohon bambu. Berakhir pergi.


"Tentu."

__ADS_1


Mulut yang tadinya harusnya melepehkan biji semangka, berakhir harus merasakan biji semangka. Namun, keterkejutan membuat itu terlupakan. "Saya hanya mencoba melelehkan suasana. Yang mulia terlalu serius menanggapi." Tersedak tawa, akhirnya Li na memilih mengigit semangka lagi.


__ADS_2