
Ukiran naga yang tengah memeluk matahari tertanam di kayu pegangannya. Li na tersadar, ini bukan miliknya. Harus dikembalikan.
Belati itu menabrak pintu kayu---menghancurkan pintu kayu. Teriakan sontak terdengar.
Li na berlari mendekati, mendobrak pintu yang sudah setengah bobrok.
Saat matanya menangkap apa yang di dalamnya dia terkejut. Seolah melihat medusa, badannya mengeras dan menjadi batu.
Untungnya hanya gambaran. Dia berkedip cepat selama beberapa detik, menebalkan muka dan membalik badan. Berjalan kaku menuju ke arah dia datang.
Warna merah merekah seperti lili merah di wajahnya yang putih. Dia berpura-pura mengusek hidung dan menggerutu, "Apa-apaan rumah hangat, itu jelas membuatku bersin dan pilek, aduh dingin."
Sayang sekali, sekeras apapun dia meyakinkan orang-orang untuk tidak melihat ke arah rumah itu dengan mengeraskan bersin palsunya, kepala di dalam tabir itu tetap melongok.
__ADS_1
Oke, menyerahlah. Biarkan saja.
Meski jarak dan beberapa sekat berupa tembok kayu menghalangi dengan sepenuh hati, otak suci orang-orang itu tampaknya terlalu pintar.
Beberapa dari mereka mendesah, ada yang memalingkan wajah dengan telinga memerah, dan tersedak. Lain halnya dengan Lin qingxuan yang masih setenang capung di atas air.
Dikarenakan belati yang melesat tiba-tiba, pintu yang didobrak, dan seorang gadis cantik memergoki, orang-orang di dalam 'Rumah Hangat' itu berdesakan keluar untuk menanyakan masalah.
Para lelaki tidak tahu harus bagaiamana lagi selain menundukkan pandangan.
Satu sosok membelah kerumunan orang-orang dengan wajah di mana kata 'Dasar pengganggu' terlukis jelas. Gemerincing gelang kaki terdengar agak jernih. Suaranya juga. "Ada masalah apa sampai-sampai mendobrak pintu? Matamu keliru dan menganggap itu rumah nenekmu? Wahai gadis?"
Li na tersedak, dia memasang raut minta maaf. "Bukan begitu, aku, aku minta maaf. Aku terlalu gegabah sampai tidak mengetuk pintu terlebih dahulu. Tapi, tindakanku ini beralasan."
__ADS_1
Wanita itu menjawab, "Kalau begitu, katakan."
"Aku kagum dengan tempramen orang-orang yang ada di dalam tadi ... Uhh, m-mereka bahkan terus melanjutkan tanpa menghiraukan sesuatu diluar. Karna itulah, aku sedikit curiga, tapi makin kesini aku merasa aku buruk karna berburuk sangka. Hanya saja, belati yang datang dari rumah kalian membuatku merasa buruk sudah menganggap diri sendiri buruk."
"Belati? Nona, 'Rumah Hangat' milik kami memberikan kehangatan, bagaiamana bisa menyimpan benda tajam?"
Li na tetap bersikeras, meski peluh imajiner mulai menggantung di wajahnya. "Begini, bukan berarti kalian mempunyai senjata tajam atau bagaimana pemikiran kalian atas perkataanku, aku hanya berpikir, mungkinkah ada yang membenci 'Rumah Hangat' kalian, dan mencoba membuat orang berpandangan buruk pada 'Rumah Hangat' kalian ini dengan membuat pencemaran nama b-baik? Apa kau punya saingan?"
Wah, betapa licin pisau itu. Hati-hati, nanti teriris. Awalnya dia ingin jujur, tapi malah membelokannya. Namun, sepertinya, dalih itu agak tidak mencurigakan.
"Saingan? Perlu diketahui, di sini, Rumah seperti rumah kami hanya ada satu."
Dasar dunguu! Ini adalah daerah di bawah kekuasaan klan Lin, rumah-rumah seperti rumah itu mana bisa banyak? Aduh.
__ADS_1