
Li na menjengit, setelahnya kecepatan langkah melejit.
Dia memasuki ruangan tadi dengan membuat salah satu pintunya hampir copot. Mungkin jika pintu itu bisa bicara, maka dia akan berkata "Sopan sekali!"
Kesampingkan.
Langkah kian melambat seiring terkikisnya jarak antara tubuh dengan jendela. Angin dingin menjadi penyapa pertama saat itu terbuka. Serbuk sari yang tertanam apik di Bunga Mawar putih membuat Li na merenung. "Sebenarnya apa yang terjadi?" Dia menyangga wajah dengan telapak tangan.
Dorongan yang menyerang punggung, kabut yang menyembunyikan api, dan tubuh yang berusaha mengalahkan gravitasi.
Tanpa sadar satu tamparan sudah mengenai salah satu jendela yang belum terbuka sepenuhnya. Li na melotot saat mendapati jendela itu memantul kembali dan siap untuk membalasnya. Dia sontak mundur dengan langkah gugup.
Hempasan nafas menandakan dia benar-benar lelah. "Sungguh, aku sangat-sangat penasaran. Sebenarnya apa yang membuatku terjebak di sini? Apakah karna perlakuanku pada para mantanku sehingga mereka berakhir mengutukku?!"
Dia menjatuhkan diri, dan mengeluh sejenak karna menyadari ini bukan kasur empuk di zamannya. "Atau ini karna permintaanku dulu tentang membahagiakan orangtuaku? Aku meminta agar semua beban orangtuaku dihilangkan, jadi .... Begini? Sialan!"
Sinar lembut menjadi teman bagi sunyi. Hawa dingin membuat seseorang yang sedari tadi memeluk selimut semakin mengeratkan pelukan.
__ADS_1
Jangan tanya kenapa angin bisa masuk, tentu aja karna jendela yang rusak itu. Pembalasan dendam yang estetik.
Lagipula jika jendela itu tidak balas dendam, hawa dalam ruangan ini tidak bisa dideskripsikan hangat.
Jangkrik yang sedari tadi bernyanyi, menjengit karna suara pintu yang dibuka, volume yang dihasilkan seolah bisa melahirkan gempa. Begitu juga dengan Li na yang sedang berfantasi ria di balik mata yang terpejam. Dia terduduk paksa, masih dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya. Dia melatah, "Orang gundul bercukur!"
Dia belum bangun sepenuhnya, tapi goncangan berakhir pelukan membuatnya harus membuka mata sepenuhnya.
"Syukurlah, terimakasih dewa! Kamu bangun! Ya, kamu bangun!"
"Uh .... Bibi?" Satu alis Li na menaik berbarengan dengan kata yang keluar.
"Bibi menangis?"
Awalnya kilau air membuatnya memusatkan atensi, tetapi saat menyadari sesuatu dia terhenyak. Tangannya membawa selimut untuk menutupi wajahnya.
Namun, An Chi mencegah itu dengan lembut. "Tidak perlu, aku sudah tahu."
__ADS_1
Mulut membentuk bulatan kecil sebelum menggumam, "Ini ...."
"Benar, maafkan aku yang terlambat mengunjungimu."
Li na membatin, Tidak apa-apa, tapi akan lebih baik kau tidak berkunjung kali ini, lebih baik pagi sekalian. Sedangkan pada kenyataan, dia hanya bisa menyunggingkan senyum seraya bertutur, "Tidak apa-apa, Bibi memang perhatian." Balasannya berupa ringisan.
Hening sedetik, Li na merasakan sesuatu. Jemari An Chi menggengam tangannya. Jari telunjuk juga jari tengah menempel di urat biru.
Mata An Chi terbuka, disusul helaan nafas lega. "Sudah tidak ada."
"Apanya?"
"Racun tidurmu, sudahlah ini sudah malam. Kau harus kembali tidur."
Li na ingin mengerang saat dirinya di paksa untuk berbaring lagi, meskipun dengan lembut tapi rasa penasaran membuat itu terkesan kejam.
"Apa bibi akan tidur di sini?"
__ADS_1
Nafas An Chi memunculkan rasa hangat dan menyalurkan kedamaian. "Sepertinya bisa."
li na berakhir mengangguk. Namun, saat hendak menutup mata kembali dia tersadar akan sesuatu. "Kau ingin bergabung?"