
Tindakan yang sopan! Dengan tidak elitnya, dia menarik lin qili dengan posisi seperti itu, menggiringnya berbalik. Dia berkata disisipi tawa. "Baik! Baik! Cepat beritahukan dimana itu! Cacing-cacing perutku memang tidak sopan, aku baru saja memakan tiga bakpao tapi mereka malah melunjak. Aku lapar, A-lii!!!"
Perhatian! Tindakan diatas tidak patut dicontoh!
Bagaimana jika tiang yang disandarinya tidak cukup kokoh? Bukankah mereka akan beralih pada posisi yang lebih tidak elit lagi? Jatuh! Kuharap kau punya karung untuk menyembunyikan wajahmu.
Untung saja pengendalian diri lin qili tidak seperti jelly yang mudah meleyot. Dengan hempasan nafas dia akhinya rileks. "Di sini."
Di belakang terjadi pertunjukan yang mengandung makna dimana makna itu harus dilestarikan. Tiga orang diantaranya lin qili, ming mei, dan Tuan muda tadi saling melempar salam.
Tentu saja hukum dunia ini masih berlaku. Yang lebih rendah terlebih dahulu.
"Yang Mulia Putra Mahkota, Nona Ming, yang rendah ini memberi salam." Badannya menekuk, melahirkan posisi membungkuk.
Ming mei dengan sopan membalasnya dengan perbuatan sama tapi bungkukan badanya sedikit lebih tinggi. "Tuan Muda Qing."
__ADS_1
Sedangkan patung es di sebelahnya benar-benar menjadi patung es. Matanya bahkan tidak menyentuh seseorang di depannya.
Tunggu, apa berhenti sampai sini? Bukankah akan ada pertandingan! Kenapa kandidat yang satu hilang? Lebih tepatnya menghilang!
Oh tentu saja, si lawan tidak akan membiarkan. Tuan muda qing berteriak, "Nona! Jika kamu ingin makan dendeng rusa, aku tau tempat dengan rasa terbaik di daerah ini. Jika kau mau berbalik dan menemani tuan ini, tokonya akan kubeli atas namamu! Bagaimana?"
Murah! Masih digolongkan murah untuk ukuran seorang tuan muda! Tapi siapa sangka? Harga dari harga diri Li Na bisa seterjangkau itu? Apakah sedang ada diskon? Atau flash sale?
Ah, lupa bilang ....
Tanda tanya mungkin tadi menyerempet otakmu, 'kan?
Baiklah, baiklah, makhluk hidup ini akan menjelaskan ... Emmm menurut teoriku harusnya seperti ini ....
Pada saat pedang yang dingin sampai dikatakan pedang es milik si 'Dia' menabrak pelan leher li na yang jenjang, kemungkinan ada beberapa dari mereka, maksudku hal-hal yang berhubungan dengan pita suara terganggu hingga akhirnya ... Suara li na yang dulu terkesan ... Sedikit dibumbui aura mengintimidasi dan cenderung dalam, kini berubah frekuensi menjadi lebih tajam. Kasarannya, suaranya menjadi lebih cempreng dari yang sebelumnya.
__ADS_1
Suaranya seperti ... Tikus yang terjepit diketek orang yang habis lomba lari.
Aiyoo, beri sedikit muka! Kamu ini tidak cukup akhlak kah?!
Oke, maaf maaf.
Ganti sisiii!!!
•••••
Bunyi hentakan mengudara, dibarengi helaan nafas seringan Kapas.
Tiga orang di sepetak tanah itu tampaknya sedikit rileks setelah beberapa pertanyaan, dan kata terkemukakan.
Lin qili berucap, "Tampaknya keadaan tidak terlalu buruk dari yang kita pikirkan. Semuanya berjalan seperti air, tapi akan tetap ada batu yang berusaha memotongnya ...."
__ADS_1
"... Apa yang harus dilakukan di masa depan?"
Seusai menyeruput teh, ming mei menutup mulut sejenak. Setelah memfilter beberapa kata dia akhirnya berkata, "Air yang terus mengalir tidak akan mudah terputus oleh batu, sekeras apapun batu mencoba sampai tekadnya bisa dikatakan seperti namanya sendiri ... Itu cukup melelahkan sampai membuat bosan."