
87
Bukan Lu wei jika tidak meresahkan. Tangannya membuat pola, jika hampir tergapai dia akan meninggi, dan sebaliknya. Senyum mengejek juga turut dikakukan. "Ambil kalau kau bisa."
Sayang sekali, ini tidak sesuai ekspektasi. Shidi yang menggemaskan itu rupanya sudah tidak terpancing kail lagi. Murid tadi berhenti, bibirnya sedikit mengerucut mengakibatkan tangan Lu wei refleks memberi tamparan kecil. "Bibirmu sepertinya bisa dikucir."
"Semba---"
Setelah memasukan potongan daging pada mulut bundar itu, tangannya yang tidak bisa terkontrol mencubit pipi berisi itu. Ya ampun, jika dia tampan bukan ini yang akan Lu eei lakukan. Apa yang akan dia lakukan? Apa pantas ditanyakan?
Sebuah kata menyedot semua mata. "Puas?"
Lu wei mendapati siapa yang berkata, dan mengerti untuk siapa kata itu mengudara. Terpampang Jin Huang dengan berbagai emosi bergumul dalam wajahnya, tersamarkan oleh raut datar tapi bibirnya tetap diselimuti getaran.
__ADS_1
jin Huang mengulang kata. "Puas?"
"Perutku belum kenyang, maka kata puas belum ada. Para saudara seperguruan sekalian, hal yang harus dilakukan selanjutnya adalah ucapkan terimakasih pada dua calon pasangan di sini. Berterimakasihlah dengan sangat sungguh amat besar kepada mereka."
"A-apa maksudmu?"
"Oh, kurang jelas? Apa kalian tidak membaca goresan pada dahan pohon tertinggi waktu kita pertama kali datang? Bukan tempat biasa, butuh banyak usaha. Jika ingin benar-benar mengetahui dan mengerti isi, ada biaya yang menjadi kunci. Kurasa benar seperti itu, kalian tidak membacanya?"
"M-mana ada? Kutanya apa ada yang melihatnya?"
"Aku juga tidak melihatnya."
Lu We tidak mampu menahan hasrat memutar bola mata, decihan juga turut terlaksanakan. Bagaimana mungkin mereka tidak membacanya? Itu tertulis jelas dengan warna merah menyala, juga itu tidak ditulis menggunakan energi spiritual jadi sudah tentu orang-orang bisa membacanya tanpa syarat. "Segeralah periksa mata kalian, agaknya sudah mulai memburam."
__ADS_1
Pelototan, desisan, nyinyiran, itu sudah akrab, Kawan. Dia tidak heran. Lu wei membalik badan, melangkah perlahan sembari mulut yang bergerak mengatakan, "Baiklah, sekarang berterimakasihlah."
"Terimakasih banyak Nona Jin dan Yang Mulia Putra Mahkota."
Namun, agaknya Jin Huang belum terpuaskan. Dia menengadah, menatap tubuh tinggi yang berjarak belasan langkah dari tubuhnya. "Jadi, kau membuatku membayar biaya masuk?" Kekehan hambar ia lakukan saat mendapati jawaban berupa anggukan. "Kau memang baik." Setelahnya mulutnya berkomat-kamit menciptakan kata yang tak terucapkan.
Lu Wei menangkap apa arti itu, 'Menjengkelkan begitu, mungkin. Dia menjawab, "Tentu, terimakasih."
Betapa baiknya dia. Orang tua ini benar-benar takjub akan betapa baiknya---meresahkannya manusia satu itu. Membuat seseorang mentraktirnya---tidak, semua murid dengan disengaja. Uangnya mungkin bisa digunakan untuk membiayai hidup orang tua ini. Oh, tolong timbun saya dalam uang.
"Baiklah, sekarang saatnya menjelajah ... yang sesungguhnya." Hempasan nafas terhempas berbarengan dengan badan yang sudah berganti arah.
"Sesungguhnya pantatmu, jadi yang daritadi dilalui itu apa jika bukan menjelajah?"
__ADS_1
Lu wei menghela nafas. Derap langkah berhenti, disusul terlontarnya jawaban. "Teman, jangan memperjelas statusmu. Banyak-banyak lah membaca. Ingat kataku yang tadi? 'Bukan tempat biasa, butuh banyak usaha. Jika ingin mengetahui dan mengerti isi, ada biaya yang menjadi kunci'. Mengerti? Biaya ada banyak bentuk, salah satunya adalah ini. Masalah, masalahlah biayanya. Kalian sekarang mengerti?"