Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
29


__ADS_3

27


Lambaian tangan dengan angkuh mengoyak angin. Tuan muda qing tampkanya puas akan debut kekerenannya kali ini. Pikirannya dibenuhi bunga mawar yang bermekaran. Pasti dia terpesona! Heh, aku memang mempesona.


Aduh, sayang sepuluh sayang itu tidak seperti itu sayang. Anak manis ini, uhhh! Orang tua ini ingin menamparnya dengan upil.


Keheningan menenggelamkan waktu, cukup lama hingga akhirnyaa malam memunculkan kelam miliknya. Tersadar, li na menginterupsi dengan suara rendah. "Sudah malam."


Seutas kelicikan---lebih tepatnya kecerdasan--- lu na berbalik dengan kurva bibir yang naik. Dia berlari kecil sebelum akhirnya melahap target, tangannya kembali melingkari lengan Tuan muda qing.


"Gongzi, bulan sudah datang. Apa kamu tidak merasa lelah? Sebaiknya pesan penginapan ... Oh iya, pesankan untuk mereka juga. Bolehkan?." Jurus rendahan miliknya ia gunakan, puppy eyes. Yeah, sejauh ini belum pernah gagal.


Gurat keberatan terlukis samar. Tuan muda qing terbatuk pelan mencoba melincinkan tenggorokan. Tidak panik, tidak panik, dia jelas tidak panik. Phei! Tidak panik dengkulmu! Uangnya sedari tadi meninggalkannya terus menerus, tidak setia padanya. Hingga kini hanya tersisa beberapa yang masih menyayanginya. T-tapi ... Tapi, dia harus mengeluarkan mereka lagi?!


Hey, hahhh!


Namun, demi kelancaran misinya dia tidak bisa setia lagi pada uangnya. Keengganan terbasmi oleh ide yang muncul mendadak di otaknya.


"Di dunia ini tidak ada yang gratis. Aku minta sesuatu darimu, tidak mahal."


Li na spontan menjawab, "Apa itu?"

__ADS_1


"Namamu."


"Huh?"


"Kamu belum memberitahukan namamu padaku."


Bau-bau kejahilan menyeruak, menodai penciuman ming mei. Berdecih lirih saat tau apa yang akan terjadi beberapa detik berikutnya.


"Baiklah, namaku, ya?"


Kejahilan menerawang dimatanya. Decakan mendahului jawaban. "Namaku? Aduh, sayang sekali ...."


Spontan, Tuan Muda qinv menjawab,


"Tidak, tidak apa-apa, Sayang."


Bersamaan dengan itu, seseorang menenggak habis satu kolam cuka. Kasihan sekali, sosok itu pasti dendam pada rasa asam yang familiar ini.


Tuan muda qing termenung.


Matanya bergulir untuk menatap li na. Senyum semanis tanghulu membuat hatinya tenggelam dalam rasa yang aneh. Cenderung terjerumus dalam sesuatu.

__ADS_1


Li na masih mempertahan raut madunya. Cengiran berisikin deretan gigi rapi itu menyadarkan seseorang.


Blamm!!!


Saraf otak Tuan Muda qinv rupanya tidak berkerja lagi. Dia tidak bisa menahannya.


Warna merah pada pipinya membuatnya malu sampai rasanya dia ingin masuk ke perut ibunya lagi. Apa dia baru saja ... Baru saja, mengatakan s-sayang?!


Tolong berikan korek kuping! Dia khawatir ada kesalahan teknis!


Nona ini terlalu blak-blakan! Aku salah sasarann! Ibuuu.


Tawa meledak dengan dahsyatnya. Lu na tidak bisa menolak untuk tergelak. Matanya menyipit dengan cairan bening yang hampir beberapa kali terjatuhkan. Astaga dia benar-benar manis!!


Belum reda rasa kemenangan membuainya, li n terpaksa berkata, "Jangan dipikirkan, aku hanya bercanda!" Namun, rasa geli pada perutnya memang kejam, dia malah menaikan volume tawanya saat kalimat itu rampung.


"Namanya MingXia," Ming mwi melirik li na, "dan kau! Berhenti tertawa! Tawamu seperti dengkingan keledai, mengganggu telingaku saja."


Sejujurnya yang membuatnya terganggu bukanlah tawa itu, melainkan bau cuka yang terus bertambah mengotori udara bersih di sekitarnya. Perlu diketahui, dia seseorang yang cinta kebersihan.


Percuma! Tawa itu bukannya melirih malah melejit lebih nyaring lagi. Dasar, tuman!

__ADS_1


Kata apa lagi yang bisa menggambarkannya?


__ADS_2