Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
48


__ADS_3

45


Ambil hal yang positif kawan. Setidaknya dengan ini garis pembatas itu tidak berlaku lagi padanya. Dan yang paling menguntungkan adalah dia juga bisa makan dendeng!


Baiklah waktu mengisi perut telah selesai. Sekarang babak mendebarkan akan dimulai.


Suara gong kembali terdengar, mencuri semua atensi.


"Baiklah murid-murid saatnya kembali! Babak pengujian akan dimulaiii!!!"


Eh, mau mulai ya? Ya ampun dendengnya belum habiss ahhh!!


Mau tak mau juga karna dirinya tidak memiliki kontrol pada tubuh ini jadi buat apa menolak?


Semua murid kembali dalam posisi awal, berbaris serapi tentara semut.

__ADS_1


Masuk ke bagian pembagian, setiap tingkatan memiliki kelompoknya masing-masing, lain lagi dengan tingkatan yang digapai Lu wei. Dia sendirian.


Baguslah, tidak ada lalat yang akan menggangu.


Pengujian sebenarnya hanya sebagai penilaian awal bukan perkara diterima atau tidaknya.


Sudah pasti tidak adil jika mengadu Ayam dan Singa. Jadi, satu tingkatan memiliki pertarungannya sendiri. Merah melawan merah, kuning bertarung dengan kuning, hijau menebas sesama hijau. Begitulah.


Lantas, bagaimana dengan si ungu itu? Bukankah dia tidak ada teman sekaligus lawan?


Oho, itu ... Tentu saja sudah diatur. Lawannya adalah seseorang yang sering kali kedapatan tidak bisa mengalihkan pandangan dari calon lawannya itu.


Semua tingkatan memiliki daerah tanding tersendiri. Entah itu di hutan, bukit, lembah, pinggir laut, di lapangan es, semua tergantung si penilai dan pembimbing


Tingkatan ungu memiliki keistimewaan tersendiri. Tempat pengujiannya bukan di luar istana lagi, melainkan di dalamnya. Tepatnya di lokasi pelatihan khusus keluarga kerajaan.

__ADS_1


Lu wei menghela nafas, setelahnya dia membatin, Tau begini lebih baik tadi tidak usah kutunjukan semua energiku dipengujian tadi. Astaga warna putih ini membuatku pusing.


Akhirnya li na memiliki seseorang yang sefrekuensi! Tidak tahu apakah nenek moyang klan lin ini pecinta kebersihan atau sangat-sangat memuja warna putih sehingga jadi seperti ini. Kau benar! Warna putih ini memang sedikit membuatku bergidik hanya karna melihatnya! Para keturunan lin yang mungkin tercoreng dunia luar sudah pasti memiliki keinginan untuk mengganti dekorasi monoton dan membosankan ini!


Semilir angin mengguncang pelan lengan baju Lu wei , bersamaan dengan itu suara kasim terdengar. Memberitahukan siapa saja yang masuk.


Berisik! Telingaku tidak tersumbat kotoran! Tidak perlu sekeras itu! Jangan tanya kenapa Lu wei e hanya bisa menuangkan kekesalannya dalam benak saja. Tentu saja karna pesan kakaknya yang menyuruhnya untuk bersikap manis.


Sesaat kemudian beberapa derap langkah mengetuk tanah dengan anggun.


Ketika bayangan tertangkap lewat sudut mata, Lu Wei sontak menegakkan badan. Menghadapkan badan kepada yang kebih tinggi lalu membungkuk memberi hormat. "Hormat hamba kepada yang mulia kaisar, ratu, selir, dan pangeran. Semoga selalu dikelilingi kebahagiaan dan diberikan umur sepanjang umur kura-kura."


Kaisar tersenyum dan mengangguk. "Kamu bisa duduk."


Dayang-dayang mulai datang. Beberapa yang bertugas melayani Lu wei agak membuat Lu wei  bergidik ngeri melihat betapa tunduknya kepala itu.

__ADS_1


Kuharap basa-basinya tidak terlalu panjang. Li na membenarkan, memang membosankan jika separuh waktunya yang berharga dibuang hanya untuk kata-kata yang dikeluarkan tanpa disisipi rasa dan tujuan.


Beruntunglah kaisar bukan orang yang suka basa-basi. Setelah menyesap tehnya dia langsung mengantar tanpa memperpanjang jalan, langsung keinti. Mungkin dia menganut prinsip waktu adalah emas


__ADS_2