
Li na menjengit, setelahnya kecepatan
Ming mei yang sedari tadi duduk dan menyemil anggur seketika menaikkan pandangan. Dia mengangkat alis. "Ada syaratnya, apa kau mengorok? Apa kau suka menendang saat tidur? Apa kau mengiler? Jika iya, aku akan kembali saja."
Ini masih malam tolong, jangan memaksanya erosi lagi. Li na menghela nafas dan menggunakan nada sabar saat menjawab, "Tentu tidak, kenap---"
An ChiĀ menyela, "Sudah-sudah, aku lelah."
Terlihat Ming mei menimbang sesaat sebelum berakhir menjatuhkan diri di sisi Li na.
Li na berpikir hawa dingin masih tetap ada, begitu juga dengan kedamaian. Namun, itu dihancurkan oleh beberapa tendangan, sikutan, tabokan, dan pelukan dari Ming mei. Li na merasa dia menjadi lebih sabar akhir-akhir ini.
Paginya, dia memiliki lingkaran mata.
"Selamat pagi!"
"Uhh, selamat pagi."
__ADS_1
Sayang sekali, nada riang yang dilontarkan Lin qili dibalas nada malas di temani uap yang mengepul.
Lin qili menggeleng saat mendapati pemandangan di depan sana. Bantal entah terbang atau bagaimana sudah tergeletak di lantai. Selimut yang sudah tidak terlampir di kasur, serta dua orang yang masih tertidur.
Setelah meletakkan nampan berisi makananan, lin qili melangkah mendekat ke arah kasur ditemani senyum sedikit jahil.
Ming mei yang dijadikan tujuan pertama. Lin qili menggerakkan telunjuk, membuat isyarat untuk sesuatu supaya mendekat. Benar saja, sebuah daging dengan kilat bumbu sudah berada di atas hidung Ming mei
Mata Ming mei belum terbuka sepenuhnya, tapi dia sudah melangkah mengikuti dan sesekali oleng. "Uhmm ... Ayaaam ...."
Kekehan lolos dari bibir Lin qili juga li na. Li na membatin, Aku tidak tahu kalau ming mei sekonyol ini.
Apa itu tepukan atau hanya tangan yang menempel? Li na bahkan tidak bisa menangkap suara dari itu. Huh, sudahlah ayo makan saja.
Melihat muka jutek Ming mei lagi entah kenapa pftt lolos kembali. Hal itu membuat Li na mendapatkan tatapan laser.
"Apa yang kau lihat?!" Santai, kawan. Tolong.
__ADS_1
Li na menjawab tak kalau sinis. "Tentu saja bukan kau!"
Seminggu telah berlalu, yang mengisi tentu saja hanya hal basi. Tidur, makan, buang air. Begitu terus. Li na patut diberi apresiasi karna bisa tahan dengan itu.
Seminggu telah berlalu, tetapi keganjalan masih mengganjal.
Seperti biasa, Li na sedang melamun sembari menyangga wajah di jendela. Entah sejak kapan tempat itu bergelar tempat kesukaan.
Dia benar-benar tidak datang?
Meski wajah Lin qingxuan tampan---sangat tampan, tapi semenjak semua yang ia lalui, wajah Lin qingxuan berganti creepy. Namun, Li na tak menampik rasa penasaran tentang apa yang menyebabkan dia tidak mengunjunginya.
Dorongan rasa kesal dilengkapi bosan membuatnya menerbangkan poni dengan menyemprotkan nafas. Dia berdecak dan memilih untuk menyentili bunga mawar.
Beberapa menit berlalu, telinganya akhirnya mendapat asupan.
"Xiaojie, anda benar-benar bekerja keras hari ini. Semoga dewa memberkatimu!"
__ADS_1
"Terimakasih."
Mata membulat dengan sangat, wajahnya tergelincir karna tangan yang menopangnya tidak lagi kokoh. Li na sontak membalik badan, berlari mendekati pintu dan berakhir menempelkan telinganya pada papan pintu. Suara ini ....