
71
Suara kali ini lebih dalam, tentu karna dia laki-laki.
"Keluarlah." Suara An chi sedikit samar.
Suara langkah kaki berasal dari berbagai penjuru, semakin dekat dan lambat. Setelahnya formasi barisan kembali tergambar dengan rapi. Bulan bisa terlihat di depan sebelah kiri. Posisi An chi tepat di bawah bulan.
T-tunggu, ini benar-benar sudah berakhir? Tapi kenapa raut bibi menggambarkan sebaliknya?
"Meregang, beri jarak satu sama lain sekitar satu lengan. Yang barisan depan, julurkan lengan ke samping kanan. Lalu turunkan tangan. Yang barisan mengikuti."
" .... "
"Ubah posisi menjadi setengah miring ke kanan."
" .... "
Sebentar, ini sedikit mirip ....
Kilatan mampir kilat dalam netra, An chi sudah melayang beberapa kaki di depan sana. Detik pertama mereka mendongak, sorotan cahaya begitu terang menyiksa sebagian besar mata. Tak ada detik untuk terkesiap, suara An Na lebih dulu menyambar telinga.
"Tetap pada posisi! Jangan bergerak seinci pun!"
__ADS_1
Gumaman sebal bercampur penasaran Lu wei siarkan. "Ada apa, huh? Kenapa misterius sekali? Ku rasa tidak ada apa-apa." Namun, sesaat setelah dia tanpa sengaja menunduk, pupilnya membesar beberapa persen.
Benar, tid---astaga itu hilang! Bayangannya hilang!!!
"A–apa yang terjadi dengan bayanganmu!!!"
Teriakan itu melahirkan reaksi spontan, seperti menoleh dengan cepat, bertanya-tanya, hingga menjerit atau mencicit.
Riuh yang ada menyamarkan An chi yang tersedak. Beberapa kata keluar dengan tatapan mata tertuju pada satu titik. "Sudah kuduga. Mereka datang."
Li wei mengangkat satu alis. "Siapa?"
"Anak kecil."
Ya, ya, ya. Glutuk-glutuk lagi. Dia---mereka datang lagi.
Belum sempat keriuhan akibat bayangan yang hilang itu terselesaikan, getaran ini malah makin memperparah.
Kali ini, bukan hanya glutuk-glutuk saja. Beberapa teriakan, lengguhan, hingga suatu benturan terpaparkan. Satu persatu mulai tumbang.
Para murid yang masih berdiri tegak sontak meloncat dan terbang.
Sebuah stigma tergambar dengan jejak serbuk menghiasi. Sebuah tulisan rumit tergambar dengan tidak estetik---astaga sopan sekali! Bukan, bukan tidak estetik hanya saja jika melihat pola itu sama saja melihat soal Matematika.
__ADS_1
Pola itu berputar, perlahan sinar redup yang terpancar semakin meredup.
Suara tangisan bayi bagaikan dendam pada telinga. Menghujani, tanpa tahu kapan berakhir.
Xing'er bertanya, "Hey, kenapa ada suara bayi?"
"Tanya saja pada nyamuk yang lewat."
"Pantatmu!"
Berhenti beromong kosong! Mari beromong satu, haha bercanda. Kenapa? Karna ku Slow ....
Dua kucing garong itu benar-benar tidak pandang situasi jika ingin bercekcok. Membuat sebagian usus orang-orang di sana terpelintir.
"Bisa-bisanya ada orang yang begitu pandai beromong kosong."
"Bisa-bisanya ada orang yang begitu mirip dengan Bebek." Xing'er dan Lu wei menjawab bersamaan, sebuah kombinasi yang menyakitkan.
Si bebek itu terkesiap, tapi karna rasa malu menguasai hati membuat mulutnya terkunci, sehingga tidak bisa menyikapi. Mencoba bersikap tidak ada apa-apa, dia mengerahkan energinya lebih lagi. Reaksi itu melahirkan dengusan dan senyum miring didua kucing garong.
Sebuah kubah terbentuk, membuat ruang kecil dalam kungkungannya dan pasti itu lebih aman daripada ruang yang lain.
Hentakan kaki disusul debu, sebuah pemandangan yang menakjubkan jika dilihat dari mata hewan kecil.
__ADS_1