Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
190


__ADS_3

Lin qili sebenarnya agak tidak enak menyela, tapi pada akhirnya dia tetap melakukannya. "Bukan itu, tapi orang-orang yang lain."


"Yang lain---astaga! Aku sudah tua, makanya lupa." Riak di wajahnya terlalu kentara.


Lin qili berpikir ini tidak terlalu buruk. Dia tidak marah dan menjawab dengan biasa. "Tidak buruk, aku akan ikut."


"Aih, lalu bagaimana dengan tugasmu, yang lain?" Meski terlihat seperti patung pajangan, li na tetap hidup.


Yang menjawab malah yang bukan ditanyai. Wajah Paman itu bertemu wajah li na. "Tugas lain?"


Lin qili: "Benar, beberapa hari---dua bulan yang lalu kami bertemu teman yang membebaskan banyak budak, dia tidak tahu harus dikemanakan. Jadi, aku mengurusnya, uhmm, sekaligus bahan penelitian. Jiejie juga ikut, apa dia tidak memberitahumu?"


Tangan yang mengupas kacang dibumbui rasa kesal. Paman tadi menjawab dengan nada kesal juga. "Bah, anak itu kapan menghormatiku?"


Li na menelan tawa dengan sangat paksa.


Lin qili meringis kilat, dia memilih mengembalikan topik. "Hanya sebentar, meneliti orang-orang tidak sampai membuatku ubanan."


"Lalu bagaimana dengan aku?" Telunjuknya mengarah pada dirinya sendiri. Lin qili bisa membaca tulisanĀ  "Bawa aku, selamatkan aku dari neraka salju yang menjeratku" di wajah li na.

__ADS_1


Lin qili menanggapi dengan acuh. "Terserah." Dia melempar pandangan pada kakaknya.


"Eiii, apa-apaan terserah. Nak, ikut saja, jangan biarkan pasanganmu berkeliaran sendirian."


Jika bukan karna topeng yang menghalangi, paman itu pasti sudah melihat bibir li na yang berkedut. Dibumbui tawa, li na menyahut, "Bukan seperti itu, Anda salah kira, Tuan, kami memang hanya teman."


"Aku percaya, aku percaya."


Dan li na percaya bahwa kau tidak percaya.


"Aku ikut."


Meski es membalut kata-kata itu, li na benar-benar berterimakasih. Lin qingxuan, memang baik.


"Akan tidak sopan jika tidak ikut."


Yang satu dengan wajah ramah nan indah, tapi di sisi lain membawa kesan meledek melawan wajah masam seperti buah kiwi. Benar-benar indah.


Li na menyela, "Jadi, darimana dulu?"

__ADS_1


"Intinya, di luar pasar." Paman itu beranjak, diikuti semua orang.


Sepanjang jalan, diisi sapaan hormat dari para murid berpakaian hijau lembut, yang tengah menormalkan nafas dan mengelap keringat.


Satu kumpulan dengan warna baju berbeda, berjalan diikuti bulan. Keluar dari pasar, dan berjalan terserah hingga sampai di sebuah rumah.


Paman tadi melangkah dan mengetuk pintu. "Permisi, ada pembagian sembako."


Sontak, pintu kayu yang tertutup rapat, membuat celah dan menampilkan seorang ibu muda dengan sumpit di tangannya. "Mana? Mana sembakonya?"


"Baiklah kau membuka pintu." Paman itu berbalik dengan tangan melambai acuh. Orang-orang di belakangnya hanya bisa mengikutinya.


Ibu-ibu tadi dibuat melongo. Dia hanya bisa berkata, "Sulit dimengerti semoga harimu menyenangkan."


rumah, dua rumah, tiga rumah ....


Berbagai kata pemancing disambut berbagai ekspresi, tapi jawaban dari Sipemancing hanya berupa lambaian tangan dan kata yang sama saat di rumah pertama.


Setelah lebih dari selusin rumah, kumpulan itu memilih kembali. Kaum muda hanya bisa menyimpan tanda tanya.

__ADS_1


Orang yang tahu hanya diam, dan orang yang bingung hanya bisa menahan rasa geram. Baiklah, tunggu sampai gerobak itu terlihat.


Saat kaki mereka tidak lagi tegak, dam sesuatu di belakang menyentuh tanah, hempasab nafas lega menyerbu udara.


__ADS_2