
Dia menurunkan kepala, bola matanya menutupi lubang kunci. "Cepat sekali perginya ...."
" ... Mereka bahkan belum sampai!" Hampir saja dia melewatkan, untung saja dia tidak terlalu cepat menyerah.
Si dia itu, huh.
Awalnya, nyinyiran akan dilanjutkan, tetapi menyadari ini adalah kesempatan untuk menyegarkan jiwa dan raga dia memilih memunculkan diri.
Tidak semudah itu, kawan.
Begitu mungkin perkataan yang akan dilontarkan pintu jika dia bisa bicara.
Karna membuka dengan benar tidaklah berbuah, maka jangan salahkann. Li a menggunakan cara yang kasar. Sebuah tendangan telak menyerang pintu. Itu berbuah, berupa energi yang membuat Li na terpental.
Li na merasa sangat bodoh karna melupakan konsep ini. Semuanya hanya bisa dibuka oleh orang-orang Klan Lin. Huh, menjengkelkan. Dia kembali mengintai lewat lubang kunci, mengeluarkan kata sebagai pertanda dia ada. "Jin Huang ...."
Mendapati Jin Huang tidak kunjung menemukannya, Li na memanggil kembali, "Jin Huang, kemari .... "
Entah apa yang membuat Jin Huang memunculkan raut ngeri. Nampan berisi bubur itu meloncat bebas dari tangannya. Cipratan yang mengenai pakaian bahkan tidak dihiraukan. Matanya mencerminkan ketakutan yang mendalam.
__ADS_1
Aduh, sayang sekali, bubur itu sepertinya enak ....
Hal berikutnya yang menyapa mata membuat Lu na menganga. Jin Huang bergetar seolah terkena serangan jantung. Tangannya terkepal erat dengan wajah yang menunduk.
Sejurus kemudian pekikan menyapa dengan sopan. "ADA HANTUUU!!!"
"TOLONG ADA HANTUUU!!!"
"Ayahhh!!!"
"Apa? Benarkah? Mana? Di mana hantunya?!" Li na beringsut mundur dengan salto berulang kali. Menenggelamkam diri dibalik selimut seraya menggumamkan pengusiran berulang kali. Dia bertambah histeris saat mendapati teriakan Jin Huang semakin samar dan kemudian menghilang. "Astaga aku sendirian di sini!"
Angin malam membawa kesan yang
berbeda kali ini. Bunyi gemersik dedaunan juga benda yang bisa dibuat melayang oleh angin, jangkrik yang seolah terkikik, dan lolongan binatang yang samar.
Cukup! Cukup! Itu akan membuatnya gila.
Brakkk ....
__ADS_1
Seketika mata seolah ingin meloncat, cengkraman tangan pada selimut mengerat dan gumaman lenyap. Senyap memperjelas langkah kaki.
Tidak, tidak, tidak jangan kesini! Jangan kesini! Kau tahu aku ini buaya betina! Aku bisa memakanmu! Waaaa jangan kesini!
Aduh, dia bertambah bodoh lagi. Kau mengatakannya dengan keras bahkan belum tentu dipatuhi, lalu ini?
Langkah itu semakin jelas, dan angin yang menggebrakan pintu membuat Li na yakin dia harus tetap diam dan lanjut berdoa. Namun, tarikan pada selimut membuat teriakan lolos dengan spontan. "Enyahlah! Hantu sialan!"
Matanya membuka sesudah jawaban tertangkap telinga.
"Ini aku, kau mimpi buruk?'
Li na menoleh dengan paksa, sedikit kaku karna rasa takut. Saat mendapati itu benar Lin qili dia akhirnya bisa lega. "Tidak! Aku tidak mimpi buruk! Hantu benar-benar di sini!"
Kekehan yang terlontar sebagai jawaban seharusnya terkesan manis, tetapi telinga Lin qili na masih sensitif dan menganggap itu ejekan. Lin qili memilih untuk duduk dan menuang teh yang sudah dingin. Setelah satu sesapan dia akhirnya menjawab, "Itu bukan hantu, tapi ... Kembaranmu."
"HEYY!!!"
Gelak tawa agaknya bisa menggetarkan jendela. Lin qili yang malang masih meminta pengampunan hukuman jitakan. "Aduh, aduh, ya ampun! Maafkan aku! Aku tidak seharusnya mendzolimimu!" Namun, dari nadanya sudah bisa ditebak dia tidak sungguh-sungguh, tawa bahkan mengeras setelah itu.
__ADS_1