Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
192


__ADS_3

Perkataan Lin qili seolah angin yang membesarkan api, Li na tertawa semakin besar. "Hahaha, maafkan aku yang konyol."


Jin Huang menyinyir dengan lirih. "Sungguh tidak jelas."


Paman itu mengalihkan pandangan, berakhir menjadikan wajah yang terlihat lebih tua darinya sebagai atensi uutama. "Tuan Jin? Tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan?"


Setelah matanya berotasi, barulah Tuan Jin menjawab. "Pela---perawat itu bisa benar. Benda yang membawa bubuk kira-kira seperti saringan. Harus ringan, punya bolongan, karna dengan itu angin akan mudah meniupnya, dan bolongannya akan menjadi jalan penyebaran."


Wahahahah, siapa sangka, aku akan mendapatkan pembenaran! Hidup otak padat! Hidup!


Jin Huang hampir tidak bisa mengenali ayahnya. Sejak kapan ayahnya berubah ramah? Dia mendekat ke ayahnya, dan berbisik lirih tepat di telinga. "Ayah? Ayah waras?"

__ADS_1


Tuan Jin sepertinya memang memikiki gangguan sinyal. "Matamu kehilangan fungsii?! Tidakkah kau melihat aku bahkan bisa marah-marah?" Meski sama-sama di sampaikan dengan bisikan, tapi nadanya mengandung penekanan. Wajah Jin Huang mundur karna itu.


Lin qili tenggelam dalam pemikiran. "Harus ringan ... Punya bolongan ... Harus ringan ...." Dia membayangkan secarik kain raksasa yang berat di tengah membawa sesuatu, bergoyang ditiup angin dan bubuk-bubuk berjatuhan.


Akibat dari gumaman Lin qili, Li na juga ikut berpikir. Satu hal melintasi otaknya. "Awan? Mungkinkah awan?"


Yang lain hanya menanggapi dengan tanpa kata. Lain halnya dengan paman tadi. "Hah? Bagaimana konsepnya?"


"Proses daur air?" Kali ini mereka kompak. Tentu tanpa Lin qingxuan.


Li na merasa otaknya telah terdepak. Sebenarnya, kenapa aku serba salah daritadi?!!!

__ADS_1


Dia melukiskan senyum setengah, lalu menjawab, "Itu proses yang menjadi sebab bagaimana air tetap banyak di bumi walau sering disia-siakan. Proses itu berawal dari penguapan, air laut, danau, sungai, atau bahkan hanya genangan, itu semua bisa menguap. Setelah menguap, air-air itu akan berkumpul, membentuk awan. Semakin kesini semakin banyak yang bergabung, berat dan berat, dan akhirnya jatuh menjadi hujan. Begitu ...."


Paman itu membentuk huruf O dengan bibirnya. Kemudian menanggapi, "Menarik, Nona, sepertinya ini tidak diajarkan di perguruan, lalu bagaimana bisa kau tahu tentang ini?"


Sebelum li na berfikir untuk memilih kata, lin qili sudah lebih dulu mengeluarkan kata. "Ahh, Paman, jangan bertanya kepadanya, kepalanya bisa pecah. Aku dan Jiejie menabraknya dengan kereta kuda waktu lalu, dia kehilangan memori tentang latar belakangnya. Jadi, sudah pasti dia akan menjawab tidak tahu."


"Ajaib sekali, ingat ilmu tapi tidak ingat jati diri ...." Dia mengggeleng beberapakali. "Aiyaa, sudahlah, tadi bukankah katanya tidak ada hujan lalu bagaimana bisa lewat awan?"


"Waktu siang saat masih di istana memang panas, meski pendingin alami salju abadi dinyalakan tapi tetap terasa panas, aku bahkan makan semangka. Tapi saat di perjalanan, mendung ...." Dia merenung sejenak, dan mengingat-ingat.


Tiba-tiba hidungnya gatal, dan dia lantas menukas. "Ahhh! Aku tahu, aku tahu, aku tahu! Mendung, iya mendung. Kupikir memang benar akan hujan, tapi nyatanya tidak. Saat diperjalanan aku melihat seorang anak kecil yang sedang memakan camilan sambil berjalan, dia bersin setiap akan menggigit camilannya, kali ketiga dia akhirnya mengumpat, aku tertawa nista karna itu. Anak itu terlihat kesal, dan aku meminta maaf dengan mengelus rambutnya yang di mana ada banyak debu menghiasi. Saat itu tidak terasa aneh, tapi sekarang, sekarang ...."

__ADS_1


__ADS_2