Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
49


__ADS_3

46


"Nona kedua lu tampaknya memang berbakat. Kaisar sangat kagum dengan itu. Pengujian ini ditujukan untuk melihat sampai mana rasa kagum ini akan terus meningkat. Jadi, apa kau siap?" Suara yang dalam dan memikat itu memberi kesan tersendiri bagi si pendengar.


"Tidak ada alasan untuk tidak siap."


Gumaman kepuasan terlepas dari mulut kaisar. Seraya menyangga dagu dia bertutur, "Kalau begitu, kalian bisa mulai."


Kedua insan berbeda gender itu mulai mendekatkan diri. Sorot sedingin badai salju itu menatap lurus netra gelap Lu wei.


Tunggu, sepertinya li na kenal dengan tatapan spesies ini. Dan, benar. Setelah wajah itu sepenuhnya terlihat li na agaknya sedikit terkejut. Astaga! Dia lupa! Bukankah tadi Lu wei mengucapkan kata 'pangeran' saat memberi hormat tadi? Ah kenapa tidak kepikiran. Juga, siapa lagi yang bisa menjadi teman bertarung lu wei ini? Huh, agaknya otak li na sudah mulai mengarat.


Keduanya saling membungkuk.


Pertarungan akan dimulai.

__ADS_1


Tengtengtenggg! Tentu saja bunyi gongnya tidak seperti itu, Kawan. Hanya satu kali pukul saja tidak perlu berlebihan.


Dua bilah pedang yang berbeda aura saling menekan satu sama lain. Langkah dikuasai pikiran, angin mengikuti liukan gerakan. Menawan namun mematikan, begitulah deskripsinya.


Untuk menentukan siapa yang meraih kemenangan di sini, membutuhkan pemikiran yang mendalam. Pada dasarnya mereka sama-sama unggul. Jika satu mulai terdesak tak lama kemudian dia membalik posisi.


Tak tahan, kaisar akhirnya  mengangggukan kepala. Otaknya yang encer itu entah tengah merebus apa. Mirip, sangat mirip.


Kilau kekaguman memancar disetiap dayang yang menyaksikan. Beberapa merasa takjub juga terkejut. Tatapan takjub relatif lebih banyak ditujukan pada Lu wei


Pasalnya mereka baru melihat seseorang yang bisa menjadi lawan bagi Pangeran mereka. Perawakan tinggi tapi tetap manis itu membuat sebagian merasa iri.


Dalam jarak dekat entah terasa atau tidak bagi lin qingxuan, li na akan melakukan sebuah tusukan kecil.


Entah itu dipinggang pipi atau kening. Tangannya yang tidak di pin memang sedikit menguntungkan.

__ADS_1


Bunyi gesekan ditemani percikan memberi gambaran api dalam netra terang dan gelap yang sedari tadi beradu tatap itu.


Jarak dari mata ke mata begitu tipis, hanya tersisa dua pedang yang menjadi sekat.


Alis lu wei sedikit mengejang yang belum diketahui dengan pasti apa penyebabnya.


Benaknya bertanya-tanya. Kenapa ... Kenapa semua yang dimilikinya terasa familiar? Kenapa selalu begini?


Decakan li na lakukan. Dia membalas, Seharusnya aku yang berkata seperti itu, bod--- eh apa?! Tunggu!


Bisa tolong garukkan otaknya? Li na merasa pusing akibat ungkapan itu.


Otakanya masih lag, namun agaknya sang lawan sudah puas bertarung.


Lu wei meluncurkan serangan dari atas, dia melompat beberapa kaki. Satu tangannya  terangkat lengkap dengan pedang yang mengacung kebawah. Mengerikan untuk dihadapi, tapi lawan malah menunjukan respon sebaliknya.

__ADS_1


Bukannya menghindar. Lin qingxuan juga ikut melompat. Meraih satu tangan yang lain, memerangkap dalam satu genggaman. Kemudian memberi tekanan pada tangan si lawan. Memerintahkan untuk menurunkan ketinggian, dan perlahan memundurkan.


Jadilah keduanya saling menyerang dengan posisi itu. Ya, bertarung dengan pose seperti--- lebih baik kau deskripsikan sendiri saja. Ini memberi sedikit latihan otak untukmu, kawan. Semangat!


__ADS_2