Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
44


__ADS_3

Iya, si anu. Lin qili


"Kau terlambat."


Seraya mengatur nafasnya yang bergemuruh tidak karuan lin qili tertawa garing. "Maafkan aku, ada tambahan tugas untukku makanya terlambat."


Oh, A-li tersayang tampaknya lupa akan sesuatu. Benar saja, saat dia menaikkan tatapannya dia bersegera melakukan sesuatu. "Nona Muda lu." Badannya membungkuk hal demikian juga dilakukan orang yang disapa.


"Kau tidak menyapaku?"


Eh, kenapa singa ini cepat sekali berganti wajah? Tadi dia memasang kejutekan saat menghadapi para pembuly, berganti lembut saat menatap kakaknya. Dan, sekarang berganti marah yang tidak seperti marah. Pipinya juga digembungkan. Oh, aku lupa Lin qili juga pernah mengatakan bahwa singa itu menggemaskan, pantas saja.


Seketika tawa meruntuhkan atmosfer elegan. Lin qili tertawa lepas tapi yang membuat li na heran adalah, kenapa dia masih tetap tampan?


"Baik-baik. Selamat datang, Nona kedua judes Lu."


Gelak tawa semakin kentara diantara tumpukan suara lainnya. Membuat sebagian orang yang berlalu lalang menatap heran.


Li na yang sedari tadi menunduk, berganti menegakkan kepala. Binar matanya diwarnai kekesalan yang menerawang. "Dekatkan kepalamu, aku ingin menjitakmu." Jari-jarinya memberikan perintah untuk mendekat.

__ADS_1


"Kalau butuh seharusnya mendekat."


"Baik!"


Penyesalan memang selalu ada di akhir. Kepala lin qili dihujani jitakan sayang dari temannya itu. Di antara cerocosan yang di semprotkan Lu Wei, lin qili berusaha menghentikan penyiksaan ini dengan permintaan maaf. "Aduh, aduh maaf, maaf, aku hanya bercanda. Hey hentikan!"


"Tidak bisa! Aku belum puas menjitakki dahi mulusmu itu! Salah siapa kau melecehkan namaku, dan salah siapa dahimu itu terlalu menggoda untuk dijitak?"


Li na menggaruk hidung. Sedari tadi dia seperti menonton film dengan dirinya yang menjadi pemeran, menatap penuh minat serta sesekali mengemukakan komentar.


Rasa jengkel sedikit menggerayangi hatinya. Karna, wajahnya! Wajah cantik mulusnya itu digunakan sembarangan! Pantas saja Lu wei mendapatkan laki-laki dengan mudahnya, tentu saja pasti karna wajahnya itu!


Gema nyaring sebuah suara menghancurkan kegiatan berpikir


Li na. Matanya mencoba mencari sumber suara. Dari arah depan, dihasilkan pukulan pada Gong.


Bertepatan dengan pukulan pertama, samar-samar li na menangkap suara Lu shi yang tersamarkan bising.


"Ayo, kita kesana."

__ADS_1


Karna tidak memiliki alasan untuk tidak ikut, Lu na mengekori sekelompok orang itu. Sepanjang jalan, hanya ada kalimat yang dilontarkan berulang kali dari si pemukul gong yang terdengar.


"Perhatian, perhatian. Untuk semua murid harap berkumpul."


Di pertengahan, lin qili berkata. "Eh, aku lupa. Aku harus pergi ke barisanku. Sampai jumpa!" Dia berjalan mundur, berbalik kemudian mulai berlari menjauh.


Lu wei berkedip cepat beberapa kali, dia tersadarkan. "Aku juga harus pergi. A-li jadi anak manis, baik?"


Senyum Lu wei mekar saat merasakan tepukan pelan di kepalanya. "Baik."


Satu tangan Lu Shi yang menganggur ia daratkan ke pundak adik satunya lagi. "Kau juga."


"Tenang saja, Jiejie. Jika dia membuat masalah, aku akan langsung membanting tubuhnya." Nada pongah menyelimuti ucapannya


"Jahat!" Yang lebih muda memajukan bibirnya, tapi kebahagiaan tertoreh di matanya.


"Kau berkata seoalah kau tidak terbiasa."


Tawa anggun lagi-lagi mengalun. Lu shi menengahi, mencegah masalah. "Sudah, sudah. Aku pergi."

__ADS_1


__ADS_2