
Tangan kiri yang menganggur tak boleh menganggur lagi. Seraya terbang beberapa serangan meloncat keluar dari telapak tangan Lu wei. Sontak puluhan mata menoleh, berbagai ekspresi seketika tertoreh.
Melongo, berkedip cepat, bahkan ada yang sampai hampir tergelincir. Lu wei menegur, "Kenapa memandangku seperti itu? Aku tahu aku cantik, tapi fokuslah pada sesuatu di depan!"
Decihan, meludah dan berkecoh sebuah reaksi yang bisa Lu wei tebak. Bosan dengan gelud yang kurang epic ini, Lu wei akhirnya benar-benar akan mengakhiri.
Sebuah stigma besar tergambar dengan pola serumit soal matematika mengelilingi setiap inchinya. Perlahan turun dan berakhir mengakhiri semuanya. Akar-akar menjengkelkan itu seketika kicep. Berdiri kaku dan dungu.
"Dasar saudara laknat, kau bilang kita saudara tapi kenapa kau malah membela mereka?"
Lu wei menjawab, "Bukankah tadi kau menolak menjadi saudaraku?" Jawaban dari perkataannya hanya berupa dengusan menjengkelkan.
Hal menjengkelkan terjadi setelah dengusan menjengkelkan itu. Sebuah aba-aba yang keluar entah dari bagian mana si pohon membuat serangkaian sesuatu menujukan dirinya. "Keluarlah!"
"Apa yang terjadiiii???!."
__ADS_1
"Banyak sekali astagaaaa!"
"Aku lapar kawan berhenti dulu, ya??!"
"Mataku ternoda aaa ibuu."
Wtfff!!! Aku butuh detergen untuk mencuci otakku. Li na akhirnya tidak bisa bersabar lagi. Sungguh, dia memang terkesan anak perempuan liar, tapi sungguh kalau soal itu dia masih nob. Mata Lu wei tidak bisa meloloskan hal tabu, ya? Meresahkan, sesuatu yang ada di sana benar-benar meresahkan. Lu wei bahkan tidak bisa tidak melotot.
Seperti tadi, iya seperti tadi. Hal tersebut membuat Lu wei tidak berani sembarangan tidur di dahan pohon lagi. Dahan pohon tergantikan tubuh yang hanya berbalut pakaian dalam.
Kali ini bukan hanya perempuan tapi laki-laki juga! Jadi saat ini semua mata ternodai, tidak ada yang tidak terdistorsi.
Beberapa hantu itu ada yang berpakaian tapi seperti tidak berpakaian. Jubah putih menerawang itu tidak bisa menyamarkan sesuatu yang ada dibaliknya. Langkah kaki terseok tidaklah semenakutkan raut juga suara yang keluar dari mulut. Bisa ditebakkan?
"M-menyingkir."
__ADS_1
"A-awas j-jangan kemari!"
"M-menjauh ... Ibuu."
"Tidak mau, tidak suka, geliii!"
Getaran menyelimuti tangan membuat pedang hampir beberapa kali merosot. Alis Xing'er mengejang saat sebuah tangan menggerayangi pinggang, tak sudi diperlakukan seperti itu sesuatu yang sedari tadi ia tahan akhirnya terlaksanakan. Tangan yang dengan beraninya menggrepe dirinya harus berpamitan pada lengan.
Tangan itu terhempas dan tanpa sengaja menabok 'bagian belakang' salah satu murid. Pekikan kaget berganti menjadi umpatan.
Xing'er bersegera meminta maaf, setelahnya matanya bergulir menatap dua orang yang masih setia dengan posisi mereka. Yang satunya menonton dengan estetik, sedangkan yang satu melongo dungu.
Lu wei peka akan itu, dia menjawab, "Bodoh, kenapa tidak terbang saja?"
Xing'ermemberang. "Kau yang bodoh!"
__ADS_1
Jawaban itu rupanya membuat Lu wei tercerahkan, dia terkesiap dan berakhir bergumam, "Eh astaga ...." Shidi itu turut berpartisipasi---mengejek maksudnya, dengan mengeluarkan 'huuu'
Saat ini posisinya susah. Mau membuat array juga tidak bisa--- k-karna jika mereka membuat array itu malah semakin menguntungkan para hantu. Itu sama saja melakukan pertempuran tertutup, oke?