Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
125


__ADS_3

Naga itu meliuk, dan mendekat. "Tuan." Suaranya jernih dan halus.


Pandangan Lu wei menuju Lin Qingxuan Benar, itu naga kepunyaannya. Dia mendecak dan membatin iri, Betapa baiknya takdir, akan lebih baik rasanya jika nagaku itu naganya, Fu Cheng terlalu sinis dan cerewet ... Eeerr tapi tidak apa-apa Fu Cheng tampan, sayang untuk dibuang.


Kedatangan naga Lin Qingxuanmembuat lu wei silau sampai-sampai lupa sesuatu. Benar, kan! LFy Cheng terkesiap saat sebuah serangan menyentil ekornya. "Awww!"


Sudah, terekspos sudah. Lu wei tidak bisa menahan lagi. "Kampret!"


Hujan serangan datang lagi. Kini bahkan dari para hantu juga hakim harta! Dengan satu tangan yang menganggur, Lu Wei menciptakan array membuat semua serangan itu terpental sia-sia.


Para hakim harta berseru bersamaan. "PENGHIANAT!"


Sedangkan para hantu itu berseru, "PENCURI!"


"Maafkan aku! Aku tidak punya pilihan lain!" Jawaban Lu wei bagai angin lalu. Hujaman serangan membuat keadaan semakin mengancam.

__ADS_1


Lu wei mengeluarkan kata, tujuannya adalah naga lin Qingxuan. "Hey, kau. Bisakah kau menghalau mereka dulu? Aku akan melakukan sesuatu."


Tanpa kata tapi perilaku sudah cukup menjawabnya. Naga itu keluar dari array, meliuk dan menghalau serangan. Lu wei juga keluar dari array, sebelumnya dia memasang sihir transparan.


Dia terbang mendekati Pohon Cinta, berniat membuat masalah. Namun, dia berpikir ulang. Jika menggelitiki, itu tidak cukup menjengkelkan, apalagi hanya dengan tangannya. Setelah bernego dengan otaknya dia akhirnya bisa melakukan masalah.


Dia menukik turun, pedangnya sudah teracung, detik berikutnya dia menusuk sesuatu yang menyembul itu, akar. Pohon Cinta melolong kesakitan dan mengumpat membuat Lu wei terkekeh.


Lubang cahaya terbentuk kembali, sontak Lu wei berseru, "Ayo!"


Namun pemandangan itu tidak terlalu disorot. Dua sosok yang berdiri di antara tubuh-tubuh yang berguling dan terbaring bebas jelas lebih memikat mata.


Beberapa murid perempuan tersipu melihat itu. Posisi itu benar-benar memunjukan bahwa dua orang adalah pasangan. Lebih tepatnya hampir.


Tangan lentik melingkari leher, dua tubuh itu bersentuhan tanpa celah. Jika saja tangan si pria menggaet paha belakang si wanita, maka posisinya akan sempurna. Sayang sekali itu tidak terjadi.

__ADS_1


Sesuatu yang hampir sempurna itu semakin tidak sempurna akibat makian yang keluar dari masing-masing pihak.


"Bangsat! Kenapa kau malah berubah!"


"Tanganmu menggoda untuk dipotong ya?! Lepaskan sialan! Leherku bisa copot."


Sungguh semakin tidak elit membuat sebagian orang berjiwa romantik ginjalnya terselentik.


Lu wei melepaskan diri dengan melompat kecil. Hal itu membuat fu Cheng memijat lehernya dengan lega.


Lu wei menendang tulang kering fu Cheng, rasa geram mendorongnya melakukan itu. Tidak bisakah dia jangan santai? Lubang putih itu masih belum menutup, itu artinya sesuatu bisa saja menyembul dari sana! Lu wei menggeram, "Cepat, Bodoh!"


Tak ada waktu untuk mengerang dan mengumpat. Bentukan fu Cheng berubah secepat kedipan mata. Sisik emas mulai memancarkan cahaya kembali.


Lu wei membalik badan dia mengintrupsi. "Ayo, bawa mereka semua. Terserah digendong, dipondong atau dicangking yang pasti mereka harus di bawa! Cepat!" Telunjuknya mengarah pada tumpukan tubuh dibalik tubuh fu Cheng.

__ADS_1


__ADS_2