
Dibanding dengan memotong pembicaraan, membiarkan lin qingxuan membayar tagihannya adalah sesuatu yang lebih buruk.
Lihat itu, bola mata Jin Huang seolah bisa melesatkan tombak api. Menyala dan tegang, menonjol menggoda di colok. Oh, jangan lupakan tentang kipas yang sudah retak itu.
Sebenarnya, bukan Li na keberatan tagihannya dibayar, dia hanya keberatan tentang hal yang akan menjadi akibatnya.
Kekehan kecil mencuat dari belahan bibir Tuan Jin. Jakunnya bergerak dan air membasahi tenggorokannya, barulah dia bicara. " Terompet Keong Emas harganya bukanlah emas, perak, atau tembaga, Nona."
Li na merasa tenggorokannya menyusut. "Lalu apa?"
"Untuk material terompetnya, butuh cangkang kura-kura xuanwu, maksudku adalah ukurannya, bukan xuanwu yang asli. Kemudian, jika suara tidak disaring akan mengakibatkan terlalu banyak debu yang berhamburan, maka harus ada jaring yang membalutnya. Kami menggunakan bulu Phoenix api yang nantinya direkatkan pada rambut para hantu atau mayat. Klan kami sangat umum mempunyai suara bagus, jadi saat mendengar suara tidak bagus mereka akan memaki, jadinya kami menggunakan penghalus atau alat yang dapat memperindah suara yang masuk. Itu dari tulang tenggorokan para ikan hitam. Aku harap itu tidak terlalu susah untuk dibayar."
Ya itu tidak susah untuk dibayar, karna aku tidak akan membayarnya. Aku sudah ada di kota hantu.
__ADS_1
Bukan hanya gila glamour, tapi Klan Jin juga gila yang benar-benar gila. Sangat-sangat kontradiksi! Apa-apaan tadi? Terompet Keong Emas, phei! Seharusnya Terompet Penyu ... Apa warna yang cocok?
Bah, Terompet berbentuk keong yang dimana warna emas membalutnya, kilaunya memancarkan pelangi, sedang di dalamnya tertanam sebuah pipa yang akan menjadi sumber suara. Atau keong besar utuh yang dimana Siput akan keluar membawa suara, seperti jam alarm pada dunianya. Semua itu adalah hal yang menjadi gambaran utama dipikiran li na saat mendengar "Terompet Keong Emas".
Pada akhirnya dia ditampar kenyataan.
Mata Li na kehilangan fokus. Tawa hampa mengudara sebelum jawaban dikeluarkan. "Aku akan berusaha."
"Itu harus." Ayah dan anak itu memang sama.
"Yang mulia, mayat-mayat sudah dikumpulkan, beberapa dari mereka sepertinya bukan dari daerah kita."
Lin qili terkesiap, tapi dia masih bisa menjawab tanpa "eh". "Pasang layar, tampilkan wajah-wajah mayatnya. Dengan itu, mungkin saja ada yang mengenalnya. Jika memang tidak ada, harus tetap dikuburkan dengan layak."
__ADS_1
Pelayan itu membungkuk. "Baik."
Yang satu pergi yang satu kembali.
Aura mereka membawa kesejukan embun pagi. Hanfu berwarna hijau lembut mereka meliuk di setiap langkah. Meski keadaan mereka seperti habis mandi keringat, aura menyenangkan masih saja melekat.
Mata lin qili menjernih. "Paman!"
Satu sosok menyembul dari kerumunan itu, membawa tawa juga tabokan untuk bahu lin qili. "Bocah cilik, kenapa mendekat? Aku tidak punya oleh-oleh."
Sungguh, kenyataannya paman itulah yang mendekat. Lin qili hanya menggeleng pelan.
Paman itu berkata, "Kekacauan sebesar ini, bagaimana bisa terjadi?"
__ADS_1
Diam-diam wajah li na membeku. Apa mulutnya akan berkecoh sampai berbusa lagi?
Tolong lah, tolong, tolong, tolong. Dia benar-benar ingin memuncratkan kata-kata itu. Dia sudah terlalu lelah untuk berkicau apalagi merangkai kata-kata. Dan ada potensi dia harus berkicau lagi. Bagaimana bisa dia tidak mengeluh?