
66
Jin Huang dengan lantangmenyatakan bahwasanya dia dan dirinya ikut.
Suaranya cukup jernih tidak gaib, sehingga kerumunan itu geming untuk sesaat. Satu murid menyeletuk, "Kau kesurupan hantu jenis apa?"
"Tidak ada! Aku hanya ingin berlatih menjadi madu yang baik." Kepalanya menunduk perlahan. Raut yang tersembunyi sudah pasti ekspresi malu dengan dua spesies. Malu-malu imut, dan malu-malu malu.
"Anak anak! Aku tahu kalian sangat bersemangat dan berjiwa hebat! Tapi jika kalian pergi tanpa ada senior yang mengawasi hal-hal yang dihindari berkemungkinan untuk terjadi. Jadi, ada baiknya jika aku ikut."
Ini selir? Sungguh? Dia sungguh-sungguh?
An chi bersicepat mengeluarkan kata lanjutan. Namun, kali ini berkhusus pada satu orang. "Kau tidak perlu khawatir, aku bisa, mereka juga tidak susah jika dijaga."
Mendapati jawaban itu kaisar menghela nafas. Baru membuka mulut, satu suara membuatnya urung.
"Maaf tidak sopan yang mulia, hamba mendapat kabar bahwasanya cahayanya semakin liar! Bahkan sudah mulai merambah ke sungai para warga biasa." Lutut itu bergetar serupa dengan nada yang digunakan dalam pengucapan.
"Apa tidak ada orang lain lagi?"
"Tidak ada, kebanyakan dari mereka kehabisan energi karna terus menerus berusaha membekukan lautan."
__ADS_1
Satu tatapan kaisar arahkan pada yang ditujukan.
An chi mengangguk. "Pergilah."
"Baiklah jaga diri dan mereka baik-baik."
Sejurus kemudian dua orang itu berubah transparan.
Eh, tidak ada drama? Kupikir akan lebih dramatis, huh.
Ruangan ini diisi keheningan, dengan banyak kata yang ditahan untuk tidak keluar. Hanya gumaman samar yang terus terlontar dari seseorang di seberang ranjang. Ibu Lu shi dia tengah mengalirkan energi spiritual seraya terus bergumam entah apa itu.
Lalu kenapa tidak dia saja yang pergi? Pertanyaan yang bagus! Dia tidak mau tercemar energi gelap, oke! Jika dia ikut tercemar energinya sudah tidak murni lagi, otomatis dirinya tidak bisa menjadi penolong bagi anaknya sendiri.
"Kita pergi."
Satu kata, tapi menghancurkan hening. Melahirkan banyak semburan kata penuh semangat.
••••
"Wohhh lihatlah lautnya benar-benar terbakar!"
__ADS_1
"Astaga apakah jika aku tenggelam kesana apakah aku juga akan lenyap?"
"Coba saja."
"Kau duluan kalau begitu!"
"Tidak bisa!."
"Semuanya tolong kecilkan lagi volume berdebat atau unjuk kekaguman kalian semua, para ikan hitam bisa mendengar dan jika kita tidak fokus kita bisa terjerat dan kemungkinan untuk tidak jatuh hanyalah sebuah keinginan."
Duyung hitam?
Setelahnya, hanya deru angin yang terus mengisi. Kicep. Tentu saja mereka masih ingin berbicara dan bernafas. Melihat laut yang dulunya terasa menggugah untuk dijelajahi kini berpenampilan seperti golakan api neraka, gejolak rasa takut merendam hati tanpa ampun. Namun, di sisi lain juga binar terkesan tak bisa tertutup dalam setiap netra para junior.
Mendapati itu An chi mampu mengendalikan dirinya lagi.
Angin menusuk sum-sum tulang tidaklah terlalu berkesan bagi setiap raga. Pemandangan di depan mata benar-benar menggetarkan bola mata.
Kabut yang hampir hitam membawa aura tidak mengenakan. Pohon menjulang tinggi siap digelantungi siapa saja. Burung gagak bertengger acak membuat beberapa murid berdecak akan banyaknya.
Melayang turun dengan elegan juga seimbang, hanya saja tidak berbarengan. suasana di sini ...
__ADS_1