Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
132


__ADS_3

Jari telunjuk dialiri energi, berulang kali menghancurkan karung yang memerangkap wajahnya. Namun, semakin banyak ia menyerang semakin erat dekapan karung, dan semakin sempit pasokan udara yang ada.


Dia mengernyit jijik karna dahinya bersentuhan dengan darah. Dia akhirnya menyerah dan pasrah.


Lu wei bisa menebak sekarang mereka tengah menukik. Benar, kakinya baru saja menendang semak-semak. Dan berikutnya tanah.


Dia tidak oleng, dia bahkan bisa berdiri tegak. Namun, agaknya para anak kecil sangat mencintai membuat gemas orang. Lu wei merasakan tungkai kakinya ditendang.


Brukk


Dia jatuh berlutut. Lu wei mengerang dan membatin, Kalian ada masalah hidup apa? Kupingku akan lebar dan mendengarkan semua keluh kesah kalian.


Dan kau hanya akan mendengarnya tidak membantu mereka.


Tak berselang lama, dia mendengar ketukan lembut. Lu wei menebak, dia adalah sosok dengan senyum sehangat api matahari---fyi, api matahari sangat panas--- seanggun angsa es, dan seperti orang susah. Ya, susah dihilangkan dari pikiran. Opsi terakhir khusus jika dia laki-laki.


Ambil ember.


Deskripsinya agak memalukan dan berlebihan. Sudahlah, intinya langkah kakinya begitu lembut tapi pasti.

__ADS_1


Tidak tahu dia bergender serupa atau tidak dengan dirinya.


Orang itu juga sama. Suara objek jatuh terdengar. Posisi mereka sama-sama berlutut.


Jangan tanya Lu wei sedang apa. Dia tengah menimang sesuatu. Diri sendiri atau orang lain, diri sendiri atau orang lain, diri sendiri atau orang lain.


Jika menyelamatkan orang lain itu akan terdengar seperti dia adalah orang yang sangat baik.


Jika dia menyelamatkan diri sendiri itu akan terkesan terlalu kejam.


Ahh! Ya sudahlah! Mati ya mati saja! MatiĀ  bersama-sama lebih adil daripada satu hidup satu mati!


Masalahnya adalah, siapa yang kehilangan kepalanya terlebih dahulu? Akankah dia atau dirinya? Dia berdoa supaya orang itu dulu agar bisa kabur---upss.


Saat tengah menyelami prasangka dan rencana, sebuah tendangan membuatnya terlihat lebih rendah lagi.


Dia ramal, sebuah kaki tengah bertahta dipunggungnya. Dia heran, karna firasatnya sepertinya hanya dia saja yang diperlakukan tak senonoh daritadi. Bunyi tendangan tadi tidak mengganda, itu artinya orang di sampingnya tidaklah mengalami hal serupa.


Lu wei melotot, batinnya terombang-ambing, Aku duluuaaann???!

__ADS_1


Tarik nafas, jangan buang. Aih, derajat asimetris pada otakmu bertambah, Li na?


Beberapa detik dilalui dengan mata terpejam seolah dilem, bulu kuduk mengejang dan peluh meradang. Namun, Lu wei masih belum merasakan rasa sakit. Dia membuka mata saat tangannya digerakkan secara paksa.


Sesuatu dipaksa untuk digenggam jemari. Lu wei itu apa, dan dia menyinyir dalam batin, Sungguh penjahat yang berkelas. Sebelum membunuh saja, dia ingin diperlakukan seperti raja.


Astagaa, itu elit, LOL ahahaahhaha.


Satu kali.


Dua kali.


Dia---mereka bersujud.


Setelah itu, tubuhnya aman dari paksaan untuk bergerak, tapi dia menyadari itu tak bertahan lama. Tubuhnya digeser, sepertinya dia dan orang itu sekarang berhadapan.


Apakah dia mempunyai senjata ganda dan ingin mencopot dua kepala sekaligus? Orang itu kenapa begitu bodoh dan penurut? Dia bahkan seolah tak bernyawa.


Kau juga bodoh, Lu wei. Kau tidak bersuara atau melawan daritadi.

__ADS_1


Tendangan kembali menyapa punggung, membuat Lu wei melengguh tertahan karna terkejut.


__ADS_2