Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
65


__ADS_3

Mulutnya masih terkunci, tapi kata-kata yang terperangkap di dalamnya Lu wei tidak bisa menghitungnya. Terbagi dari beberapa kelompok tapi kata 'maaf' relatif lebih banyak.


Satu tamparan telak mengguncang pipinya, semu merah sudah dipastikan akan singgah. Lengkingan suara itu sedikit menganggu, tapi insan yang mendapati itu tidak bisa membantu meringankan sesuatu itu. Beda halnya dengan satu orang.


Kala tangan berayun kembali dan tamparan kedua siap untuk terwujudkan, sebuah lengan menahan. Suara tenang tersiar memadamkan sedikit kobaran api.


"Ibu, hentikan. Tidak sopan memberikan pemandangan seperti ini pada Yang Mulia."


Tunggu, ini ....


Masih ingat seseorang yang membuat Shena tertekan aura tampan di istana waktu itu? Iya, si anu.


Lu pei.


Benar, lu pei. Wajah itu, tidak salah lagi.


Mata bersinar hangat itu menangkap tatapan yang diarahkan kepadanya. Bukan tatapan penuh api amarah, melainkan tatapan kesedihan juga kebingungan. Dia menyapa, "Meimei."


Lu pei mengangkat tangan, menyalurkan sedikit rasa nyaman. Elusan pada kepala tidak memberikan efek apa-apa, kepala itu justru kembali menunduk. Lu pei hendak mengeluarkan kata tapi terdahului oleh kata lainnya.


"Kau memanggilnya sedemikian bagusnya? Kau tahu? Dia tidak bisa dipanggil seperti itu!"


Lu pei hanya bisa tersenyum kecut.

__ADS_1


Li na yang merasa tidak terima diperlakukan sedemikian rupa, tentu saja tidak akan diam. Dia sedari tadi hanya menonton dengan aesthetic, tapi kenapa dia harus merasakan tamparan juga? Huh, ini adalah salah satu yang membuatnya tidak betah singgah diraga Lu wei. Kenapa rasanya mulutnya itu sangat-sangat menggoda untuk disobek?


"Sayang, hentikan .... "


Ini siapa lagi? Kenapa wajahnya membawa aura menyebalkan?


Suara dengan nada penekanan itu menghadirkan gelitik tersendiri di diri Lu wei. Seperti jijik? Atau marah? Entahlah.


Dia Ayah Lu shi.


Sosok bertubuh agak bungkuk itu mengalihkan tatapan. Nada yang digunakan sangat berkebalikan dengan kata penekanan. Penuh hormat, menandakan dia taat, haha. "Yang Mulia, mohon ampuni ketidaksopanan kami, juga kelalaian saya selaku kepala keluarga." Diakhir kata, dia membungkuk.


Sosok yang diberikan perlakuan itu hanya memberi tanggapan berupa lambaian tangan. Suaranya tersiar ringan di dalam ruangan. "Sebuah kecerobohan memang mengakibatkan akhir yang mengecewakan, pihak kami juga bersalah. Rasanya salah jika hanya menyalahkan satu pihak."


64


Seseorang yang sedari tadi menyimak terkekeh pendek, setelah menyesap teh dia berucap. Nada yang membalut ditaburi kesinisan yang samar. "Tidak tahu mana yang harus disalahkan, tapi yang saya herankan bagaimana bisa hanya dengan ternodai energi gelap Nona Muda Lu langsung terkapar begitu saja? Apakah dia sedang bermasalah?"


Riak di wajah itu begitu kentara jika dilihat dari bawah. Wajah itu berkedut, tapi tawa dipaksakan keluar untuk meminimalisir adanya kemungkinan raut itu terlihat. Beberapa orang dipihak bertentangan hampir saja terkekeh. Mendapati itu Ayah Lu shi bersikeras menjaga air mukanya agar tetap tenang. "Anakku memang sangat sensitif pada energi gelap dari kecil, bermasalah atau tidak itu tidak masalah bagi kami."


"Tentu saja, dia calon permaisuri bagaimana bisa dia menjadi masalah?" Tawa yang mencuat mencubit kuat benak Lu shi


Ingin tahu siapa calon abu yang menggemaskan itu lagi? Dia ayah jin Huang. Yeah, tentunya anaknya juga ikut.

__ADS_1


Jangan tanya apa yang dia lakukan. Tidak tahu apakah dia punya fetish tersendiri pada patung es di sampingnya, intinya itu membuat sebagian besar orang mual. Memandangi dengan binar kagum, berusaha setidaknya berada satu inci di dekatnya, menggapai tangannya. Itu semua sudah biasa.


Oke, kesampingkan. Apa ada termometer? Supaya suhunya jelas berapa derajat, karna beberapa orang di sana butuh es. Eh, bukankah ada es super besar di sana? Tinggal jilat saja. Upss.


Meski hati terbakar, sebuah tawa tetap harus terlontar. Namun, agaknya pihak penengah sudah lelah. Siapa? Siapa yang paling sinis dan lunak lidahnya?


"Maaf menyela, jika ingin membicarakan hal lain tolong jangan di sini. Kakakku butuh istirahat, bukan berbagai perkataan yang mengusik telinga."


Tertawa atau melotot, Ayah Lu shi benar-benar bingung harus memilih mana. Disatu sisi dia ingin tertawa karna dia bisa lolos dari 'pembicaraan menyenangkan' ini. Sedangkan sisi lain mendesak dirinya untuk melotot, perkataan dari anak angkatnya itu seakan-akan menusuk halus benak kedua pihak. Baiklah, pilih opsi ketiga saja.


Ekspresinya sangat aesthetic. Seperti menahan kotoran untuk tidak keluar. Haha, bercanda.


Rasa perih menjalari pipi lu wei lagi. Sebuah semburan suara nyaring membombardir telinganya, oh telinga orang lain juga. "Dasar tidak tahu sopan santun?! Lebih baik kau diam s**l*n!."


Aku diam dari tadi.


Salah server, kawan. Bukan kau, oke. Jangan ambil serius itu garing!


Satu suara memecahkan atmosfer yang hampir panas. Lu pei tak ambil pusing dengan perdebatan tidak langsung itu. Kakinya ia bawa mendekati tabib yang masih sibuk dengan kegiatannya.


Rupanya sangat serius, tabib itu bahkan tidak menyadari ada satu objek yang mendekat. Saat Lu pei membuka suara, tubuhnya tersentak kecil membuat permintaan maaf menyapanya. Dia memaafkan tanpa berat hati.


Lu pei berucap, "Tetua, yang muda ini ingin bertanya. Energi murni ada banyak asalnya, lalu yang manakah yang cocok untuk penyembuhan adik saya?" Diakhir kata dia mengulas senyum.

__ADS_1


Tabib itu menjawab tanpa terselip kebohongan. "Tanpa orang tua ini jawab, kau pasti juga tahu."


Tentu saja tahu! Bukan tempe! Mereka itu masuk golongan klan tabib, oke! Dia bukan dungu hanya saja ingin tidak tahu!


__ADS_2