
61
Masih dengan beban dipunggungnya, Lu wei berkata, "JieJie, kamu baik-baik saja?"
"Tidak, tidak apa-apa." Lu shi turun kemudian berdiri, menurunkan tangan guna memberi tawaran bantuan yang dijawab gelengan.
Setelah tubuh itu berdiri sepenuhnya Lu wei masih sudi juga ternyata dalam menahan emosi. Mendahulukan hal yang lebih penting, memeriksa kakaknya.
Seusai memastikan semuanya aman dia berganti semuanya. Nada, tatapan, deru nafas, itu semua berbeda. Di menggeram, "Kamu---"
Namun, rasa sakit yang menjalari setiap inci tubuhnya menghentikan itu semua. Mundur beberapa langkah beserta tangan yang meremas dada. Tungkainya melemas, dia jatuh berlutut.
Pupil lu shi menyusut, dengan gemetaran dia berusaha menyadarkan adiknya lewat panggilan. Lin qili juga ikut melakukan.
Semua orang yang menyaksikan hanya bisa melakukan pelototan. Tanda tanya membingkai otak mereka.
__ADS_1
Warna hitam yang semu membalut lu wei.
Kepanikan makin menjadi, lengkingan keluar bersamaan dengan energi besar yang mengguncang kawasan sekitarnya.
"A-wei! Arghhh."
Gelombang kekuatan besar mengguncang udara. Debu bertebaran juga menyebar membuat kabut yang samar, dari atas ledakan itu cukup indah. Hanya saja keindahan itu mengancam adanya luka untuk timbul.
Apa! Apa yang terjadi?!!! Kenapa rasanya sakit tapi nikmat secara bersamaan?! Aku bukan pecinta hal-hal seperti ini! Kenapa bisa aku merasakan ini?! Li na heran? tentu saja. Karna, kebanyakan yang ia alami akhir-akhir ini adalah antonimnya! Jika rasa sejuk yang mengalir, menjangkahi aliran darahnya sampai-sampai tulang Lu wei seolah ngilu itu sudah biasa. Ini? Panas! Rasanya seperti menenggelamkan jantung ke dalam golakan api!
Namun, satu lebih parah. Lu shi terhempas, menyeret tanah menghancurkan kerataannya. Bersamaan dengan itu semburan darah hitam kental muncrat, membuat noda merah yang memberi kesan menakutkan. Orang baik, akan diperlakukan dengan baik. Tuhan itu adil.
Xing'er yang datang bertepatan dengan ledakan itu hanya bisa melotot sambil mempercepat langkah. Menangkap tubuh ringkih yang melejit kearahnya. Untung saja, dia bisa. Untung saja.
Sayangnya luka dalam tidak bisa dicegah. Kalimat terakhir yang terlontar sebelum lu shi menutup mata, mampu membuat pikiran seseorang menjernih.
__ADS_1
"A-wei h-hentikan ... Tenang."
"Bagaimana keadaanya?"
"Aliran meridiannya terguncang, energi yang sedang diolah pecah. Ini menimbulkan luka dalam yang sedikit serius, tapi cukup mudah ditangani. Hanya butuh asupan energi murni setiap hari."
Tabib itu mengangguk seraya mengelus jenggot putihnya, kemudian menggelengkan kepala berulang kali. Otaknya terendam dalam kebingungan.
Saksi mata yang indranya menangkap penuturan itu tak bisa mengelak untuk melotot, kecuali satu orang---eh tidak! Dua orang. Xing'er linglung beberapa saat.
Setelah keseimbangan tubuhnya kembali, dengan tergagap dia berucap, "K-kalau begitu ... Kalau begitu, sampai kapan kira-kira itu sembuh."
Tabib itu mendesah. "Aku bukan peramal, kehendak dewa tidak bisa ditebak. Berdoa saja supaya itu tidak lama." Tubuh bungkuk itu berdiri, mengambil beberapa obat-obatan lalu mulai membuat racikan.
Orang yang menapak diruangan sama hanya bisa menunduk, terlebih lagi pada satu orang. Si pembawa luka. Dia bukan berdiri tapi berlutut seraya menggenggam tangan dingin milik kakaknya.
__ADS_1
Itu adalah dia.