Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
121


__ADS_3

Mereka datang lagi! Penagih harta! Wahahahah!


Pedang sontak teracung, badan mulai saling mendekatkan diri. Lu wei tersenyum kecil setelah membuat array.


Kepulan asap itu mereda, menampilkan jubah hitam yang hampir tenggelam dan hampir dianggap tak kasat mata jika tidak ada suara.


"Orang pelit akan mati terlilit, orang pelit akan mati karna sembelit, kenapa begitu? Karna mereka kebanyakan harta, menimbunnya dalam perut dan tidak membaginya! Terlilitlah! Terlilitlah!"


Bulu kuduk semakin menegak kala nyanyian itu semakin memenuhi telinga. Keinginan untuk mengumpat tentu saja ada. Namun, berperilakulah sesuai kondisi! Simpan umpatanmu untuk nanti!


Li na yang sedari tadi menonton dengan aesthetic seketika melotot, Apa yang terjadi? Lu wei kau harus aman demi aku!


Suara berat mengalahkan seluruh riuh ini. Dari suaranya, Liu wei menebak itu adalah penagih Harta yang bersedia menjawab perkataannya waktu itu


"Apakah mulut kalian benar?"

__ADS_1


"Tentu saja benar! Kami bahkan malas hanya untuk mengambil mereka kembali dari Kejujuran takdir!" Lu wei menjaga nada bicaranya semeyakinkan mungkin. Dia meneguk ludah sedikit susah karna hening yang menjadi jawaban perkataannya.


"Kenapa tidak mengambilnya kembali jika kalian bisa dipercaya? Berusaha menutupi kepelitan, heh? Ambil kembali dan berikan pada kami!"


Perkataannya sedikit tidak jelas, tapi tidak apa-apa. Aku mengerti. Seusai membatin, Lu wei menjawab, "Bukan begitu. Kami tidak hanya tidak mau, tapi juga tidak bisa. Itu sama saja kami terlalu murah hati dengan mempertaruhkan nyawa lagi."


Murid-murid yang masih ngelag hanya bisa diam. Berusaha untuk menahan hasrat melontarkan pertanyaan pada Lu wei.


Penagih harta itu mendengus. "Kau pikir otak kami tumpul? Kau pikir rencanamu sewangi itu sampai kami tidak mencium bau busuk?"


"Apa kau pikir mengelak itu berguna?"


"Ahahhaha, ya, ya, ya. Aku bahkan belum menyelasaikan perkataanku, betapa pintarnya para penagih harta. Rencanaku ini bukankah benar? Tidak ada yang salahkan?"


"Berniat mengadu domba penagih Harta dengan Para petinggi Kejujuran takdir termasuk kesalahan!" Kali ini suaranya lebih cempreng, dapat ditebak penagih Harta itu bergender apa.

__ADS_1


Lu wei masih berusaha setenang teratai. Dia bersidekap dan perlahan maju mendekati array. Matanya bertabkaran dengan warna hitam tentu saja. "Kenapa otakmu langsung ke sana? Rencanaku adalah, ingin membantu para penagih Harta dengan membuatnya mengambil para tawanan. Mungkin ini terkesan culas, tapi niatku baik. Aku tidak bisa mengambil mereka, makanya aku melakukan ini. Hantu-hantu di Kejujuran takdir sangatlah ganas, apa kalian yakin tawanan kalian aman? Bagaimana menurutmu?"


"SAMA SAJA! K--"


Lu weitersenyum mendapati ini. Penagih Harta yang lain menahan penagih harta perempuan itu. Sepertinya karna perintah penagih Harta bersuara besar tadi.


"Nona ini memang pintar, sopan dan menjengkelkan. Namun, kami harus mengaku kalau nona ini tidak sepenuhnya culas."


"Tentu saja."


Meski raut biasa saja terpampang, hasrat ingin bersorak ria membuat pipi Lu wei pegal. Para murid juga menahan senyum.


Terdengar bisikan yang hampir semu, para penagih harta tengah berunding. Hening yang dihasilkan sedikit membuat para murid khawatir. Namun, hal berikutnya membuat rasa takut beralih menjadi rasa penasaran.


Dua hakim harta melangkah menyerong. Kegelapan tetap dapat ditembus, bukan karna tingginya kekuatan mata melainkan apa yang ada di sana!

__ADS_1


__ADS_2