Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
117


__ADS_3

Tangan Lu wei digesek asal atau digerakkan asal, yang pasti ia menggelitik. Puluhan pasang mata yang menangkap itu tidak bisa menutupi rasa bingung yang terlukis samar di setiap netra.


"Apa yang kau lakukan?"


"Kau butuh donasi Cinta?"


"Kenapa tidak aku saja yang kau peluk, Senior?"


Yang terakhir, awas seseorang tidak akan bisa membiarkanmu berkeliaran bebas. Lu wei tidak mempedulikan itu, dia tetap fokus. Pipinya tertekan salah satu pohon mengakibatkan kata yang keluar tidak terlalu jelas. Jelasnya dia berkata, "Kalian ingin lolos dan keluar, kan? Maka lakukan ini!"


Raut dungu terpasang di beberapa wajah, tapi kaki tetap saja mengikuti arahan dan melangkah. Tubuh di sandarkan, tangan dikalungkan, kaki di lingkarkan, dan jari yang membuat gelitikan.


Awalnya hanya Lu wei jadi Pohon LaknatCinta tidak terlalu bermasalah, tapi kini lebih dari satu lusin anak manusia tengah mengelitikinya dengan manis! Uhh, betapa menggemaskannya, membuat Pohon LaknatCinta itu terlihat ingin meremas semua jantung mereka.


Awalnya tawa yang menjadi wujud reaksi Pohon LaknatCinta, tapi dari detik demi detik tawa itu berubah, bercampur emosi marah. "Hentikan ... Sudahlah! ... Ahh, tolonglah ... Sialan hentikan ... Hey! Ahahahah, hentikan ...."


"... Bangsaaaatt!!! Dasar kasar! Semuanya kasar! Dibilang berhenti malah tambah melunjak! Dasar nakal! Nakal! Nakal!"

__ADS_1


"Ahahaha ... Wahahahahah ...."


"Hahh ... Bhahahahaha, tuman! Tuman! Kubilang berhenti! Wahahaha ...."


Tawanya menular, kini bukan hanya Pohon LaknatCinta yang tertawa. Sebagian besar murid sudah ikut terkikik. Tawa semakin banyak, semakin besar, dan semakin menjengkelkan. Bagi Pohon Cinta tentu saja.


Tawa terakhir sebelum semuanya berakhir.


Tangan Lu wei digesek asal atau digerakkan asal, yang pasti ia menggelitik. Puluhan pasang mata yang menangkap itu tidak bisa menutupi rasa bingung yang terlukis samar di setiap netra.


"Apa yang kau lakukan?"


"Kau butuh donasi Cinta?"


"Kenapa tidak aku saja yang kau peluk, Senior?"


Yang terakhir, awas seseorang tidak akan bisa membiarkanmu berkeliaran bebas. Lu wei tidak mempedulikan itu, dia tetap fokus. Pipinya tertekan salah satu pohon mengakibatkan kata yang keluar tidak terlalu jelas. Jelasnya dia berkata, "Kalian ingin lolos dan keluar, kan? Maka lakukan ini!"

__ADS_1


Raut dungu terpasang di beberapa wajah, tapi kaki tetap saja mengikuti arahan dan melangkah. Tubuh di sandarkan, tangan dikalungkan, kaki di lingkarkan, dan jari yang membuat gelitikan.


Awalnya hanya Lu wei jadi Pohon LaknatCinta tidak terlalu bermasalah, tapi kini lebih dari satu lusin anak manusia tengah mengelitikinya dengan manis! Uhh, betapa menggemaskannya, membuat Pohon LaknatCinta itu terlihat ingin meremas semua jantung mereka.


Awalnya tawa yang menjadi wujud reaksi Pohon LaknatCinta, tapi dari detik demi detik tawa itu berubah, bercampur emosi marah. "Hentikan ... Sudahlah! ... Ahh, tolonglah ... Sialan hentikan ... Hey! Ahahahah, hentikan ...."


"... Bangsaaaatt!!! Dasar kasar! Semuanya kasar! Dibilang berhenti malah tambah melunjak! Dasar nakal! Nakal! Nakal!"


"Ahahaha ... Wahahahahah ...."


"Hahh ... Bhahahahaha, tuman! Tuman! Kubilang berhenti! Wahahaha ...."


Tawanya menular, kini bukan hanya Pohon LaknatCinta yang tertawa. Sebagian besar murid sudah ikut terkikik. Tawa semakin banyak, semakin besar, dan semakin menjengkelkan. Bagi Pohon Cinta tentu saja.


Tawa terakhir sebelum semuanya berakhir.


Tawanya menular, kini bukan hanya Pohon LaknatCinta yang tertawa. Sebagian besar murid sudah ikut terkikik. Tawa semakin banyak, semakin besar, dan semakin menjengkelkan. Bagi Pohon Cinta tentu saja.

__ADS_1


Tawa terakhir sebelum semuanya berakhir.


__ADS_2